Cerpen Minggu ini: Luka

KAU, entahlah. Aku merasa kau begitu memprihatinkan. Sangat amat. Kau seperti hidup sebatang kara

Cerpen Minggu ini: Luka
Net
Ilustrasi

Cerpen Diana D Timoria

KAU, entahlah. Aku merasa kau begitu memprihatinkan. Sangat amat. Kau seperti hidup sebatang kara. Kini tidak ada pilihan yang harus kau pilih kecuali menerima akibat pilihanmu dulu. Kau hanya perlu menjalani apa yang tersisa dari hal yang kau sebut harapan dan cinta. Yang dulu begitu kau agungkan. Kebanggaan tiada tara kau pertontonkan dalam senyum ceriamu saat namamu yang bersanding dengan namanya menduduki tempat termanis di lidah kami. Para perempuan yang haus gosip. Para sahabatmu yang ingin melihat kau bahagia. Tapi mengapa harus kau yang terluka? Itu tidak adil, benarkan?

Kau seperti sajak tanpa judul, bahkan sajak itu belum usai. Tak bernama dan tak berakhir. Tapi ada isinya. Seonggok kebohongan yang baru kau sadari sekarang. Sajakmu ganjil. Terlalu indah untuk sebuah kisah, kata-katamu aduhai, seolah tak pernah ada cacat dalam kata. Semuanya sempurna. Tapi sayang, kau lupa sesuatu. Kau lupa ada yang namanya kebohongan. Sebuah kata yang kini kau caci maki dalam hati dan pikiranmu. Yang kini membuat kau seperti orang bodoh yang lupa bagaimana merasakan keindahan itu sendiri.

Puisimu hambar. Padahal sudah kau ramu dengan segala rasa yang kau miliki. Hingga saat kau kecap hanya terasa cinta yang manis dan gurih. Lalu ketika senja menua, kau merasa ada yang kurang. Ketika ingin melengkapi bumbu cintamu, tiba-tiba saja kau merasa aneh dengan menu cintamu. Ada yang salah, seperti tak sesuai moment.

Kau sedang menulis sajakmu ketika sang tokoh utama sajakmu menyakitimu. Kau begitu terpukul. Terhempas terlalu jauh dan hancur berkeping-keping. Terbanting keras di jalanan dan melata penuh penuh belas kasihan. Hingga kau kehilangan kata. Kau merasa sedang menuliskan sebentuk kebohongan besar. Dan kini dengan segala kemampuan yang kau miliki kau sedang menikmati sajakmu sendiri bersama rima dan intonasi menyedihkan. Dalam keheningan malam kau membaca puisi karanganmu. Kau nikmati kata-katamu sendiri yang sarat kebohongan, yang kau tulis dengan rasa paling jujur yag pernah kau miliki.

Betapa menyedihkan rupamu yang bermandikan air mata. Dalam kegelapan tergelap sekalipun aku masih bisa merasakan kesedihan yang kau sembunyikan. Getar-getar suaramu terdengar jelas, membawa kesedihan yang kau rasakan. Bahkan dalam sepi malam sekalipun, tangismu tetap riuh.

Hei, kini kau seperti lembaran kertas yang terbang entah kemana. Hujan akan membasahi kisahmu di lembaran itu, yang lalu akan hancur dan sajakmu jadi tak berbentuk. Mentari akan membakarnya, menjadikannya puing-puing gosong yang tak lagi terbaca. Hanya hitam yang ada. Seperti pekat malam ini. Tak ada bintang di langit kita. Sempatkah kau menengadah?

Lalu, tak inginkah kau mendarat? Di tanah? Di pepohonan? Di taman? Takutkah kau tak ada tempat untukmu? Atau masihkah kebohongan itu menyingkirkan keyakinan yang dulu pernah ada?

"Kak, aku harus bagaimana?" begitu tanyamu ditengah gelap meraja bumi, semoga hatimu tidak di rajai gelap.

"Kau benci mereka?"
"Tidak, entahlah, yang kusesalkan kenapa baru sekarang? Saat aku yang maju, bukankah dulu cewek itu sudah pernah mundur saat menolak untuk menerima cintanya? Mengapa saat aku belajar untuk melangkah dia malah menuntunku ke jalan buntu? Seharusnya dia tahu tujuanku, ataukah dia yang buta? Aku menjauhi cinta lain yang datang padaku hanya untuk menuju padanya."

Halaman
123
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help