Ada Kisah di Taman Kantor Gubernur

Serempak kami pun tertawa. Sebuah perkenalan singkat namun menyita hampir seluruh perhatianku.

Ada Kisah di Taman Kantor Gubernur
Net
Ilustrasi

"Maaf, Anda suaminya?" tegur seorang perawat. Belum sempat kujawab pertanyaannya, ia menyodorkanku sebuah amplop putih tanpa tercantum di atasnya alamat, untuk siapa ditujukan. Kuraih amplop itu penuh tanda tanya. Setahuku, Kinasih tidak pernah menuliskanku pesan apalagi sepucuk surat. Itu bukan kebiasaannya.

Kulipat amplop itu dalam saku baju, setelah terdengar panggilan susulan dari kamar UGD.

"Maaf, Pak. Kami tidak sanggup berbuat banyak dalam situasi ini. Selain mengambil sebuah keputusan di antara sekian banyak pilihan," ucapsalah seorang dokter sambil menepuk bahuku.
Lanjutnya,"Isterimu mengalami pendarahan hebat. Syukurlah, bayinya berhasil diselamatkan."

IV
Begitu lama sudah aku terpaku di makam sambil menangis. Baru kali ini, aku terisak sejadi-jadinya. Terpukul. Kata itu memang tepat untuk menggambarkan kondisi batinku saat ini. Kucoba mengeluarkan amplop pemberian Kinasih dan menyelami coretan yang tertera.
Sebuah pesan singkat:

    "Heri yang terkasih...
    Ketika matahari terbenam
    Dan aku resmi pergi dari sisimu,
    Namailah anakku itu: KinASIH".

Yang Mengasihimu
KinASIH

 "Kinasih, di tempat ini pula engkau mengubur hatiku. Maafkan perbuatan keji ayahku," ujarku setengah mendesis sebelum beranjak pergi. Mungkin tak lagi kembali.

V
Belum sempat kuteguk habis segelas kopi, smartphoneku terdengar meringis. Kinasih memanggil. Gadis manis yang hari ini genap berusia 17 tahun.
"Ayah lagi apa?" serunya berat persis sedang terisak.
"Lagi di kantor. Minggu depan baru kembali. Kamu menangis?"
"Tidak. Hanya pilek. Mungkin karena semalam menemani kakek jalan-jalan."
"Jalan ke mana?"
"Ke makam ibu."

Nurabelen, Juli 2013.

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help