Ada Kisah di Taman Kantor Gubernur

Serempak kami pun tertawa. Sebuah perkenalan singkat namun menyita hampir seluruh perhatianku.

Ada Kisah di Taman Kantor Gubernur
Net
Ilustrasi

Di setiap perjumpaan dan pertautan, sulit kuelak bahwa perlahan tumbuh perasaan gatal di hati yang sulit kugaruk. Caranya tersenyum, antusiasme mendengarkanku berbicara, gaya berpikir yang cerdas, dan tertawanya yang lapang, sungguh menggagalkan kantuk menjelang lelap. Aku jatuh cinta padanya. Sekarang, ketika aku berkisah pun cinta itu tak lekang sedikit pun. Hanya satu kebodohanku: Aku tak punya keberanian yang cukup untuk menggetarkan pita suara dan mengutarakannya. Aku hanya ingin tahu, apakah cinta ini hanya sebatas durasi empat, lima menit lalu mati tanpa beri arti. Ataukah sekali mati lalu seutuhnya penuh arti.

II
Ternyata benar. Semakin tinggi status sosial, semakin Anda merasa sendirian. Terasing.
Itulah yang kualami saat ini. Kalian mungkin prihatin, simpatik, bahkan tertawa ketika mendengarkannya. Tetapi tak apalah. Aku telah terbiasa menikmatinya.
Sore itu, kuhempaskan keletihan pada seberkas senja di tempat biasa. Sebuah taman di mana kami biasa bertemu. Menceritakan kelelahan dan sukacita selama bergelut dalam dunia kerja. Sesekali saling menatap dalam diam. Tersenyum. Lalu pulang.

Sebuah kebiasaan aneh dan telah menjadi rutinitas yang wajib. Herannya, aku sangat menikmati keanehan tersebut dengan hati berciprak gemilang.
Tepat pada bulan Juli, ketika propinsi kami disibukkan dengan perlehatan akbar menjelang pelantikan pemimpin daerah, kami berjanji untuk kembali bertemu seperti yang sudah-sudah.

Taman itu masih kelihatan sepi. Di bawah cahaya remang-remang lampu jalanan, kudapati Kinasih duduk sambil menangis sendirian. Ketika melihatku mendekat, tergesa diusap lelehan di pipinya.
"Kenapa datangnya lama?" gerutunya setengah manja sambil mencubit-cubit pipiku.

"Benar-benar gadis yang aneh," gerutuku dalam hati. Bagaimana mungkin ia sanggup menangis dan tertawa dalam satu situasi.
"Maaf Kin. Ada sedikit kemacetan di jalan," ucapku enteng setelah tersadar dari lamunan. "Setahuku, tadi kamu sedang menangis kan?" lanjutku penasaran.
"Tidak. Aku hanya pilek."

Kinasih terdiam. Ditatapnya tembok gedung yang berjejer beku. Tak sepatah kata pun terlontar dari bibirnya selain kedipan mata yang kian lama bertambah cepat. Ia menangis sungguhan.

"Ceritakan padaku, apa yang telah terjadi denganmu?" pintaku memelas. "Aku ingin menangis bersamamu."

Ia menatapku tajam. Memastikan kesungguhan niatku untuk sejenak tenggelam dalam hatinya. Aku kewalahan karena tak terbiasa melihat wanita menangis sepilu ini. Ketika air yang terbendung begitu lama di balik kelopak mataku tercurah, Kinasih tersenyum dan bibirnya gemetar hebat sebelum mengeja kalimat yang tak pernah kuduga,
"Aku hamil."

III
Pagi-pagi sekali, terdengar sebuah teriakan lewat pengeras suara, "Selamatkan berkas-berkas penting, dan angkut semampu kalian."  Dalam kekalutan dan diliputi rasa panik yang luar biasa, kuraih beberapa dokumen penting yang akhirnya kemudian kutinggalkan, setelah menatap sosok wanita yang tergeletak di lantai. Tepat di bawah meja kerja Kinasih. Segera kurenggup gadis itu dalam rangkulan dan memapahnya ke luar gedung.

Kobaran api menjalar dengan begitu cepat membuat berbagai pihak kelihatan begitu sibuk. Ada yang sibuk memadamkan api, sibuk menganalisis sumber munculnya kebakaran, sibuk menertibkan massa yang tumpah ruah di halaman, dan beragam kesibukan lainnya. Aku sendiri sibuk melarikan Kinasih menuju rumah sakit terdekat.

Halaman
123
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved