PUISI-PUISI MARGARETH FEBHY IRENE

Dari pintu ke pintu Ku tenteng map biru berisi kertas-kertas putih Pakaianku rapi berdasi lengkap terlihat elegan

Jika masih sekadar titik-titik kecil
Ingatkan aku dan kamu pada sesuatu
Bukan hanya satu atau dua
Seperti salah satu ciri sebuah ukuran

Pertama sekadar gerimis-gerimis rindu
Membasahi alam mandikan semua kelana
Tersentak jangan biarkan siapapun diam
Tanyakan apapun yang tersimpan melembah
Adakah jawaban gentar gentarkan hati

Jika jiwa mulai risau jangan isak yang kau uraikan
Jika imanmu tak kuasa melindungi
Janganlah putus asa yang jadi pemimpin
Jangan sampai terlena dalam kelemahan
Arus besar kan menguasi tubuh

Isyaratpun  datang memberi satu dua maksud
Namun masih ada yang tak mengerti
Mintahlah memohon untuk tak lama
Cukuplah sekedar basahi tanah yang kering
Jangan sampai menjadikan
bumi kolam air langit dan membanjir.

Kenapa Ayah

Begitu mudah ia tahu
Ketika kening berkerut gambaran pikirku
Aku tersenyum diluar batinku
Namun ada lain kata dalam hatiku
Aku takut ayah
Khayal ini ku bawa jauh ke nuansa biru
Cerita tentang hari yang penuh canda
Namun ia tetap akan tahu
Lamunan patungan mampu ia pecahkan
Mengapa ayah? aku tiadak tahu
Masih tak tahu, bahkan sama sekali
Ayah, bukalah episode kita kemarin
Memoriku belum penuh akan di kau
Gambaran wajahmu ada padanya
Kenapa ayah?
Kenapa harus dirinya, dirinya belum tahu
Fokusku hilang terbawa debu yang menyapu
Di balik dataran putih ada hempasan yang lekat
Kenapa lagi ayah?
Jauh, begitu jauh aku mau katakan salah
Aku lamunkan rautan bening
Rindu putrimu ini milikmu ayah, selamanya.

Sebuah Ruang

Bayang terlintas pada papan tak berwarna
Mengisi kekosongan pada ruang yang hampa
Berjalan di depan panggung kecil benyubin
Tanpa layar tanpa latar
Langkah itu melemah sekejap derapan
Ada yang berpindah tempat
Oh aku salah bukan perpindahan dirinya
Sekedar menarik sebuah kursi berisik
Di samping kiri ada beberapa suara
Obrolan yang pasti menukar semua pendapat
Di sudut lain ada yang tertawa menggempar
Tanpa ragu ataupun malu keluarkan bisingan
Beberapa uang yang kusam terlihat begitu penuh
Tetapi tidak merapikanya, menghitungpun sudah
Sebuah laporan ditanya sang kawan
Kotak-kotak kuning bercampur coklat
Kusuka dikenakanya, terlihat manis  menawan
Canda lain dari coretan dinding
Semua kata masih teringat sama
Ada yang dimengerti ada pun yang tidak mengerti
Suasana menunggu, dalam sebuah  ruangan kelas
Bukanlah masih baru, tapi lama sejak dahulu.

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help