Cerpen Djho Izmail: Mata

COBA sekarang engkau bayangkan bahwa dirimu adalah mata. Dengan tubuh yang bulat, agak oval ataupun benar

Cerpen Djho Izmail: Mata
Net
Ilustrasi 

Eh, engkau kaget ketika tuanmuu menengadahkan kepalanya ke atas. Ke langit. Ah, betapa takjubnya engkau. Dirimu melihat hamparan nyala yang kecil-kecil, semacam nyala pelita yang diletakan begitu saja beribu-ribu dilangit. Itu seperti taburan sinar. Sungguh indah kawan. Dan ada satu lagi yang lebih besar bersinar.

Tapi tidak sebesar benda yang menggantung siang hari yang menghasilkan panas itu. Walau kau tak bertanya tuanmu tetap menyebutnya sebagai bintang, yang sinarnya lebih kecil dan banyak itu. Bulan, yang sinarnya lebih besar di malam hari dan matahari adalah yang bersinar di siang hari.

Beberapa hari belakangan ini, setelah engkau sering melihat keindahan, engkau layu. Memilih beristirahat untuk membuka kelopakmu. Engkau terdiam, tertutup dan benar-benar istirahat. Istirahatmu memang tak berlangsung lama. Kau harus menjalankan lagi tugasmu, untuk membuka, memberikan gambar pada tuanmu dan tuanmu merasakan semuanya. Suka duka. Bahagia derita. Semua positif dan negatif dunia, engkau tahu.

Kawan pasti kaget. Engkau berucap hendak memaksa untuk didengar cerita barumu ini. Pernah suatu kali, engkau diajak jalan-jalan di sebuah gedung yang sangat megah. Di dalamnya berbagai jenis barang dan manusia. Gedung itu bertingkat. Sangat tinggi, sehingga untuk mencapai lantai berikutnya semua orang harus menggunakan sebuah ruangan kecil. Di ruangan itu kalian dengan sendirinya terangkat bersama ruangan. Kalian tinggal menekan tombol yang ingin dituju, otomatis kalian akan sampai di lantai sesuai dengan tombol itu.

Wah, dengan keadaan yang begitu ramai. Hiruk pikuk manusia. Senyum sana senyum sini. Menawarkan barang yang ada di hadapannya. Bahkan di antara mereka harus berpakaian super mini. Wajah mereka dipoles dengan benda yang kuketahui namanya kosmetik. Sungguh sangat menor.

Sebuah bentuk pengeksploitasian bentuk tubuh tertentu untuk menjadikan barang yang dipromosikan laku keras. Laris. Manusia sungguh menjadi gila. Mengatasnamakan uang dengan tidak mementingkan harga diri lagi. Uang adalah benda dengan harga termahal sekarang. Bukan tubuh yang merupakan ciptaan terindah.

Anehnya lagi, ketika tuanmu membawamu ke suatu tempat yang sangat dipenuhi hingar bingar dengan musik keras dan lampu warna-warni. Di sana kau dapati perempuan dan laki-laki menggoyangkan tubuh mereka sesuai irama musik. Mereka sungguh tak menyayangi tubuh mereka. Berbagai minuman yang memabukan dan dapat merusak organ dalam tubuh diseruput sampai habis.

Batangan kecil silinder juga mereka bakar dan isap. Mengepulkan asap ke sembarang arah. Padahal ada orang lain sungguh hidup dengan memiliki satu ginjal. Sebelah paru-paru yang penyok dan berbagai gangguan organ dalam tubuh lainnya. Mereka sangat menderita, tetapi yang lain yang sehat tak pernah belajar dari hal itu.

Coba saja mereka baca dan bayangkan. Pada sebuah artikel kesehatan, terdapat sebuah penelitian yang menyatakan bahwa asap rokok itu sangat berbahaya. Dalam waktu tujuh detik saja asap rokok akan sampai ke otak manusia. Asap yang dibawa darah itu bisa meracuni otak. Seandainya otak kotor, otomatis pikiran mereka menjadi kacau. Dan kesemuanya ini tak pernah dihiraukan manusia.

Manusia lebih memilih hidup serba instan dan menyenangkan. Mereka tak mau hidup susah. Katanya dengan begitu adalah sebuah kebahagiaan. Menikmati hidup. Di jalanan banyak orang yang sungguh memprihatinkan. Pengemis, pemulung, tunawiswa dan berbagai jenis orang terpinggir lainnya. Orang yang tak diperhitungkan di masyarakat. (mereka akan diperhitungkan setelah pada masa kampanye) diantara manusia yang bergelimpang harta itu, tak ada yang sedikit melirik untuk membantu.

Halaman
123
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved