Cerpen Djho Izmail: Mata

COBA sekarang engkau bayangkan bahwa dirimu adalah mata. Dengan tubuh yang bulat, agak oval ataupun benar

Cerpen Djho Izmail: Mata
Net
Ilustrasi 

COBA sekarang engkau bayangkan bahwa dirimu adalah mata. Dengan tubuh yang bulat, agak oval ataupun benar bundar itu engkau melihat semuanya. Warnamu kadang berubah-ubah. Hitam. Coklat. Biru. Sesuai dengan ras tempat kalian berada. Berdasarkan ras. Dan satu lagi warnamu. Merah. Karena engkau mengalami gangguan kesehatan. Tubuhmu tidak fit. Kadang juga karena terlalu mengantuk. Ada yang lebih parah lagi. Karena tak pernah tidur. Meminum minuman keras. Terselip benda asing yang menyentuh tubuhmu.

Kamu adalah sesuatu yang memberikan kaum manusia keindahan. manusia bisa tahu warna, sesuatu yang baik dan buruk. Yang rusak dan baik. Yang indah maupun yang jelek. Engkaulah yang memberikan orang-orang itu arti lewat penglihatanmu. Manusia menjadi begitu sangat bahagia karena bisa tahu semuanya karena kamu. Mereka bahkan bisa menghindar dan tak menolak karena kamu memberikan sesuatu untuk dipandang dan setelahnya mereka yang membuat pilihan.

Kamu pasti akan membayangkan. Kala itu sore hari. Engkau dibawa tuanmu ke suatu tempat yang sungguh dikatakan indah oleh manusia kebanyakan. Engkau berada di atas pegunungan. Engkau dengan leluasanya melihat sekeliling. Ada pepohonan yang hijau. Daun mereka berayun-ayun seolah melambaikan tangan mereka dengan diiringi lagu alam yang romantis. Sesekali angin dengan nakalnya keluar masuk. Menerpa tubuhmu, tapi engkau tak marah karena engkau merasa sejuk. Enak benar disuguhi keadaan seperti ini.

Pernah suatu kali ketika engkau dibawa tuanmu ke suatu tempat. Ada pasir yang sungguh sangat indah. Berwarna putih. Kau lihat ada air yang sangat nakal. Air-air itu menggulung-gulungkan tubuhnya. Mereka nampaknya saling mengejar. Sesampainya di pantai mereka lalu menghempaskan tubuh mereka ke atas pasir.

Setelah itu mereka kembali ke kumpulan mereka, yang sangat banyak. Mereka terus melakukan hal yang sama tak henti. Setelahnya engkau baru tahu, terdengar orang mengatakan kalau air itu adalah laut dan yang saling mengejar itu dinamakan ombak. Kalian sungguh sangat asyik. Terus menikmati permainan yang sama tanpa rasa bosan. Engkau tersenyum ke laut.

Dan engkaupun diajak pulang oleh tuanmu. Sebenarnya engkau tidak diajak pulang. Engkau hanya dibawa saja. Menuju kemanapun tanpa ada persetujuan darimu. Padahal aku yakin, engkau masih asyik melihat semua orang. Mereka asyik bermain pasir. Bermain air laut dengan ombaknya. Ada yang sangat mengumbar. Perempuan-perempuan hanya memakai segitiga di atas paha mereka.

Sedangkan dadanya seolah seperti engkau juga. Di dada mereka ada kaca mata. Beragam warna, jenis dan bentuk. Tetapi ada orang yang di samping tuanmu berkata, itu sangat mengumbar. Mengumpan nafsu lelaki yang melihatnya. Bahkan ada yang lain lagi. Manusia berpasangan saling berpagutan. Mereka menyetuhkan kedua mulut mereka satu sama lain. Entah mereka bermaksud untuk apa? Bersalaman atau apalah di tempat umum seperti ini.

Engkau lalu benar-benar dibawa pulang oleh tuanmu. Di tengah perjalanan yang sudah agak sore itu, kalian harus mampir di emperan toko pinggir jalan karena air tadi tiba-tiba jatuh satu-satu dari langit. Waktu itu matahari masih berbinar sipit. Hal lainpun nampak. Engkau kemudian bisa melihat dengan jelas sesuatu di langit. Ada bayangan melengkung. Warnanya bervariatif. Ada merah. Jingga. Kuning. Hijau. Biru. Nila. Ungu. Warna yang bercampur yang menggantung dilangit itu, oleh tuanmu menamakannya pelangi. Indah. Sangat indah kawan.

Seorang perempuan dengan mesranya mengapiti lengan lelaki di sampingnya. Ia sangat takjub dengan warna yang menggantung di langit itu. Padahal warna itu perlahan pudar. Entah siapa yang berani ke atas sana menebarkan warna yang membuat manusia mengalihkan perhatian mereka sejenak itu. Warna yang seolah menyihir kau sehingga memaksa manusia untuk harus melihatnya. Kali ini tuan patuh kepada kepunyaannya. Padahal biasanya tuan cuek. Selalu memaksakan kehendaknya. Membawa kepunyaannya ke mana saja tanpa peduli kepunyaannya tak menyukainya.

Kawan, ternyata sekarang hari sudah berubah tadinya engkau bisa melihat apapun walaupun sepintas. Sekarang aku sarankan engkau harus berubah. Menatap lekat betul baru bisa tergambar sesuatu. Ternyata sekarang ada hitam yang nampak. Gelap. Hari sudah malam. Tuanmu, perlahan keluar dari rumahnya. Ia memilih duduk diteras. Membiarkanmu melihat lalu lalang orang yang melintas di jalan depan rumahnya. Tuanmu sungguh memaksamu untuk beradaptasi di kegelapan itu.

Halaman
123
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help