Cerpen Mezra E Pellondou: Makhpela

AKU berada di dalam gua Makhpela. Di luar, terhampar sebuah ladang yang teramat luas milik Efron orang Het

Orang  Het yang rendah hati dan teramat sederhana itu mengangguk dengan ketulusan yang terpancara dari sepasang matanya yang bersinar.
"Ambilah gua Makhpela beserta ladangnya dan kuburkanlah isterimu yang telah mati itu di sini" kata lelaki Het itu.

Lelaki bernama Abraham itu terlihat membungkuk dan dari tangannya sendiri menyodorkan uang untuk membayar gua orang Het tersebut.

" Terimalah empat ratus syikal perak ini sebagai  pengganti gua Makhpela dan ladangmu ini"

Setelah membayar pada lelaki Het itu,  Abraham tergesa-gesa keluar dari ladang luas itu dan segera menemuia iring-iringannya yang berada di balik  bukit di kejauhan  sana. Rupanya mereka adalah iring-iringan pembawa jenasah isterinya, mereka sebuah keluarga yang sangat besar.

Aku menggigil. Kurasakan tanah tempatku berpijak bergetar. Aku harus kembali ke rumah sakit tempat isteriku berada. Tapi bagaimana aku harus kembali jika kedatanganku ke gua ini saja aku tidak tahu arahnya. Aku mencoba meyibak beberapa dahan pohon Hawari dan menembus beberapa bebatuan dan kutemukan jalan lurus berbatu. Akan kuikuti saja jalan ini sampai aku dapat menemukan orang-orang yang bisa kuajukan pertanyaan.
Benar aku menemukan seseorang. Wajahnya kusam dan kuyu.

"Dimanakah rumah sakit Elisabeth?"
Orang itu menggeleng dan menatapku bingung. Aku pun melanjutkan perjalanan. Aku berjalan lurus mengikuti jalan berbatu ini. "Kamu tahu tidak, hai orang asing jalan itu mebawamu ke Mesir"
"Mesir?"

Langkahku berhenti. Aku menatap orang itu dari kejauhan.
"Ya jika engaku berjalan selama satu bulan maka engkau akan sampai ke Mesir lewat jalan ini"

"Aku hanya mencari rumah sakit Elisabeth.  Isteriku kutingalkan terkapar di sana"
"Ya, sebaiknya pulanglah menemui isterimu di rumah sakit"
Aku berbalik. Dan kali ini aku telah berada di depannya. Kami  berhadapan muka"

"Minumlah, sepertinya anda haus sekali"
Lelaki itu menyodorkan tempayannya. Aku meminumnya. Lelaki itu mengeluarkan sekerat roti dan sebuah ikan. "Makanlah, setelah itu lanjutkan perjalananmu"
"Terimkasih" kataku memegang roti dan ikan. Aku mulai memakannya setelah selesai minum.

" Kamu akan segera  mati oleh penyakit sampar jika kamu terus berjalan ke  Mesir"
"Kamu seorang musafir?" lelaki itu bertanya sambil mengajakku duduk pada sebuah pohon ara dengan daunnya yang rimbun.

"Perkenalkan namaku...
Saat aku hendak menyebutkan namaku, aku menjadi sangat lupa. Aku tidak tahu siapa namaku, apalagi nama isteriku"

"Hm..namaku..aku..
Lelaki itu tersipu melihat  diriku, namun seakan dirinya maklum dengan apa yang terjadi atas diriku.

"Ah, sudahlah. Kita tidak perlu menyebut nama, yang penting kita telah saling bertemu di sini dan bercakap-cakap"
Aku memijat-mijat kepalaku yang terasa sakit. Lelaki itu memperhatikannku dan tidak bertanya apa apa- kecuali memperkenalkan keberadaannya.

"Aku bekerja di pengirikan Arauna"
"Pengirikan Arauna? Aku belum pernah mendengarnya"
Lelaki itu kembali tertawa. Hampir tidak percaya.

"Arauna, orang Yabes"
Kembali aku mengerinyitkan  dahi.

"Jika dijinkan, aku ingin ke tempatmu"
"Aku cuma seorang bujang upahan yang tidak bisa memberimu keputusan. Aku tidak bisa mengatakan ya atau pun tidak. Aku sedang ditugaskan tuanku untuk menunggu seseorang"

Belum sempat aku bertanya tiba-tiba lelaki itu berbisik.
"Orang yang ku tunggu sudah datang"

Aku pun menyingkir. Menepi pada rimbunan semak.  Sebuah rombongan berkuda, dengan pasukan yang lengkap. Tetapi mereka tidak sedang perang. Terasa sekali mereka memacu kuda mereka dengan ketenangan yang amat terkendali. Di depannya seorang lelaki dengan rambut ikal, bersih kulitnya, mata bersinar serta kulitnya kemerah-merahannya. Bibirnya indah seperti bibir seorang gadis belia yang baru puber.

Aku mengikuti iring-iringan tersebut dari kejauhan. Kami tiba.
Lelaki tampan itu turun dari kudanya, dan saat itulah aku baru tahu kalau itu adalah tempat pengirikan Arauna.

"Arauna orang Yabers. Allah menyertaimu"
"Allah juga menyertai dan menuntunmu Tuan. Siapakah aku ini sehingga Tuan datang  ke pengirikanku ini?

"Sejak semalam malaikat Tuhan berada di atas pengirikanmu ini, Tuan Yabes. Dan atas seijin Tuhan, Malaikat itu mengancungkan tangan untuk membasmi bangsaku karena kedegilannya. Berbagai tulah telah dilimpahkan, dan terakhir  tujuh puluh ribun orang telah mati terkena penyakit sampar"

"Sudilah tuan lakukan pada aku dan keluargaku?"
"Aku mendengar nasehat Gad, hamba Allah maka aku datang kemari"

"Tuanku Daud..apa yang harus aku lakukan?"     
Sampai di situ tubuhku semakin gemetar. Rupanya benar, aku sedang melihat seorang nabi besar bernama Daud. Oh, Tuhan, sungguhkah ini sebuah kenyataan? Aku menahan nafasku sehingga aku mampu bertahan. Aku tidak ingin seorang pun tahu kalau aku berada di sini menyaksikan peristiwa hebat ini.

" Ijinkanlah aku membeli tempat pengirikianmu ini, Arauna.  Akan kubangun mezbah untuk kupersembahkan kurban bakaran kepada Tuhan di atas mezbah "
"Lakukanlah sesuai dengan kehendak Allah"

Hanya dalam hitungan detik, Daud telah berhasil membangun sebuah mezbah kokoh di tengah-tengah pengirikan Arauna tersebut. Tidak henti-hentinya Daud berdoa dan memohon agar semua tulah yang ditimpakan Allah pada bangsanya dihentikan. Bau korban bakaran yang dipersembahkan Daud menembus hidungku..dan tanpa sadar mulutku ikut berkomat-kamit menaikan doa atas kesembuhan isteriku. Aku berteriak menyebut nama Tuhan dengan sangat lantang, sehingga tanpa sadar aku terkapar ke tanah. Aku terkejut  ketika ubin lantai rumah sakit Elisabeth telah menusuk tulang punggungku, serta seluruh tubuhku gemetar saking dinginnya ubin rumah sakit yang kujadikan tempat tidurku sepanjang malam, menunggui isteriku yang sekarat.

Lamat-lamat aku mendengar suara isteriku. Aku tidak percaya.  Dengan sisa-sisa tenagaku akibat terkuras dinginnya ubin, aku mencoba bangkit. Aku berhasil bangun. Kudapati isteriku sedang bercakap dengan seorang  nenek. Isteriku begitu cantik. Begitu segar.

"Dan di tempat pengirikan Arauna itu juga bait suci kemudian didirikan oleh Salomo seperti yang telah ditetapkan Daud" kata nenek itu kepada isteriku ketika aku telah benar-benar duduk di sisi ranjang tempat isteriku sekarang sedang  duduk.  Di pangkuannya, kitab suci masih terbuka, di sampingnya sang nenek pemulung sampah itu masih setia menjaga.  Sebelumnya, bertahun-tahun isteriku berbaring terlalu lama . Wajahnya selalu terlihat  teramat pucat dan tidak berdaya, sehingga keheranan ini sulit kuterima sebagai sebuah kenyataan.

"Apakah aku sedang bermimpi? kamu benar isteriku? kamu telah sembuh?"
"Peluk aku Papa.  Ini aku. Isterimu"

Aku memeluk isteriku sambil mencubit sekujur tubuhku meyakinkan bahwa aku sedang tidak bermimpi.

"Tuhan telah menyembuhkan aku sama dahsyatnya seperti Tuhan mencabut tulah-tulah yang menimpa  Israel karena doa seorang Daud"
Isteriku berbicara sambil menatap sang nenek pemulung yang terus saja  memangku sebuah kitab suci yang masih terbuka. Aku menjadi sangat malu.

Kupandangi gordin rumah sakit. Matahari hendak menyelusup masuk. Aku menyibak gordin dan jelas kulihat wajah segar isteriku bersama nenek tadi melanjutkan pembacaan Alkitab  yang berada di pangkuan mereka.

Memandang pagi dan sinar matahari aku baru percaya bahwa isteriku telah sembuh dan ini sebuah kenyataan. "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkkan kekuatannya sendiri, dan hatinya menjauh dari Tuhan. Diberkatinya lah orang-orang yang mengandalkan Tuhan yang  menaruh harapannya pada Tuhan " Suara isteriku begitu lantang. Saat kupalingkan wajahku pada isteriku, kitab Yeremia pasal ketujuh belas masih terus dibacanya sambil dituntun sang nenek pemulung tadi.* 

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved