Cerpen Mezra E Pellondou: Makhpela

AKU berada di dalam gua Makhpela. Di luar, terhampar sebuah ladang yang teramat luas milik Efron orang Het

"Bukankah kamu pemilik ramuan itu? mengapa aku harus meminta ijin pada seorang anak lelaki gembel? Jika kalian membutuhkan uang, aku bisa memberikan berapa pun yang kalian minta.  Jika obat harus dibeli dengan mahal, aku akan memberikan berapapun tanpa perlu menawar sesuai harga obat yang kalian katakan. Mengapa harus meminta ijin pada hamba tersebut?

Nenek itu menangis.  Aku memperlambat langkahku. Aku menatapnya lama sekali.
"Maafkan aku. Hanya satu yang ada dalam pikiranku, isteriku harus sembuh. Dan mungkin gara-gara itu aku telah melukai perasaanmu. Jika engkau ingin menyembuhkan isteriku berikanlah obatmu sekarang, aku akan membayarnya dan isteriku akan sembuh"

Nenek itu menggelengkan kepala. "Kami tidak menjualnya. Saya sangat ingin memberikannya padamu, namun syaratnya cuma satu, kamu harus bertemu cucuku dan mohon ijin padanya. Cuma itu tuan"

Aku marah. Aku menyeberang jalan dengan pikiran yang kacau. Bunyi tabrakan telah menjulurkan lidahku keluar. Aku memekik hebat. Tubuhku terkapar. Tidak percaya aku berada di bawah mobil pengangkut sampah. Dan, oh Tuhan, kenapa aku telah berada di gua ini?

Aku keluar dari gua Makhpela ini ketika aku mendengar dua orang sedang bercakap.     "Tuan, saya membutuhkan sebuah tempat untuk menguburkan isteri saya"

"Saya turut berdukacita atas kematian isterimu"
 "Ya, Allah telah memberikannku seorang anak yang dilahirkan isteriku di usianya yang sangat tua. Sekarang dia telah meninggal dan saya membutuhkan tempat untuk menguburkannya"

"Isterimu mati karena melahirkan?" orang itu menatap lelaki  yang mendatangi gua miliknya itu. Lama diamatinya, tiba-tiba dengan tertawa berderai, suara yang ramah, serta badan membungkuk hormat lelaki itu berkata "Bukankah engkau Abraham? Semua orang mengenalmu sebagai  seorang nabi Allah"
"Walau demikian, aku membutuhkanmu, tuan Efron orang Het. Aku seorang pendatang di tanah Het"

Lelaki bernama Abraham itu terlihat sangat tampan. Walau usianya telah usur, namun kegagahannya berjalan terlihat benar dia seorang yang tangguh dan percaya diri. Wajahnya bersinar, dan tatapannya pasti. Pakaiannya bagus, dan pasti dia sangat kaya.

Orang Het yang bernama Efron itu mengajaknya berkeliling memeriksa gua dan ladang. Aku tiba-tiba merasakan sekali tubuhku melayang dan aku berada dalam bayang-bayang pohon ara, dan rimbunan pohon terbantin dan damar hutan. Dari tempatku berada aku masih mendengar kedua orang itu bercakap, angin meniupkan suara mereka jelas di kedua  telingaku.

"Sekali lagi, aku mohon. Ijinkan lah aku membeli tempat ini untuk menguburkan isteriku"

Halaman
1234
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved