Cerpen Mezra E Pellondou: Makhpela

AKU berada di dalam gua Makhpela. Di luar, terhampar sebuah ladang yang teramat luas milik Efron orang Het

"Iya, trapi dari mana tuan tahu kalau isteri saya sedang sekarat dan membutuhkan pertolongan?

"Bukankah tadi tuan berlari keluar dari    rumah sakit ini, menuju ke sini dengan suara yang keras? Tuan telah menceritakan semua persoalan Tuan ini pada orang-orang di sini. Tuan telah putus asa seperti saya dulu juga demikian. Bahkan aku dengar Tuan telah mengatakan sumpah serapah pada semua rumah sakit dan para dokter di dunia.

"Katakan apa yang harus saya lakukan"
"Isteri Tuan hanya bisa ditolong dengan ramuan saya"
"Berapa pun  uang yang harus aku keluarkan akan kubayar jika nenek bersedia memberikan ramuan obat tersebut pada isteri saya" aku telah terpukau dengan cerita nenek tadi.

"Maaf kami tidak pernah menjual obat ini. Kami memberikannya gratis sebagai pernyataan kasih dan cinta yang tulus dari cucu saya karena kesembuhannya"
"Izinkan saya untuk mendapatkannya"

"Sekalipun saya yang meracik obat itu, namun tuan harus minta izin pada cucuku"
Nenek itu membawaku menemui cucunya. Dari hotel mewah tempatku menginap, aku menyelusuri jalan-jalan besar, masuk pada lorong-lorong dan gang-gang sempit, kumuh, becek dan bau. 

"Saya tidak sedang dipermainkan?"
Nenek itu menatapku.

"Tuan harus yakin. Cucuku sebentar lagi akan muncul"
"Di mana dia bekerja?"

"Dia seorang lelaki gelandangan. Tapi dia gelandangan yang memagari tembok-tembok kota ini dengan doa dan nyanyian "
"Dia pengemis?"

"Bukan. Dia seorang hamba"
"Dia pelayan restorant kumuh?"
"Dia Hamba Tuhan"

"Aku harus meminta ijin pada seorang hamba?"
Aku menangis membelah kemeriahan kota. Aku lelaki yang menangis. Aku rapuh. Aku berjalan, bahkan berlari tergesa-gesa menembus kepadatan kota untuk segera kutemui  isteriku yang terbaring lemah di rumah sakit ternama, terbaik,  dengan dokter terhebat yang tersedia di sana. Mengapa aku harus menemui seorang hamba untuk meminta ijin? meminta ijin soal apa?

Halaman
1234
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved