Cerpen Mezra E Pellondou: Makhpela

AKU berada di dalam gua Makhpela. Di luar, terhampar sebuah ladang yang teramat luas milik Efron orang Het

AKU berada di dalam gua Makhpela.  Di luar, terhampar  sebuah ladang yang teramat luas milik Efron orang Het. Aku duduk dalam gua sambil menangisi isteriku yang baru saja divonis mati karena sebuah penyakit telah bersarang di tubuhnya. Setahun terakhir ini, semua stok darah yang merujuk pada darah isteriku tidak tersedia pada kantong-kantong darah hampir semua rumah sakit di Indonesia. 

Sebenarnya, aku sudah hampir gila ketika  aku harus membopong isteriku keluar masuk rumah sakit ternama, terbaik, dengan dokter-dokter  terhebat  yang dimiliki rumah sakit rumah sakit tersebuit asalkan wanita yang sangat kucintai ini sembuh. 

Namun ketika seseorang kerabat dekat bersedia memberikan darah, ternyata satu  kantong darah segar yang  telah diambil dokter dari kerabatku itu mengandung HIV/AIDS. Seminggu kemudian, seorang kerabat lainnya bersedia memberikan darahnya dengan segenap hatinya, namun saat aku melihat wajahnya aku tidak sampai hati, wanita itu terlalu kurus dan pasti akan langsung meninggal jika darahnya harus kuambil untuk isteriku.

Aku menangis.   Aku meraung.  Aku orang  terkaya di negeri yang bernama Indonesia. Negara yang sangat kaya. Di negara ini, apa saja bisa kubeli dengan uangku.  Berjuta-juta kantong darah bisa kubeli. Namun hanya sekantong darah yang cocok dengan darah  isteriku aku sulit menemukannya.  Semua kantong darah di semua rumah sakit tidak satu pun yang cocok dengan darah isteriku. 

Aku membawa isteriku berobat ke luar negeri, London, Singapura, China. Sekarang aku menemukan begitu banyak kantong darah yang cocok dengan isteriku ketika kami  berada di Singapura dan China.

Sayangnya, ketika di China saat dokter hendak memberi tindakan medis,   isteriku diharuskan berpuasa,  sebelum dibedah. Isteriku harus disuntik sejenis obat sebelum dibedah. Ternyata semua obat  penting yang harusnya disuntikan ke tubuh isteriku membuatnya alergi. Dokter membatalkan tidak akan mengambil resiko menyuntikan obat-obatan tersebut pada isteriku.  Isteriku tidak  jadi dibedah. Penyakitnya semakin  parah, dan vonis dokter telah di jatuhkan. Hidup isteriku tinggal menghitung hari.

Saat aku berlari keluar dan hendak menangis, aku merasakan sekali sebuah kehilangan yang besar telah menyergap. Seorang nenek yang sedang  mengais-ngais sampah rumah sakit, dengan matanya yang sesekali mengawasi petugas jaga  datang mendekatiku. Semula aku jijik karena betapa baunya nenek itu. Aku baru menyadari,  telah berada pada bagian rumah sakit yang hampir tidak mungkin didatangi orang. Ini tempat pengolahan sampah rumah sakit. Walaupun terlihat steril dan canggih, namun nenek ini serta beberapa orang lainnya yang duduk dengan mata pasi dan wajah sangat pucat dan ceking telah membuatku cukup terkejut.

Nenek ini menceritakan bahwa bahwa sepuluh tahun yang lalau cucunya  mengalami penyakit yang sama dengan isteriku dan alergi terhadap semua jenis obat. Saat itu nenek itu mengaku  putus asa dan  mengeluarkan cucunya dari rumah sakit.  Ajaib, saat berada di rumah nenek tersebut telah meracik sendiri sebuah obat yang ternyata telah menyelamatkan cucunya hingga hari ini.

"Jadi nenek pernah masuk ke rumah sakit ini? Mana mungkin? dari mana nenek mendapatkan uang untuk berobat di tempat ini?

"Maaf namaku Meu Lie. Panggil aku Lie, ini bukan saat yang tepat tuan menanyakan kenapa dalam kemiskinanku yang sangat papah ini aku pernah membawa cucuku dirawat di rumah sakit mewah ini. Mari kita bicara soal isteri tuan"

Halaman
1234
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help