Cinta yang Terlarang

ENTAH kenapa setiap kali aku bertemu dengan Dosen mata kuliah Bahasa Inggris yang cantik dan imut ada rasa

Cerpen Yan Djoko Pietono

ENTAH kenapa setiap kali aku bertemu dengan Dosen mata kuliah Bahasa Inggris yang cantik  dan imut ada rasa yang tak mampu kutahankan ada gejolak di dada berdetak kencang. Dialah Mrs. Monalisa yang memiliki senyum luar biasa bisa menakluhkan setiap lelaki yang melihatnya. Hampir semua mahasiswa bahkan Dosen mengagumi penampilan bu Dosen cantik yang satu ini. Sehingga banyak yang berusaha mendekati untuk memikat hatinya.

Termasuk aku yang entah kenapa memiliki perasaan cinta yang membuat hatiku tak karuan rasanya.Semakin lama semakin menggila tak mampu kubendung lagi untuk segera menyatakan kepadanya.Namun selalu menghadapi kendala ketidak beranian untuk mengungkapkannya. Sebab pantaskah seorang mahasiswa jatuh cinta dengan Dosennya? Pertanyaan ini selalu menggelitik pikiranku namun hatiku menyatakan tak perduli sebab cinta itu anugerah tidak mengenal jarak dan status juga usia.Semua orang berhak jatuh cinta termasuk aku yang saat ini benar-benar tergila-gila sama bu Monalisa.

Setiap aku mengikuti jam kuliahnya disitulah aku tak bisa konsentrasi, anganku melayang berandai-andai.Membayangkan keindahan yang kucipta sendiri sesuai keinginanku yang gila. Setiap kali mata kami beradu pandang ada perasaan entah apa yang bergejolak dan kulihat bu Mona begitu panggilanya selalu terkejut sehingga wajahnya bersemu memerah. Kamipun tidak tahu kenapa setiap dia mengajar di kelas yang kebetulan aku selalu duduk didepan, mata kami selalu saling bertemu pandang sehingga membuatnya sedikit kikuk dalam mengajar. Kali ini aku bertekad untuk bisa berbicara denganya sepulang kuliah hari ini.Sebab rasa ini sudah terpendam berbulan-bulan terasa begitu penatnya sehingga hampir meledak jika tak segera aku ungkapkan.

Ya, rinduku semakin penat dilelap bayanganmu yang tak mampu kugenggam. Maka setelah jam kuliah selesai aku segera membuntuti bu Mona pulang.Akupun segera menaiki mobilku langsung  menunggu didepan pintu keluar campus dan tidak beberapa lama bu Mona lewat dengan menaiki motor yamaha mio warna merah dan langsung aku jalankan mobilku berada dibelakangnya. Memasuki jalan raya aku terus membuntuti sambil mata tetap melihat gerakan motor bu Mona.

Tak kusangka jalan motornya ngebut juga melewati sela-sela mobil sehingga aku kelabakan mengikuti arah jalannya dan tepat dilampu merah aku terhenti dibelakang tiga buah mobil tapi bu Mona langsung laju jalanya karena masih lampu kuning. Akhirnya akupun jadi kecewa kupukul-kupul setir mobilku yang tidak bersalah untuk melampiaskan kejengkelanku pada lampu merah yang tak tahu diri.Rasanya gagal deh aku membuntuti bu Mona karena berharap dapat tahu rumahnya sehingga aku bisa memberanikan diri untuk bertamu. Dengan perasaan galau aku jalankan mobil pelan-pelan setelah lampu berganti hijau, dalam hati sudah gak mungkin bisa membuntuti bu Mona. Tapi beberapa saat kemudian aku terperanjat ketika melihat bu Mona menuntun motornya dipinggiran jalan .Sejenak aku perhatikan ternyata ban motornya picah.

Segera aku hentikan mobilku tepat di depanya lalu aku turun, sejenak kulihat bu Mona kaget melihatku dan aku hampiri dengan keberanian yang entah datang dari mana ." Kenapa bu Mona, ban picah ya? " tanyaku setelah didepanya dan diapun menjawab : " iya dik, lagi cari tambal ban nih ". " Tenang bu, saya bantu jangan kuatir " kataku kemudian. " Bukanya kamu mahasiswa hukum " tanyanya kepadaku." Iya bu, masak lupa? " jawabku sambil senyum-senyum sendiri. " Maaf bu bisa naik mobil ? "  tanyaku setelah sesaat saling diam.   " Wah kebetulan, aku gak bisa dik, emang knapa? " jawabnya sambil tersenyum manis sekali   " Klo bisa maka ibu bawa mobil saya dan saya bereskan motornya " jelasku memberi solusi.   

" Wah terima kasih adik, gak usah repot-repot, biarlah ibu sendiri aja yang cari tempat tambal ban mungkin gak jauh lagi ada " ternyata bu Mona gak mau dibantu juga.Ketika dia ingin jalan menuntun motornya kembali langsung aku cegah dan tak disangka tanganku menyentuh tanganya yang memegang stang motornya. Terlihat diapun kaget langsung menarik tanganya dan aku segera meminta maaf tidak sengaja, lalu aku memaksakan diri untuk tetap membantunya.Sebab tidak pantas seorang mahasiswa ketika melihat dosenya terkena musibah tidak ditolong ,begitu alasanku.

Akhirnya setelah aku jelaskan , bu Mona bersedia menunggu di dalam mobilku berhenti dipinggir jalan tapi aku hidupkan mesinya ber-AC dan aku hidupkan juga musiknya lagu kesayanganku "separuh aku " dari Noah. Selanjutnya aku   menuntun motornya untuk mencari tukang tambal ban. Dalam hatiku bertanya " inikah perjuangan sebuah cinta? ". Tapi ini sebuah kesempatan yang harus kuambil peluang yang ada dan tak ku biarkan berlalu begitu saja. Sambil menuntun motor bu Mona aku bersiul-siul kegirangan sehingga tak terasa hampir dua kilometer aku baru menemukan tukang tambal ban.Keringatku berjatuhan membasahi bajuku basah kuyup dan terduduk dalam keadaan lemas aku menunggu tukang tambal selesai.

Sekitar 30 menit motor selesai ditambal aku langsung kembali ke tempat semula dan bu Monapun mengucapkan banyak terima kasih atas bantuanku. Dan aku ceritakan bahwa aku menuntun sampai 2 kilo baru menemukan tambal ban, maka diapun sangat terharu apalagi melihat bajuku masih terlihat basah dan lusuh.Lalu diapun bertanya kepadaku mau pulang arah mana dan ternyata kami searah sehingga bu Mona mempersilahkan aku mampir ketempat kosnya.

Halaman
12
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved