Gadis yang Hidup Karena Puisi

Adrian, masihkan kau di sana, bercengkraman dengan langit senja sembari memainkan jari-jari tanganmu?

Gadis yang Hidup Karena Puisi
Ist
Ilustrasi 

Serentak aku merasa begitu bersalah meninggalkan hati yang terluka, membuatnya begitu terpuruk. Rasa bersalah yang teramat putus asa, dan aku tak tahu harus berkata apa.

Aku bisa merasakan tiupan angin kemarau bulan mei dari kelebatan angin yang lewat. Tapi melihat mata Adrian, ah itu tidak mungkin. Ada jurang yang memisahkan setiap jalan untuk bertemu. Aku tak tahu kapan gerimis itu akan reda.
Apakah aku bisa menghentikan gerimis itu, lalu membasuh lukanya sehingga dia mau bernyanyi untukku? Apa aku harus menipu dirinya dan diriku untuk melakukan semua itu? Aku tak tahu. Mungkin, aku tak akan pernah tahu. Aku hanya bisa merasakan pertanyaan-pertanyaan itu bergemuruh dalam tubuh. Aku merasakan angin pantai menampar-nampar wajahku. Aku semakin tersiksa.

"Adrian, di hentian ini aku merenda doa mohon ampun untuk luka yang telah kutorehkan di hatimu, segelintir asa untuk bertemu denganmu, berjalan di sepanjang pantai mengukir puisi-puisi yang indah.
Terburai pada doa yang latah, "Tuhanku yang maha baik pertemukan kami disuatu saat di suatu hari nanti"

Tuhan, mengapa Engkau harus mencintainya,
di saat aku baru saja berhasil mengunyah hidupnya?
Jika semuanya ini akan berakhir
biarkanlah itu boleh berujung
demi Kemuliaan namaMu
Jika pertemuan ini menyisahkan luka
luka itu serupa salibMu
"Aku mencintaimu, selepas kutemukan jejakMu di sampingnya." *

Nama : Anna Adhyatmi Riantobi
Alamat : Jln Kapuas FI-22 Perum Wisma Tropodo Waru-Sidoarjo
Asal : Adonara
Hobbi : Membaca, Traveling

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved