Gadis yang Hidup Karena Puisi

Adrian, masihkan kau di sana, bercengkraman dengan langit senja sembari memainkan jari-jari tanganmu?

Gadis yang Hidup Karena Puisi
Ist
Ilustrasi 

"Aku Perempuan Leo yang kuat."
Adrian tersenyum mendengar ucapanku. Hembusan angin secara pasti menerbangkan beberapa helai dedaunan. Tak ada yang tahu ke mana perginya
selain sebuah kemungkinan.

Lekas-lekas,  gerimis mengiringi aku dan Adrian yang berjalan di sepanjang pantai. Aku melihat pelangi indah dari celah nyiur kelapa. Beberapa layar mulai nampak. Kutatap perahu-perahu kecil mengapung-apung di punggung laut. Ada bau tanah perlahan menyusap. Hujan memang membuat saat-saat tertentu menjadi begitu indah dan romantis. Dan itulah yang kualami dengan Adrian. Entah mengapa tiba-tiba ia meraih tanganku dengan tatapan yang lebih dalam dari kekagumanku padanya. Dengan gerakan yang kecil saja dia sukses meraih tubuhku dan mendekapnya lebih erat.

"Adrian.ceritakan padaku betapa indahnya senja ini."
"Tidak perlu, karena saat ini kita sedang terhanyut dalam senja yang begitu indah, biarkan ini jadi puisi terindah kita," ujarnya datar sambil memandangku lekat-lekat. Genggaman tangannya Adrian semakin erat. Ada sesuatu yang kurasakan dan begitu ingin kuucapkan. Tapi semua gagal kukatakan. Mendadak aku tak ingin lepas dari rangkulannya. Aku tak ingin saat-saat seperti ini lekas pergi, karena aku tak tahu kelak diberi kesempatan untuk mengulangnya sekali lagi.

Tetapi ada yang salah di senja ini. Ya, aku merasa ada kesalahan disetiap kebenaran. Ah, seandainya tak ada orang lain selain kamu di hatiku. Seandainya senyumku hanya milikmu. Setelah kupastikan degup jantungku telah kembali berirama, beberapa larik kalimat terlepas begitu saja dari bibirku yang gemetar,"Adrian, maafkan aku. Mengapa aku terus membayangkan laki-laki di pulau sebrang saat engkau memelukku, saat engkau menggenggam tanganku, saat mengatakan semua kata kepadamu.? Lelaki di sebrang segera meminangku. Bagaimana dengan rumah kecil yang kita impikan, senyumku, tawamu, dan tangisan si kecil?

Tidak Adrian! Aku tidak bisa terus berjalan beriring dengan dua pilihan. Aku bukan pengecut yang suka hidup dengan kepura-puraan. Meskipun aku harus mengatakan semua ini padamu, bahwasanya aku sangat mencintaimu lebih dari laki-laki di pulau sebrang. Bagaimanapun kamu. Aku harus jujur. Adrian tidak ada lagi ketakutan untukku, untuk selalu bersamamu."

"Kau bercanda bukan? Katakanlah, kau bercanda kan?" Perlahan ia merenggangkan pelukannya dan memandang ke lain arah. Sebuah reaksi yang telah kuprediksikan sebelumnya.

"Tidak, Adrian maafkan aku, aku akan segera menikah."
"Katakan kalau kamu bercanda. Iya kan?" Adrian sedikit menjerit. Napasnya sengau, tangannya membentuk kepalan. Menjerit adalah meledaknya segala kesan dan perasaan yang sedang berkecamuk. Adrian melakukannya dengan sempurna.

"Adrian," aku mencoba meraih tangannya, tetapi ia mengelak telak.
"Aku meminjamkan angin untuk angin yang lain, aku suruh kau memainkan lagu untuk laguku yang lain. Apa kau pikir aku hanyalah ombak kecil yang terus mengabarkan alur kekesalan pada pantai?  Kau beri aku puisi terindah dalam pelukanmu. Tapi aku mengerti itu semua menjadikanku begitu bodoh. Kau kirimkan awan terindah hanya untuk kujadikan mendung yang kelam. Yah,,, akhir-akhir ini aku menjadi terbiasa mengutuk diri sendiri.
"Adrian.."

"Aku mengerti sekarang. Kau memang puisiku, tak perlu aku menulis bait demi bait untuk mengagumimu, tak perlu engkau hanyut dalam kata-kataku. Lalu kini aku tersadar aku terlampau hanyut di tempat yang tak pernah kukira sebelumnya." Mata Adrian menatapku tajam menghujam seleuruh tubuhku.
"Adrian..maafkan aku." Aku menangis. Entahlah, ini tangisan penyesalan ataukah sebuah gerutuan.

Begitulah dua angin yang kuberikan kepada Adrian. Yang satu angin kebahagian yang satu angin kekecewaan. Lalu akupun pergi, sengaja menghilang dari tatapan Adrian.Aku tak ingin dia semakin terluka. Sementara aku sendiri mencoba melupakannya; angin-angin yang penuh puisi, senja yang indah, suara merdunya tiba-tiba senyap, senyumnya ketika ia menggenggam tanganku, selama lima tahun ini aku bisa. Tetapi di satu titik dalam hatiku, ada sesal yang menggumpal diingatanku dengan seringai seperti pengintai. Aku tak bisa mengelak dan pura-pura tak peduli.

Halaman
123
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved