Buku Catatan Adjie

AKU berjalan menyusuri pantai, mencari tempat untuk berteduh sejenak. Ingin ku sandarkan punggungku

Aku terdiam, malu, gugup, dan beberapa rasa yang bercampur aduk mengacak jantung. Apakah benar dia sang pemilik buku catatan kemarin? Mengapa dia tahu jika akulah yang telah mencuri selembar halaman kosong dari buku catatannya? Ah, semua telah terjadi.

"Oh, maaf. Aku."
"Aku telah membacanya, semua yang tertulis di lengkung langit, selembar dalam buku catatanku dan sebaris lagi di dalam hatimu," ia menyela pembicaraanku dengan begitu ramah dan berisi.

Aku terhenyak. Lelaki ini sungguh sangat mempesona dalam katanya. Ia telah membacanya, membaca semuanya. Aku hanya bisa berpasrah dan tersenyum menggangguk. Tangannya yang dingin mulai terasa hangat dalam genggamku yang sedari tadi tak ku lepaskan. Jantungku seperti sedang memainkan irama ombak yang menghantam karang. Aku tak sanggup menatap rupanya yang mempesona. Perlahan ia mendekatkan bibirnya ke telingaku, "aku mencintaimu", bisiknya lembut . Ia masih melanjutkannya lagi, "lebih dari pada cintaku pada laut, pada senja dan pada rasa yang ku tulis dalam catatan harian ini." *

(Terinspirasi dari cerpen Arie Putra: Selembar Kisah Bersama Laut/PK 19 Mei 2013)

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved