Buku Catatan Adjie

AKU berjalan menyusuri pantai, mencari tempat untuk berteduh sejenak. Ingin ku sandarkan punggungku

Buku catatan di tanganku akhirnya kubuka. Aksara yang berbaris di atas garis hitam pada lembaran putih itu ku lumat dan ku maknai sesuka pengertianku. Aku membacanya hingga selesai.

Biru itu samudera
Sedalam hati yang kuselami
Tempat ikan kecil berlarian di balik karang
Punggungnya biduk berkayuh dua
Godai putih ombak, cumbui bibir pantai
Biru itu langit
Tempat burung-burung manyar bermesraan
Sembunyi di balik gemawan berbopeng
Dendangkan nada berirama cinta
Biru itu pelangi
Lorong kita tapaki putih nirwana
Temui pemilik nafas, mohon restu cinta berpadu
Biru itu matamu
Telaga jiwa berteduh
Teguk rasa dalam secangkir asmara
Biru itu hatimu
Taman mekarnya mawar-mawar putih

Oh, aku terlanjur membaca tulisan dalam catatan ini. Sebuah tulisan tangan yang tidak terlalu rapi, terkesan ditulis agak tergesa-gesa. Tulisan dengan tinta biru, tak biasanya. Aku tersadar ketika selesai membaca halaman pertama buku ini.

Masih banyak halaman di belakang yang juga telah terisi. Yang pasti bahwa pemilik buku ini adalah seorang pencinta keindahan, ia mencintai laut, mencintai alam. Aku menutup buku catatan yang ada di tanganku, sebab aku merasa berdosa telah membaca apa yang bukan menjadi hakku. Selembar kertas terjatuh. Aku memungutnya dan ku baca sebuah tulisan, "I will return. Adjie."
Mungkinkah buku catatan ini milik Adjie? Lelaki berkulit gelap, atletis dan agak pendiam? Berarti ia mengasingkan diri dari rombongan kami sejak tadi. Tapi di manakah dia sekarang? Ku masukkan saja kertas itu ke dalam buku.

Burung manyar menulis di langit setengah lingkar
 Ajak senja jingga redup melandai
 Tuang warna di ruang bumi
 Gemintang kecil mengintip malu
 Ingin belai nyiur melenggok
 Deru ombak nyanyikan lagu
 Godai anak nelayan melaju perahu
 Tersiram redup warna bulan
 Kayuh melaju menanti berkah

Ku tunggu kau bila tiba  senja yang lain

Aku mengisi halaman yang masih kosong dalam buku catatan Adjie, atau siapa pun pemilik buku ini. Yah, aku telah lancang. Namun tanganku tak mau berhenti menulis, sampai hasratku benar-benar tertuang. Aku menulis beberapa baris puisi. Dan segera ku tinggalkan kemah batu asinku yang penuh kenangan. Aku harus pulang sekarang. Ku biarkan saja buku catatan itu pada tempat semula agar sang pemilik tak susah mencarinya.   

                    ***
Aku kembali lagi ke kemah batu asin, seperti janjiku. Ah, apakah aku benar-benar berjanji, tapi kepada siapa? Aku tak peduli itu. Aku hanya ingin sekali lagi membuai senja di gelung ombak yang menderu. Aku ingin memotret barisan burung yang melukis di lengkung langit. Mereka yang ku tingalkan kemarin ketika buku usang itu mencuri niatku.

Serta merta seseorang menghampiriku, mengulurkan tangannya dan tersenyum. Aku ragu untuk menyambut tangannya, tetapi gerakan reflex memaksa tanganku terulur dan menyentuh telapak tangannya yang dingin.

" Aku datang menemui seseorang yang menungguku di senja yang lain," demikian sapanya.

Halaman
123
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved