Buku Catatan Adjie

AKU berjalan menyusuri pantai, mencari tempat untuk berteduh sejenak. Ingin ku sandarkan punggungku

Cerpen Maria Hebi

AKU berjalan menyusuri pantai, mencari tempat untuk berteduh sejenak. Ingin ku sandarkan punggungku pada sebatang nyiur yang sudah tua di tepian laut, namun pohonnya terlalu tinggi sehingga naungannya tak kan mungkin mampu menjangkau aku. Aku berjalan terus ke arah Selatan, di mana terdapat sebuah batu cadas yang cukup besar. Untuk sampai ke sana, aku harus merelakan kakiku tertikam kerikil dan karang kecil yang berserakan di sepanjang pantai. Mereka  seolah tak mau meninggalkan pasir putih itu berjemur sendirian di panas terik matahari.

Tak ada seorang pun di sini. Aku sangat gembira, sebab niatku untuk menikmati pemandangan laut yang biru memikat dapat terjawabi. Aku memang sangat mencintai alam. Selalu ada yang berbeda bila datang ke laut, berjalan di atas pasir putih yang masih basah oleh pasang yang baru saja pergi. Segera ku ayunkan langkahku agar dapat berteduh dalam bayang rongga batu yang alamiah berbentuk seperti sebuah kemah.

Oh, ini sebuah karang yang terkikis air, perlahan terpahat membentuk kemah. Aku yakin bahwa ini untukku. Ini milikku. Ini duniaku.

Kulihat permukaan batu berwarna hitam itu sangat eksotis. Hitam, mengkilap tetapi berbopeng, seperti batu-batu megalit yang pernah ku lihat pada kuburan suku-suku asli  di pulau Sumba. Ku usap perlahan batu besar itu dan ku rasakan permukaannya yang kasar namun memikat. Kilap permukaannya ternyata disebabkan oleh sisa air laut yang mengering dan meninggalkan kristal garam. Sebab ketika ku jilati jariku, ternyata memang terasa asin. Aku menjadi semakin terpesona.

Batu asin, begitu saja aku menamakan cadas itu.  Langsung saja aku menyuruk masuk dalam rongga batu asin ini. Ku rebahkan diriku agar dapat beristirahat sejenak dalam naungannya. Aku duduk bersandar, agar masih bisa  menikmati birunya laut dan beberapa perahu nelayan yang  melintas.

 "Crak.." aku merasa sedang menindih sesuatu yang keras dan kaku. Segera ku angkat tubuhku dan memperbaiki posisi duduk. Aku menoleh ke bawah dan ternyata aku terlanjur duduk di atas sebuah buku. Ku tarik buku itu dengan tangan kiri agar aku dapat duduk dengan lebih nyaman. Ku letakkan saja buku itu di sampingku, dan segera menikmati alam yang mempesona. Hobiku memotret juga dapat tersalurkan. Beberapa kali aku mengambil gambar perahu nelayan yang sedang melaju.

Juga beberapa burung yang berbaris mengintai ikan. Oh, rasanya aku ingin tetap di sini selamanya. Aku terlarut dalam keindahan ini hingga senja menjemput. Perlahan  garis-garis jingga mulai menusuk tajam dari sebelah Barat bumi. Matahari senja mulai menggoda. Ia hangat seperti belaian ibu saat menidurkan aku. Jingga warnanya, mirip bibir ayah ketika sedang mengunyah sirih pinang. Guratan tegasnya menulis di lembaran horizon, seperti garis-garis dasar ketika aku belajar menggambar di taman kanak-kanak.

Tepat ketika itu, beberapa burung bergerombol terbang. Sepertinya mereka ingin pulang ke sarang. Segera ku raih kamera di sampingku. Oh, ternyata aku mengangkat buku yang tadi ku tindih saat pertama tiba di kemah batu asin ini.

Entah buku apa, tak menarik terlihat. Seperti buku catatan harian, tapi sudah usang. Sampulnya berwarna kulit, tepatnya seperti kulit buaya. Ku letakkan kembali buku itu di tanah, agar segera aku dapat memotret. Tapi sayang, aku kehilangan momen itu. Burung-burung senjaku telah berlalu dengan cepat, seperti kereta malam yang tak hiraukan angin dan hujan.

Halaman
123
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help