Puisi-puisi Minggu Ini

Aku melihat jejakmu Pada dedaun yang gugur Samar berserak, seperti bergegas lari

* Penulis Abu Nabil Wibisana, lahir di Jakarta, kuliah di Yogyakarta, kini bekerja di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat di Kupang.

PUISI-PUISI ARIE PUTRA

Tragedi

Butiran sisa gerimis yang terselip
dalam rimba rambutmu
Begitu kuingat.
Kala itu aku ingin sekali menyekanya.
Aku teringat jejalanan kota yang riuh
menyuarakan kepengapan
Kedai kopi dan para tukang ojek
yang tersengat mentari adalah jejak
Saat kaki kita telanjang di atas aspal
di ujung gang lengang
Katedaral dan Masjid tegak kekal
adalah janjimu yang enggan kutagih

Pohon beringin di tengah kota
mungkin masih menyimpan suaramu
Yang kala itu ketakutan kehilanganku.  
Aku tahu bahwa cinta kita
Tak harus menuju kehilangan.
Sepi tiba-tiba berbisik
Kau berdekut dalam pelukanku.
Kau tidak ingin aku jauh.
Ah, sayang.
Keinginan apakah yang kau ingin lukiskan
Dalam jemari yang memelas.
Waktu telah menguburkan kita
Dalam tragedi ruang
dan pembatas yang kau rangkai
Aku pun ingin  meminang hati lain
bersama helaian rambutku
Yang turun satu-satu dan memungutnya kembali
Bersama kumpulan kisah-kisahku.
Tanpa ada kau.
2013

Januari

Di suatu fajar januari yang lalu
Aku bertamu di beranda hatimu
Kubawa seikat harapan
yang telah ketenun sejak lama
Engkau mempersilahkanku duduk
Di jajaran depan beranda itu
Secangkir senyum, lunak tawamu
Adalah suguhan pertama untukku
Aku lahap menikmatinya.

Lalu aku berbincang tentang keinginan
Tentang perihal kedatanganku
Kuharap kau pahami tanda
yang sembunyi dalam lembaran ucapan
yang terbang dari sukmaku
menuju  sukmamu

Aku ingin mengekalkan januari
Dengan menghuni relung hatimu
Jika pun kau mengerti tanda
Yang kugurat dalam parade kata
diam yang menyentuh kalbu
Kuharap kau pahami
Tanda-tanda
 Soa, 2013

Kampus

Halaman
123
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved