Detik Milikmu

BUKANKAH sudah pernah kukatakan agar kita meminjam saja cakrawala malam sarat gemintang di tepi pantai?

Detik Milikmu
Net
Ilustrasi

Cerpen Dian  Timoria

BUKANKAH sudah pernah kukatakan agar kita meminjam saja cakrawala malam sarat gemintang di tepi pantai? Tak akan lama kok, hanya sejam, jika sempurna lingkaran itu terlampau lama untukmu, mungkin separuh lingkaran saja, 30 menit, bisakah? Atau kau terlampau sibuk? Kalau begitu seperempat dari kesempurnaan itu. Bisakan? Atau kau juga terlalu sibuk meramu kata dalam kidung pujian untuk sang khalik? Atau kau sedang merias mentari? Ah, payah, padahal mentari saja benci padamu.

Kau tahu kenapa? Karena kau pengkhianat. Kau pecundang. Jangan mengelak, kau lihat kantung bola mataku? Di sana masih tersisa bekas-bakas janjimu yang teringkari. Masih ada aliran bening yang membasuh sebait doa untukmu, yang lalu akan menguap dengan kata sarat pujian dan ampun, menujumu. Coba kau tatap bening mataku, di sana masih terlihat jelas wajahmu. Utuh. Masih tergambar senyumanmu. Menawan.
Hei, aku di sini, di tepi pantai milik kita. Yang pernah kita miliki saat purnama menghias cakrawala malam. Saat nyiur berdebat ribut bersama angin, entah apa yang mereka perdebatkan. Mungkin tentang pekat, atau dingin, atau tentang cinta yang saat itu sedang menyatukan kita.

Tahukah kau, butiran pasir di sini, masih beraroma tubuhmu. Beraroma keringatmu yang pernah berbaur dengan buih ombak. Butiran-butiran pasir ini, pernah mengeja setiap senti tubuhmu.

Sudah 5 menit aku menunggumu. Aku masih mengeja penantian, memaknai setiap detik yang terlewatkan sebagai bentuk ketulusan cinta untukmu. Aku tulus mencintaimu, tidak peduli kau siapa. Tidak peduli usiamu yang lebih muda dariku. Meski kata orang kau adalah anak yang tak pernah terlahir, seperti tidak ada rahim yang ingin mengendungmu. Kau seperti bintang Mirach, tiba-tiba muncul dalam pekatnya malam, membuatku mengagumi seberkas sinarmu. Dan tahukah kau, semakin lama bukan sekedar kagum yang kurasa, tapi ingin memilikimu. Itu cinta.
Dalam kesempurnaanmu, kau datang mengisi ruang hampa dalam jiwaku. Spasi hidup yang sudah terlampau jauh jaraknya. Memberiku kesejukan di tengah sekarat terik kerinduan mencintai. Aku menerimamu seutuhnya, sungguh.

Bahkan ketika dulu kita pernah diburu hujan, aku tak ingin lari atau berlindung, biar kita basah. Cinta membuatku memahami kesejukan, lalu pelangi itu, adalah hadiah untuk kita, untuk setiap persatuan jiwa yang di permandikan hujan, atas nama tanah, air dan udara. Atas nama alam. Pelangi indah untuk sebuah cinta yang suci.

Sepuluh menit sudah berlalu. Aku masih menunggumu. Laut mulai mengejekku. Mencoba merobohkan pertahanan yang sudah kurangkai dengan sisa-sisa cinta kita. Tapi aku tak kan goyah. Dulu 2 tahun aku menunggumu, di ejek rembulan, di hina mentari, aku menangis bersama hujan, namun, tidak peduli apa pun, aku tetap menunggumu. Hingga akhirnya kau berpaling padaku. Lalu kita rangkai cinta kita bersama jutaan bintang di langit, dan rembulan terkagum-kagum, bahkan mentari sempat cemburu, lalu ia membakar cinta kita, untunglah hujan mampu menyiram dan memadamkannya. Cinta kita pun kembali sejuk. Lalu kita sepakat, untuk menyatukan cinta kita bersama alam, sedang rembulan bersemu malu, debur ombak mengiringi deru cinta kita.

Kasih, tidak bisakah sejenak saja kau datang? Bukan untuk sebuah kisah romantis. Bukan untuk membangun istana pasir, tapi untuk berdiri, menatap laut, mengekor ombak dengan mata kita, lalu kita akan bersorak jika ternyata ombak yang kita tatap telah pecah, lebur bersama pasir, menghasilkan buih-buih putih yang akan kembali ke laut tepat setelah ia tak dapat menjangkau pantai lebih jauh. Atau kita pura-pura saja di kejar buih laut yang membasuh pasir , jangan sampai kaki kita basah, kalau basah berarti kalah. Lalu kita akan saling menghukum, dalam pelukan, dalam ciuman. Hukuman terindah yang membuat kesalahan begitu indah untuk di ulangi. Ah, tidak mungkin kita tak bisa lakukan itu, kau tak bisa lagi menemaniku di pantai kita, kau sibuk, entah apa.

Hei kasih, ini menjelang detik-detik terakhir dari  15 menit yang kujanjikan tadi. Apakah kau sibuk? Terlampau sangat? Bukankah kita pernah sepakat bahwa tidak ada yang boleh sekarat karena rindu? Lalu kenapa kau tak datang? Bahkan untuk sejenak menjamah kepalaku meski tanpa mengelus. Atau tersenyum, tidak tertawa. Atau sekedar membiarkan mataku menguliti setiap senti tubuhmu, meski tak bisa menjangkaumu, biarkan aku melihatmu, menikmati sisa-sisa aroma tubuhmu, sebelum angin mencurinya dariku. Datanglah padaku, aku sudah nyaris tak bisa bernapas. Kau renggut hatiku, kini nafasku, hidupku. Tidak tahukah kau? Aku sekarat.

Tiga detik, bagaimana? Bisakah kau datang padaku hanya dalam 3 detik? Bisakah kau ijin dari para malaikat di atas sana? Katakan untuk bertemu denganku, cintamu, kekasih hatimu. Buknkah malaikat itu sangat baik? Mereka pasti akan pinjami kamu sepasang sayap yang putih dan halus itu, kenakanlah lalu datanglah padaku bersayapkan malaikat agar aku bisa terus hidup. Kamu harus datang untuk memperbaiki hatiku yang telah rusak. Yang sudah terlanjur hancur. Aku tak bisa lagi fungsikan hatiku. Aku sekarat. Kau harus datang, memperbaiki hatiku, agar aku bisa terus hidup. Terus bercerita tentang kisah indah kita. Tentang kisah yang hanya milik kita saja.

Apakah malaikat itu tak bisa pinjamkan sayap mereka? Ataukah kau yang terlalu angkuh meminjam? Mungkinkah kau masih asik mendandani mentari, atau rembulan atau sedang asik mengacak posisi gemintang,

Aku berharap, semoga keindahan surga tidak membuatmu melupakanku. Agar aku tak benci surga. Agar aku tetap mengagumi malaikat atau apapun yang di surga. Jadi aku ingin kau datang padaku, hanya sekedar datang. Tidak lebih.

Kau punya 3 detik dariku. Datanglah dalam keadaan apapun. Agar aku tetap mencintai cinta. Tidak peduli jika seluruh semesta mengejekku, menghinaku atau pun membenciku. Aku akan tetap mencintaimu hingga suatu saat nanti para malaikat akan bersorak sorai menjemputku dan cinta kita akan dipermandikan dalam kemilau hujan di surga, dengan hadiah pelangi sejuta warna. 3 detikmu di mulai dari sekarang. *

Hei, meteor itu -yang melesat membelah langit malam- itukah kau?

Penulis cerpen Mahasiswi Semester VI, Jurusan Kesehatan Lingkungan dan Kesehatan Kerja, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Undana.

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help