Malang

KABUT tebal masih menggelayuti Jalan Tite Herun di kota tua ini. Panorama keilmuan kota pelajar ini pun belum tampak menggeliat.

Tak heran, karena dia dulupun pernah makan asam garam hal yang satu ini. Dia juga nyaris drop out di universitas karena alasan biaya. Dia berhasil meraih gelar sarjana dengan nilai memuaskan, sedangkan aku mendapat gelar: drs, alias di rumah saja.

Legah sudah hati ini. Hati yang dililiti sejuta sesal, selusin soal. Terbersit harapan baru. Aku akan segera melunasi uang sekolah Searle agar dia dapat mengikuti ujian. Aku akan pergi membayarkannya sendiri. Akan kusampaikan tentang keterlambatan pelunasan uang sekolah ini.
"Aku jadi bingung lagi."

Kaleng tempat menyimpan raskin ternyata sudah kosong. Kopi kesukaanku juga telah lama tidak kuteguk lagi. Aku memang bernasib malang. Dan, harga sembakopun terus melonjak. Bagi masyarakat kecil seperti aku memang tak sanggup. Apalagi, berita di koran tentang akan ada kenaikan tarif dasar listrik. Para ekonom berteriak bahwa ke depan ini ekonomi kita fluktuatif. Goyah. Terombang-ambing. Tak pasti.

Aduh., uang sekolah, sembako, dan tarif dasar listrik. Trio keluhan yang senantiasa membingkai diri ini. Disertai gejolak demonstrasi warga memprotes kepala desa untuk turun dari jabatannya tiga hari belakangan ini menjadikan hidup ini semakin garang.
"Kejam!"
"Dan, bagaimana dengan aku?"
"Malang"

Hidup ini adalah perjuangan, begitulah Si jenius Chairil Anwar dalam sebuah sajaknya yang diajarkan ibu guruku dulu ketika masih duduk di bangku SMP.
"Berjuanglah.!"

Ende, Tengah Desember 2012
Tite Herun (Bahasa Lamaholot): Kita bertemu

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved