Malang

KABUT tebal masih menggelayuti Jalan Tite Herun di kota tua ini. Panorama keilmuan kota pelajar ini pun belum tampak menggeliat.

Batin ini terus bergejolak. Brengsek. Pengecut. Pembohong. Untung kemarin itu ada Si Dul. Kalau tidak ia akan merasakan tumbukan tangan kidalku ini. Mandor bodok. Seandainya dia ada di sini akan kupenggal batang lehernya dan kulahap habis darahnya. Akan kubawa keliling kampung kepala busuknya itu supaya orang tahu bahwa dialah penipu, pembohong. Namun, tugasku belum selesai. Masih ada kesempatan buatku. Batinku terus saja bergolak bak sebuah palung episentrum gempa dashyat. Emosiku tidak terkendali hingga kursi tua peninggalan istri tercinta menjadi sasaran. Gerham. Kugigit gigiku sendiri dan kutarik napasku panjang.

Belum juga pulih emosiku, lagi-lagi aku menerima kwitansi tagihan uang sekolah dari sekolah Searle. Kusingkap kwitansi itu. Mataku langsung diarahkan pada kolom jumlah tagihan. Angkanya lumayan tapi mencekik leher. Apa salah sekolah? Atau salahku? Tanyaku diam. Lalu aku menemukan jawaban.

Inilah keteledoranku membayar uang sekolah. Menumpuk dan terus menumpuk. Akhirnya menjadi bukit. Seandainya tidak dilunasi, maka Searle anakku semata wayang penerus masa depanku tidak diikutsertakan mengikuti ujian akhir semester.

Begitulah nota bene surat yang ditandatangani kepala sekolah Searle.  Tuntutan yang begitu ketat. Aku bertanya harap, di manakah aku dapat memperoleh uang sebanyak tujuh puluh dua ribu rupiah itu? Sementara aku masih benci pada mandor keparat, gara-gara gajiku tidak dibayar lunas, tegal aku dituduh menjual bahan bangunan proyek pusat pertemuan di kampung ini yang hingga kini menuai masalah dan terus terbengkelai.
"Tidak.!"
"Ini fitnah...!"

Tinggal seminggu lagi ujian semester genap akan dimulai. Aku mencari jawab. Satu-satunya harapanku, Searle, harus mengikti ujian. Dialah penerus cita-citaku yang dulunya berkecai berantakan lantaran biaya. Aku akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah.

Lagipun orang tuaku, cuma petani kopra tradisional sudah nrimo dan angkat tangan untuk tidak membiayai sekolahku lagi. Biaya yang memang terbilang mahal bagi seorang petani kopra di kampung. Tapi tekadku, untuk seorang Searle aku harus berusaha. Sebuah siklus yang rumit, bergulung-gulung tengah menghadangku. Bagiku inilah tragedi hidup yang harus diarifi.
"Le., termasuk anak yang pintar di kelas ini."

"Jangan putus asa ya Nak! " Pesan singkat tadi membangunkan lamunan panjangku. Pesan ibu guru wali kelas ketika aku dan Searle menerima buku raport Searle semester lalu. Aku harus beranjak pergi. Keluar dari kemelut beringas ini.
Ya., pergi!

Dengan alasan membayar uang sekolah, aku berniat meminjam pada jiranku. Kendati pinjamanku tiga bulan lalu belum aku lunasi. Tak banyak basa-basi aku langsung dilayani kontan sebanyak yang aku butuh. Dengan perjanjian tiga bulan dari sekarang aku harus melunasinya. Jiranku memang sangat memahami segala masalah yang aku hadapi. Tentang urusan sekolah dia sangat respek. Dia pula yang memberi banyak motivasi kepada Searle anakku dalam belajar.
"Kenapa kepada dia?"


Diiiiiiiiaaa?
Seakan ku tak percaya. Pikiranku kembali menerawang.
Jauh.!

Jauh sekali dan mendarat pada memori tentang sesosok pemuda pincang yang dulu pernah bersua di tikungan Jalan Tite Herun. Bukankah dia tetanggaku sekarang ini? Benar. Kucoba untuk lebih tenang lagi. Betul. Dialah Gafeor, sosok tegar dan petualang ulet dalam belajar. Dialah teman kuliah Bapak dulu di universitas itu, tukas aku kepada Searle anakku yang saat itu duduk di sebelahku. Keuletan jua itulah yang mendamparkan dia menduduki posisi penting di sekolah dasar kampung kita ini, lanjutkku.

Halaman
123
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved