Malang

KABUT tebal masih menggelayuti Jalan Tite Herun di kota tua ini. Panorama keilmuan kota pelajar ini pun belum tampak menggeliat.

KABUT tebal masih menggelayuti Jalan Tite Herun di kota tua ini. Panorama keilmuan kota pelajar ini pun belum tampak menggeliat. Embun pagi masih tampak menggelantung pada dedahanan taman-taman kota.  Kuncup mekar pagi menorehkan senyum perangai wangi warga bunga pada petakan setiap taman untuk menyapa warga kota yang melewati lorong-lorong waktu. Pandangan coba kuarahkan jauh ke depan.

Mendapati seorang sosok tegar mengayuh pelan tongkat menghampiri kampus universitas tua di kota itu. Agak terbata-bata aku coba memberanikan diri untuk mendekati dia. Di tikungan lorong pada JalanTite Herun, kami bersua membuka percakapan panjang lebar tentang kekokohan juga ketegarannya membentengi dirinya dengan ilmu.

Maaf, mengganggumu!
Begitulah sapaanku pada  jumpah pertama dengan lelaki itu. Dia mengangguk, menyambutnya dengan gembira, sambil mengangkat tongkatnya menghampiri anak tangga kedua depan kampus tua itu. Gafeor, begitulah nama sapaannya. Laki-laki  berumur 47 tahun ini tampak kokoh dan tegar. Guratan wajahnya membersitkan sebuah kepastian bahwa pendidikan harus dialami dan diraih secara baik. Tentunya untuk kemaslahatan masa depan.

                    ***
Malam merangkak pelan dan fajar pagi pun siap menjemput. Musim pun kian suntuk, saban bergantian. Siklus hidupku tak menentu lagi. Rasanya aku telah bosan hidup. Aku ingin pergi. Entah ke mana. Biar, agar aku dapat dijuluki orang sekitar sebagai pengembara. Aku sadar bahwa hidup ini tak berarti lagi apabila aku hanya terkurung di gubuk ini. Pengalaman pun hanya sekitar kampung, bak katak di bawah tempurung.

Tak tahu apa-apa. Sementara kata tetanggaku, dunia sekarang ini tak punya batas. Sangat kecil. Apa tidak. Kejadian di luar negeri dapat kita baca dan saksikan pada lintasan berita yang disiarkan lewat media elektronik dan mediamassa cetak.
"Oh!., berbahagialah kamu yang memilikinya!"

 Aku cuma seorang buruh kasar. Membiayai hidup dan sekolah anakku saja tak cukup. Apalagi alat semahal itu. Gajiku pas-pasan. Itu kalau kerja sebulan penuh. Seandainya tidak, maka terpaksa aku harus pinjam lagi. Kais pagi makan pagi, itulah siklus hidup aku.

Tapi, yang penting Searle harus sekolah. Aku tak mau dia mengalami nasib hidup yang serupa dengan aku. Apalagi hidup pada masa yang akan datang. Era globalisasi yang semakin kompetitif. Era semakin di depan. Era perdagangan bebas.
Wah., pasti dahsyat. Luar biasa. Setiap orang harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Ketika itu alat-alat canggih akan menguasai dan memperlancar kerja manusia. Akan terjadi kompetisi hebat dalam mencari pekerjaan.
Seperti biasanya setiap kali pulang kerja, aku harus mencicipi segelas kopi tumbuk sambil menikmati tarikan kretek ban merah. Tapi, ada apa dengan hari ini? Rupanya aku sedang sial.

"Adu. nasib".
"Mengapa terjadi seperti ini? Benci. Aku benci."
"Kepada siapa aku harus mengadu?"
"Kenapa murung Pak?"
Tanya Searle anakku yang baru saja pulang bermain. Ia siswa sekolah dasar kelas enam yang ditinggal pergi ibunya saat usianya baru menanjak lima bulan.
Tidak Le!

Bapak cuma. Ah.ah..! Cuma memandang tarian burung senja yang sedang membawa makanan kembali ke sarangnya itu, jawabku datar untuk sekedar mengalihkan perhatian anak kecil ini. Dia menyambar secepat kilat. Kelihatannya., ada semacam seberkas masalah yang sedang Bapak pecahkan. Tidak kok Nak. Bapak tidak punya masalah apa-apa.

"Aku menampar keningku agak keras."
"Mengagetkan."
"Panas."
Dalam nada tanya aku berpikir apakah aku telah berdosa? Sampai menipu Le anakku? Rupanya bocah kecil itu sedang mencoba memahami diriku. Melebur bersamaku dalam pergulatan yang hampir tak berujung ini. Lagi-lagi aku kesal.
"Ah.!"

Halaman
123
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help