Puisi Pekan ini

Pada sebuah mural tembok kota Aku ingat lagi serpihan wajahmu Kau tampak sepi. Seperti polesan Cat basah merindu tiupan angin senja

PUISI ARIE PUTRA

Mural

Pada sebuah mural tembok kota
Aku ingat lagi serpihan wajahmu
Kau tampak sepi. Seperti polesan
Cat basah merindu tiupan angin senja

Aku mengejamu dalam sebentuk diam
Angin selatan berderak tegas seperti
Sekumpulan doa sunyi
Aku tetap berhenti di atas kakiku
Dengan aliran seperti aliran darahmu

Aku mencoba berlama. Bersahabat dengan
Hitam malam. Kau tahu, rindu selalu hinggap
Dalam bentangan jarak. Saat dua musim melepaskan
Hujannya sendiri-sendiri.

Aku ingin pulang saat petang
Membuka lorong menuju lembah kisah
Yang tetap menunggu jamahan
Iringan jejak-jejak kita *

Puncak Scalabrini, 2013

PUISI-PUISI AGNES MAKING

Pelangi Cinta

Cinta kasih lahir dari hati yang kering
Retak tanpa harapan
Namun..
Ku tahu ada kau
Ada rona di antara sekian warna padamu
Pelangi cinta nan indah
Kau tuliskan tinta cinta
Haruskah aku menjadi rona
diantara sekian warna?
Untuk cinta yang kering retak tanpa asa?
Haruskah aku
menjadi pelangi untuk tulisan cintamu?


Permata hati

Wajahmu bagaikan
malaikat mungil yang suci
Tatapan murni bagaikan
pancaran sang surya di pagi hari
Senyuman manismu
selalu menyejukkan hati
Dikala aku menghadapi
sesak dan panasnya dunia ini

Tangisan manja selalu
terngiang di telingaku
Senyuman penuh arti
selalu terlintas di benakku
Kaulah belahan jiwa
dan permata hatiku
Kini, esok, dan selamanya
selalu di hatiku*

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved