Jumat, 30 Januari 2015

Faktor Agama Sangat Berpengaruh

Sabtu, 8 Juni 2013 20:55 WITA

Faktor Agama Sangat Berpengaruh
POS KUPANG/ARIS NINU
Robert Mirsel, SVD , Dosen STFK Ledalero

HASIL pleno KPU NTT, Sabtu, 1 Juni 2013, telah menyatakan Paket Frenly menang dengan keunggulan 2,5% di atas Paket Esthon-Paul. Dengan demikian, selesailah pertarungan putaran kedua antara dua incumbent.

Terlepas dari apakah masih ada gugatan atau tidak terhadap hasil yang telah diumumkan tersebut, masyarakat NTT bisa lepas lelah setelah antre ke TPS-TPS untuk memilih pemimpin NTT lima tahun ke depan.

Menarik untuk dilihat kembali bagaimana kecenderungan memilih masyarakat NTT dalam putaran kedua ini.  Apa yang diduga semula ternyata benar: variabel agama berpengaruh amat kuat dalam menentukan pilihan masyarakat.

Kalau kita petakan perolehan suara di setiap kabupaten/kota, polaritas berdasarkan agama, dalam hal ini, polaritas Katolik-Protestan, sangat kentara. Kita lihat saja.  Dua belas kabupaten yang dimenangi Paket Frenly merupakan wilayah-wilayah dominan Katolik. Sementara Paket Esthon-Paul menang di sembilan kabupaten yang nota bene dominan Kristen Protestan. Hal ini memberi gambaran yang jelas bahwa agama tetap merupakan variabel yang amat menentukan proses politik di NTT.  

Hal ini sekaligus menggambarkan bahwa kebanyakan orang NTT adalah pemilih tradisional/primordial berdasarkan agama, sedangkan pemilih transaksional (sebagian orang birokrat/PNS, pengurus partai politik dan para pengusaha) dan pemilih rasional tak banyak berpengaruh pada proses pilgub putaran kedua.

Meski faktor daerah/pulau (Timor-Flores) turut berpengaruh, namun hal itu lebih kecil dibandingkan dengan variabel agama. Lihat saja. Kabupaten Belu dan TTU dimenangi Paket Frenly, meski merupakan bagian dari Pulau Timor.  Juga, di Sumba Paket Frenly menang di Sumba Barat Daya, meski ada setereotip bahwa orang Sumba akan cenderung merasa lebih dekat dengan orang Timor.

Faktor kemenangan Frenly di Sumba Barat Daya adalah karena wilayah itu dominan Katolik, sedangkan kemenangan Esthon-Paul di tiga kabupaten lainnya juga karena wilayah- wilayah itu dominan Protestan. Selain faktor agama dan kedaerahan, faktor keberakaran partai turut menentukan. Kalau kita petakan, PDIP merupakan partai yang memiliki basis keanggotaan yang kuat di sejumlah kabupaten seperti Lembata, Flotim, Sikka, Ende, Nagekeo, Belu dan Sumba Barat Daya. Sedangkan Partai Gerindra belum menampakkan basis keberakarannya secara partai, karena memang usianya relatif lebih muda dari PDIP.

Halaman123
Editor: alfred_dama
Sumber: Pos Kupang
KOMENTAR ANDA

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas