PUISI-PUISI ETO KWUTA

Itu kayu tegak berdiri tiada layu dan kucumbu sembari merayu: kayu-Mu kayu manis, melukis indah tubuh-Mu.

Salib
 
Itu kayu
tegak berdiri tiada layu
dan kucumbu sembari merayu:
kayu-Mu kayu manis, melukis indah tubuh-Mu.
Kemudian langit bergemuruh di sana, menggemeretak
daun-daun berguguran jatuh
perlahan jatuh
memeluk bibir Kalvari dan
terpaku diam. Tuhan, inikah cinta-Mu?

Ledalero, awal Maret 2013.


Di Jedah Nafas-Mu,  Aku

Di jedah nafas-Mu, aku tersentak
dan senja ini membentang kepak.
Lalu Engkau tertunduk tiada mengajak
melukis kayu yang tak lagi tegak.

Tuhan.......
Aku tersentak,
malu menanam hati pada puncak retak.
Sembari kuberpijak,
menatap-Mu memeluk diam tanpa sajak.

Tuhan.......
Kini di jedah bisu-Mu, kupeluk
dalamnya duka Golgota.
Dan kebenaran hanyalah seteguk
Lalu tumpah pada akhir cerita.

Tuhan....
Aku buta.
Sehabis terhempas  dangkalnya cita-cita.
Mungkin sampai  senja  berlalu
berlari menepis malam hingga pagi
bercerita.
Aku tetap buta.
Terperangkap kebutaan mencinta.
Di sini masih kujumpai Golgota  
bercerita tentang cinta dalam derita.

Tuhan......
Aku gemetar.
Pada hidup yang berputar berujung  duka.
dan tanya apa itu kebenaran tak mampu kukata

Tuhan ......
Di jedah nafas-Mu, kutengadah
menyapa diri yang payah
susah
sepih

Tuhan....
Panggil aku
Panggil aku debu pada kaca
Panggil aku kayu pada abu
Ternyata aku sampah

Tuhan....
Di jedah nafas-Mu, kuberkisah                   
"Ternyata cinta itu murah, tapi
mencinta itu tidaklah murah."
                                                                                               
St . Mikael-Ledalero, 15/03/12

* Mahasiswa pada STFK Ledalero-Maumere. Tinggal di unit Arnoldus Yansen-Nitapleat, Maumere.
 

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved