Bapak Mau Pake Ko?
Siang itu, Senin (13/5/2013), sekitar pukul 12.00 Wita, sebuah rumah penduduk berlokasi di seputaran Kelurahan Fontein, Kota Kupang terlihat sepi
Penulis: Oby Lewanmeru | Editor: Alfred Dama
Rumah ini tidak begitu ramai. Ada tiga wanita di tempat itu menunggu pria hidung belang. Seorang ibu berusia di atas 30 tahun terlihat bersama anak laki-laki berusia sekitar lima tahun berbaring beralas kain di lantai. Sementara seorang perempuan lainnya sibuk melayani tamunya. Ada lagi seorang wanita yang hanya duduk-duduk di luar bangunan rumah.
Ketika didatangi Pos Kupang, perempuan itu tanpa basa-basi langsung menyapa. Mereka menganggap tamu yang datang sebagai 'raja' yang datang membawa berkat (rezeki) sehingga disambut ramah sambil bergurau.
Kondisi di rumah itu tenang karena perempuan 'pemuas' di tempat itu tidak menetap, melainkan hanya menggunakan rumah itu sebagai tempat mangkal mencari mangsa/tamu pria hidung belang. Rumah itu boleh dikatakan hanya dijadikan terminal singgah untuk menunggu tamu/pelanggan.
Selang beberapa menit, ada seorang bapak mengenakan baju kaos bergaris dan celana kain berwarna hijau gelap muncul di depan rumah itu. Tanpa mengeluarkan kata-kata, pria itu berdiri sejenak sekitar lima menit langsung balik kanan.
Ibu yang juga pengawas gubuk tempat perempuan lokal mangkal, mengaku kunjungan tamu pria hidung belang tidak menentu (fluktuatif). Bahkan ada juga dalam sehari tak ada tamu. "Biasanya kalau tamu ramai, ya lumayan. Tapi jika tamu sepi, kami juga pusing," tambah seorang perempuan yang mengaku asal salah satu kabupaten di Pulau Timor.
Perempuan itu mengaku saat ini tamu lagi sepi karena minimnya kunjungan pelanggan. Apalagi perempuan yang ada bukan menetap. "Kalau ramai pasti ramai, dan kalau sepi maka seperti ini sudah," tutur perempuan itu.
Ketika hendak pamit pulang, perempuan yang masih menggendong anak menawarkan untuk 'main'. "Bapak mau maen (main) ko? Memang sekarang ini perempuan di sini agak susah. Sekarang ada sekitar tiga orang. Kalau pak mau saya panggil yang ada di luar," ujar seorang ibu.
Terkait adanya prostituasi di wilayah itu, pihak Kelurahan Fontein mengakui tidak mengetahui ada bisnis prostituasi di wilayah itu. "Kami belum dengar soal hal itu, dan belum ada laporan masyarakat. Kalau ada laporan warga tentu kami akan panggil oknum yang menyediakan tempat itu," ujar Sekretaris Lurah Fontein, Fredi M Uly, ketika ditemui Pos Kupang di ruang kerjanya, Selasa (14/5/2013).
Beberapa warga yang dimintai tanggapan soal hal itu mengaku belum tahu. "Kami selama ini tinggal di sekitar sini tapi tidak tahu kalau di wilayah ini ada tempat seperti itu. Kalau betul ada, kami harap pemerintah harus tertibkan," ujar seorang ibu rumah tangga.
Menurut dia, jika pemerintah tidak mengambil tindakan atau menertibkan, berarti pemerintah turut melegalkan lokasi itu untuk dijadikan tempat esek-esek.
Leny B, salah satu warga Kota Kupang mengatakan, adanya prostitusi akibat pergaulan yang semakin bebas dan terbuka. "Kalau ibu rumah tangga terjun ke dunia prostituasi berarti ada keretakan dalam rumah tangga, atau tuntutan ekonomi. Bahkan kadang diajak teman," kata Leny. Menurut dia, teman bisa menjadi virus dalam pergaulan dan membawa orang lain terjerumus ke hal negatif.