PUISI-PUISI MARGARETH FEBHY IRENE

Ku harus memulai darimana? entahlah! Dariku, dari senyumanmu ataukah dari kata-katanya Di antara kita

 Tak Terdengar

Ku harus memulai darimana? entahlah!
Dariku, dari senyumanmu
ataukah dari kata-katanya
Di antara kita
ada dinamika cinta yang fantasi
Membawa dalam rekaan semata
dan lenyap termakan suara

Bagiku kaulah dendang
sang keriki-kerikil tajam
Menusuk tepat pada
detakan yang menghidupiku
Jika dua tak mampu kau tegakkan ,
satupun cukup
Tuk damaikan cakrawala
alam yang kian memberontak

Tak terdengar lagi
peduli kasih pada yang tertinggal
Tak terdengar lagi
uluran tangan pada mereka yang terjatuh
Tak terdengar  lagi
harapan untuk semua yang rapuh
Tak terdengar lagi
kau sebut nama yang kuasa pada andalah misimu

Ada yang merenggut dunia
nyata jadikan dunia maya
Semua terlintas halusinasi sekejap tatap
Rangkai lagi kau tak
mampu dan aku tahu itu
Kapan dan dimana kau buang
semua ayat-ayat suci

Hingga  semua terdiam
memaku mati dirimu yang rusuh
Lihatlah dirimu,
aku jadi tak mengerti  apa lagi
Merunduk dibalik jeruji merenungi
tangan dan mata yang salah
Tidak lagi ku bisa ,
ternyata kaulah yang jadikan
semua tak terdengar kembali


Penjara Suci

Arang-arang memerah,
unggun kecil tercipta
Bernyala-nyala dalam persembunyian kelam
Bukan tuk membakar dalam kobaran ,
sekedar kehangatan niatnya
Memukau semilir sepoi ,
tak sembunyikan sinar terang

Ada siapa dibalik  tempat tak
berpenghuni  karena sepi
Sembunyikan pancaran  
berbinar tak melintas tinggi
Seseorang  menunggu lama ,
menepi  pada pagar  tua
Ada yang dinantikan pada
kepastian langkah -langkah kecil

Payung kertas kian bening  
menutup pening dari  kerutan kening   
pintuh itu terbuka pasti,
deringan langkah mulai terdengar perlahan
barisan jubah-jubah putih  
menebar senyum-senyum
yang tersimpul  rapi
tidak rumit tidaklah siapapun terambigu

soneta tak lagi mampu menjerat lidah
hingga bibirpun bersuara
lukisan wajahmu putih bersi ,
aku tahu ada puisi-puisi klasik
yang engkau simpan tenang
bolehkah aku memyuarakan
tinta beku dalam  intonasi?
dimana kau menetapkan raga,
katakan .. ku ingin mendengar

"Penjara Suci.. itulah rumahku,
mampirlah kan ku sugguhi engkau secawan anggur "
Tak terlepas,
terkubur aku menatap tak lagi berkedip
Sungguh indah seribu kasih
ada dibalik jubah sang pemilik penjara suci
Ingatlah ia kelak berkelana
mewartakan keanggungan Tuhanku

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved