Selasa, 9 Juni 2026

Jejak Misterius

HARI minggu, merupakan hari yang paling kami tunggu, hari kebebasan kami dari dunia pendidikan, hari kemerdekaan bagi anak-anak kampung

Tayang:
Editor: Alfred Dama

Cerpen Agustinus Umbu Hemba

HARI minggu, merupakan hari yang paling kami tunggu, hari kebebasan kami dari dunia pendidikan, hari kemerdekaan bagi anak-anak kampung Kahale, hari bermain !

Aku, Ardi, Bento dan Guto, sudah menyiapkan peralatan, hari ini kami akan  mencari ubi hutan di sekitar Hutan terlarang. Ini diluar jadwal kami minggu lalu, jadwal awalnya kami akanbermain Pasola, karena persedian makanan dirumah habis, memaksa kami untuk mencari ubi hutan disekitar Hutan Terlarang.

Kami bergegas ke hutan terlarang, sekitar hutan terlarang sudah kami sangat kenal, hampir setiap hari,sepulang sekolah, kami mencari ubi hutan, bahkan jejak hewan atau manusia bisa kami bedakan lama atau baru. Namun satu hal yang tidak pernah kami ketahui adalah hutan terlarang, setiap orang dilarang masuk kedalam, mencari ubi hutan pun hanya di sekitar hutan tidak perbolehkan melewati garis pembatas.

Menurut cerita ayah dan ibu, hutan itu hanya tua adat dan para rato marapu yang boleh masuk, itu pun setahun sekali atau ada acara adat atau semacamnya, jadi sebelum ritualkan dilaksanakan harus minta restu dari leluhur yang tinggal dalam hutan tersebut. Lain hal dengan acara ritual penyembuhan orang sakit atau yang masih ringan, cukup memberikan persembahan didalam kampung, karena dalam kampung sudah ada altar yang sudah disiapkan, bahan-bahannya diambil dari hutan terlarang tersebut.
                    ***
Sang surya  sudah tepat diatas kepala kami, namun ubi yang kami cari belum banyak. Aku mulai gelisah, cacing dalam perutku mulai mencabik sedikit demi sedikit isi perutku, sehingga rasa sakit.
" Rangga, sini sebentar". Ardi memanggilku.

"Ada apa?".

"Kamu perhatikan jejak ini, masuk dalam hutan".

"Ini jejak orang dewasa, tapi ada jejak sepatu juga".

"Bukankah ritualnya masih satu minggu lagi?".

"Betul".

"Itu jejak orang asing, tua adat dan para rato tidak menggunakan alas kaki".
Kami dilanda kegelisahan, jejak-jejak itu membuat kami tidak tenang, hutan itu adalah hutan yang sangat angker, bahkan setiap pinggir hutan sudah  di pasang papan pemberitahuan serta batas yang boleh dimasuki dan tidak boleh dimasuki.
Kami memutar kearah timur, tapi hal yang buat kami terkejut, semakin banyak jejak yang masuk dalam hutan.

"Rangga, bagaimana ?, harus kita laporkan di ketua adat".

"Jangan! kita ikuti jejak-jejak itu".

"Apa? Kau gila, apa kau mau mati dihutan itu".

"Jangan jadi pengecut, ayo kita ikuti".

"Tidak mau!, Guto dan Bento tampak protes".

"Dasar pengecut".

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved