Rabu, 10 Juni 2026

Dogati

SEJAK jadi dosen, penampilannya beda. Rambut berminyak dengan gaya sisir belah samping. Jambang dan jenggot bersih, sedangkan

Tayang:
Editor: Alfred Dama
Parodi Situasi oleh Maria Matildis Banda

SEJAK jadi dosen, penampilannya beda. Rambut berminyak dengan gaya sisir belah samping. Jambang dan jenggot bersih, sedangkan   kumis dibiarkan melintang tebal. Konon, menurut beliau, kumis dapat menunjang kewibawaan.

Sepatu hitam, celana hitam dengan kemeja biru bergaris putih rapih dengan dasi biru melintang. Konon, menurut beliau pula, dasi dapat meyakinkan kualitas intelektualitas pemakaianya. Demikianlah penampilan Pak Jaki, dosen Perguruan Tinggi anu, fakultas anu, jurusan anu di tanah kelahirannya.
                                     ***

"Pokoknya kalian harus disiplin," demikian Pak Dosen yang datang terlambat hampir dua puluh menit, ketika bicara di hadapan mahasiswanya. "Mulai segala sesuatu selalu tepat waktu. Ingat! Waktu sehari dua puluh empat jam, namun bagi mahasiswa waktu sehari dua puluh lima jam. Enam jam kuliah, enam jam belajar, enam jam urusan ekstrakurikuler, pribadi, dan lain-lain, selanjutnya enam jam tidur. Lalu, satu jam tambahan untuk ekstra menambah referensi. Jam tambahan ini entah disulap darimana, yang pasti mahasiswa ideal harus mampu memanajemen waktu dengan seefektif seefisien mungkin. Mengerti?"

"Mengertiiiii," koor dari para mahasiswa.
"Bagus! Semua materi yang saya ajarkan harus dicatat rapi, dipelajari, dan yang penting cari referensi tambahan untuk mempertajam analisis," Jaki menyampaikan dengan serius. "Semua tugas-tugas dikumpulkan sesuai perjanjian, bukan? Kalian harus tunjukkan kredibilitas sebagai mahasiswa. Mengerti?"
"Mengertiiiii Pak," koor menjawab lagi.

                                 ***
"Oh, nanti akan saya bagikan," demikian kata Jaki ketika ditanya soal materi kuliah dalam bentuk tertulis. "Memang sesuai janji, materi tersebut akan selesai minggu ini. Tetapi nyatanya memang masih menunggu. Ingat disiplin waktu, disiplin janji!"

"Wah, Pak Dosen, serius amat! Awas nanti kena cap Doki alias dosen killer," kata Rara sambil tertawa. "Kumis melintang, dasi melintang, dan caranya melirik sedemikian rupa sehingga jadi menakutkan banget."

"Biarin! Daripada kamu dicap Dosa alias dosen sangar!" tangkis Jaki.
"Untung ya kita berdua sudah ambil magister, sudah ambil S2," lanjut Rara. "Tahun 2015 semua dosen harus S2. Kalau tidak, lewat, alias keluar dan silakan cari pekerjaan lain."

"Enak jadi kita berdua ya," Jaki terkekeh-kekeh. "Pendidikan oke, pekerjaan oke, caleg juga oke. Tinggal menunggu saja nasib baik. Kita jadi tambah berwibawa, pasti. Pengalaman lapangan dibahas di ruang kuliah, intelektualitas perkuliahan di bawah ke lapangan."

                            ***
"Hai Pak Jaki!" Nona Mia melambai. Di samping Nona Mia selalu ada Pak Benza.
"Hai juga Doma alias dosen manis! Waduh, seandainya aku jadi mahasiswamu, Ibu Mia. Mataku tak pernah lepas menatapmu, kuliah dua jam terasa dua menit, tugas setumpuk rasanya hanya selembar. Apakah yang dapat aku bantu, Ibu Mia?" Sayangnya gombalan Jaki mental tidak kena sasaran.

"Hai, Dopa alias dosen pahit!" sambung Rara menyalami Benza. "Terlalu serius, tiada hari tanpa baca, menulis, menyiapkan materi kuliah dengan rapi bin rapi, membaca teliti tugas-tugas mahasiswa, waduh! Pantas saja tampangmu jadi empat lima begini!"
"Bagaimana? Jadi kita ketempat lokakarya?" tanya Nona Mia.
"Lokakarya apa?" Jaki dan Rara sama-sama kaget.

"Tentang kualifikasi dosen, pendidikan, tugas, tanggung jawab, harapan dan ada banyak hal yang dapat digali dalam lokakarya nanti," demikian penjelasan Benza. "Pasti menambah motivasi dan wawasan tri dharma perguruan tinggi. Dosen berkualitas mahasiswa berkualitas pasti output lulusan berkualitas."

                               ***
"Saya sudah S2, mau lokakarya apalagi?" sambar Jaki.
"Saya magister, mau tambah pengetahuan apa lagi?" sambung Rara. "Belajar melulu capek lah. Yang penting pendidikan kita memenuhi syarat itu saja. Buat apa susah-susah belajar terus-menerus. Yang penting bisa ngomong dan tampil oke di depan mahasiswa!"
"Sisi intelektual dosen mesti diasah terus-menerus sepanjang waktu sepanjang riwayat pekerjaan dan tanggung jawabnya sebagai dosen!"

"Ah, kamu saja si Doma dan si Dopa! Maaf saja ya. Aku magister," Jaki pukul dada. "Sudah memenuhi syarat dan sudah tahu semua." "Kamu saja yang ikut lokakarya! Kami berdua mau pergi kampanye raup suara," sambung Rara. Jaki dan Rara pun berlalu.

                                                 ***
"Dasar Domura," Nona Mia kesal bukan main. "Alias Dosen muka parah."
"Ha ha ha untuk apa ikut-ikutan Jaki Rara," kata Benza. "Ayo, mari  ke tempat lokakarya, sekarang. Tepat waktu."

"Kamu memang Dogati alias dosen ganteng dan sejati. Kalau semua dosen seperti kamu, aku jamin tidak ada out put perguruan tinggi menganggur."
"Semua karena kamu Domadas alias dosen cantik dan cerdas!"
"He he he he," Benza dan Nona tertawa gembira." *

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved