Rabu, 10 Juni 2026

Orang Sehat Bisa Sakit

Pelayanan di Rumah Sakit Umum (RSU) Prof. Dr. W.Z Johannes Kupang kurang beres menyisakan pengalaman buruk bagi pasien- pasiennya

Tayang:
Editor: Alfred Dama
POS KUPANG.COM, KUPANG -- Pelayanan di Rumah Sakit Umum (RSU) Prof. Dr. W.Z Johannes Kupang kurang beres menyisakan pengalaman buruk bagi pasien- pasiennya.  Vins Mada, warga RT35/RW 09, Kelurahan Oebufu, Kota Kupang, ditemui  Pos Kupang, Sabtu (4/5/2013) menceritakan pengalaman pahitnya perihal pelayanan di RSU Jaohannes Kupang.

Vins menuturkan, beberapa tahun lalu, ia  berobat ke RSU Johannes Kupang. Ia bertemu dokter dan menyampaikan keluhan sakitnya. Saat itu dokter menyatakan bahwa Vins menderita gejala TBC. Dokter memberikan berbagai resep obat untuk menyembuhkan penyakitnya. Vins juga dianjurkan  ceck up lanjutan.

Beberapa hari kemudian, Vins kembali lagi ke RSU Johannes Kupang. Sesampainya di sana, dia dilayani oleh dokter lain dan menganjurkan agar Vins segera di-rontgen. Ternyata hasilnya menunjukkan bahwa Vins menderita radang tenggorokan. Dokter memberikan obat yang lain lagi.

Pada saat itu, tutur Vins, ia berpikir kalau pelayanan di RSU Johannes Kupang seperti ini,  maka  jangankan orang sakit, orang sehat pun bisa  sakit.

"Padahal sebelumnya saya pernah berobat ke RSU Johannes Kupang, ketika bertemu dokter, saya divonis menderita gejala TBC. Setelah memberikan resep berbagai macam obat, saya dianjurkan datang ceck-up lagi," kenang Vins.

Jhon Luji, warga Kelurahan Oebufu lainnya  ditemui di kediamannya, Sabtu (04/05/2013) mengeluhkan hal serupa.   Jhon mengatakan, seharusnya kartu jaminan kesehatan  bisa membantu pasien yang keadaan ekonominya lemah. Namun kenyataannya, warga miskin sering dibuat bingung karena stok obat di RSU Johannes Kupang sangat terbatas. Dengan demikian, pasien harus membeli obat di apotek luar  yang harganya mahal. Oleh karena itu, Jhon mengharapkan, pemerintah harus memperhatikan kondisi ini.

"Seharusnya kartu jaminan kesehatan bisa membantu warga miskin. Tetapi yang sering terjadi kartu itu mubazir, karena ketika pergi berobat ke RSU Jaohannes Kupang, tidak jarang stok obat habis. Hal ini menyebabkan kami warga miskin, harus pergi membeli obat di apotek luar yang harganya mahal. Kami mau ambil uang dari mana. Saya harap pemerintah memperhatikan persoalan ini," kata Jhon.

Warga TDM 4, Don Paru dan Arsen Tena, warga Oepoi dan Agustina Atasoge warga Kelurahan Naikoten I, ketika ditemui Pos Kupang di kediaman masing-masing, Sabtu (4/5/2013), menyampiakn hal yang sama.

Ketiganya mengatakan, pelayanan di RSU Johannes Kupang masih amburadul dan manajemennya semrawut. Hal ini diperparah  keadaan rumah sakit yang kotor dan para perawat belum bisa menjalankan tugas keperawatannya dengan baik.  Ada perawat yang melayani pasien dengan baik, tapi ada juga perawat yang terkesan 'angker' ketika melayani pasien.

                            Masalah Kebersihan
Bukan hanya pelayanan di RSU Johannes yang harus diperhatikan, tetapi juga masalah kebersihan harus mendapat perhatian serius dari manajemen rumah sakit tersebut.

Demikian Evy Harzufri ditemui di kediamannya, Sabtu (4/5/2013) terkait dengan pelayanan di rumah sakit umum. "Memang ada banyak keluhan mengenai pelayanan di rumah sakit ini. Harusnya rumah sakit umum yang adalah rumah sakit rujukan lebih baik dari rumah sakit lainnya yang ada di NTT ini. Hal ini karena tidak ada standar pelayanan operasional, pasien yang datang kadang bingung karena tidak ada petunjuk apa yang harus dilakukan," kritik Evy.

Evy mengatakan, manajemen rumah sakit harus lebih ketat keamanan dan ketertiban. Masalah kebersihan juga harus benar-benar diperhatikan. "Namanya rumah sakit, kalau kondisinya kotor susah. Lihat saja, orang buang ludah sirih di mana-mana, apalagi di dekat kamar bersalin, ada banyak ludah merah," ungkapnya.

Masalah keamanan dan ketertiban, lanjut Evy, selama ini disoroti masyarakat. "Kenapa orang yang datang jaga orang sakit harus banyak-banyak sampai tidur di lorong-lorong, bawa bantal dan tikar. Kan ada banyak satpam, kenapa tidak tegur mereka. Kenapa rumah sakit lainnya bisa lebih tertib. Lihat saja di Rumah Sakit Bhayangkara (RSB), begitu jam 9 malam (pukul 21.00 Wita), sudah ada pengumuman pintu keluar akan segera ditutup. Jadi pengunjung segera pulang," ujarnya.

Warga lainnya, Amelia Penu Dima mengatakan, pelayanan di rumah sakit umum sudah menjadi sorotan umum. "Kalau bisa ada pengumuman apa yang harus dilakukan, sehingga kita juga tidak bolak balik dari satu tempat ke tempat lain. Coba ada petunjuk mengenai pelayanan, kan orang  tidak bingung." saran Amelia.

Sementara Martha Penina menyarankan  pemerintah propinsi harus serius mengurus RSU Johannes Kupang karena rumah sakit itu  rumah sakit rujukan.  "Pemerintah harus serius  memperhatikan agar manajemen rumah sakit merasa mendapat dukungan. Kalau selama ini ada keluhan harusnya pemerintah tidak boleh tutup mata. Pemerintah harus cari tahu, apa yang terjadi sehingga keluhan ini tidak berulang terus. Kesannya seperti pemerintah tutup mata. Saya rasa pemerintah tutup mata karena kalau pejabat yang sakit, biasanya mereka ke luar daerah, bukan berobat di sini sehingga mereka tidak mengalami apa yang masyarakat kecil alami," katanya. (*/ira)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved