Selasa, 9 Juni 2026

Malaka

MALAKA menjadi kabupaten ke-22 di NTT, diresmikan 22 April di Jakarta oleh Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi. Hanya empat bulan tujuh hari

Tayang:
Editor: Alfred Dama
Parodi Situasi Oleh Maria Mathildis Banda

MALAKA menjadi kabupaten ke-22 di NTT, diresmikan 22 April di Jakarta oleh  Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi. Hanya empat bulan tujuh hari dari penetapan Malaka sebagai daerah otonomi baru, Jumat 14 Desember 2012 melalui  rapat paripurna DPR. Bertetangga langsung dengan Negara Timor Leste, khususnya Distrik Bobonaro dan Distrik Covalima, Malaka kita berkibar.

"Pulang, marilah pulang, pulang Malaka bersama-sama," Jaki menyanyi menari meloncat-loncat bangga dapat mendukung saudara-saudaranya pulang ke Malaka. Dengan satu kegembiraan yang sulit disembunyikan. "Kesempatan bagi tim sukses," katanya. Sudah pasti cabup-cawabup pilihan Jaki yang menang. Makanya tidak heran jika Jaki begitu riang gembira. Rasanya tiada hari tanpa bernyanyi. Lain halnya dengan Rara. Wajahnya tertekuk empat lima, kusut masai, karena kecewa.
"Kamu yang untung aku yang buntung," teriak Rara kesal bukan main.
                              ***
"Kamu orang pertama yang mengucapkan selamat kepadaku bukan?" Jaki heran melihat perubahan sikap perilaku Rara. Uring-uringan, gampang marah, suka tersinggung, dan yang terutama membangun permusuhan dengan ketiga sahabatnya.

"Apakah karena Nona Sara pacarmu pindah ke Malaka? He he he jaman teknologi komunikasi maju, terlalu banyak sarana untuk pacaran jarak jauh. Susah apa? Malaka dekat, hanya di depan hidungmu. Tiap minggu kamu bisa atur waktu kunjung pacar alias wakuncar. Sekali-sekali kamu bisa ajak Sara pacarmu nyeberang keluar negeri Timor Leste."

"Aku tetap tidak suka! Aku takut!"
"Takut cinta lokasi ya? Kamu cinlok, Sara juga cinlok? Ha ha disinilah kesetiaanmu diuji! Pemekaran Kabupaten, ada yang pindah wilayah, ada DOB, ada pemerintahan baru dan segalanya serba baru. Suasana pikiran dan perasaanmu juga harus baru."

"Aku tetap tidak mau!"
"Apa alasannya?"

                           ***
Oooh, ternyata gara-gara pilkada. Paket cabup cawabup yang didukung Jaki, pasti menang. Maklum saja Rara marah bukan main sebab sebagai tim sukses dia bakal gagal. Soalnya sebagian besar warga pendukung paket pilihannya ada di Malaka, masuk daerah otonomi baru alias DOB, kabupaten ke-22 di NTT. Menurut Rara, Benza salah besar, sebab ikut-ikutan berjuang untuk DOB Malaka.

"Semestinya jangan terlalu berjuang. Santai-santai saja  sampai pilkada Agustus berlangsung, setelah itu berjuanglah untuk DOB," demikian Rara. Apalagi kalau sampai paket pilihan Jaki yang menang, jantung Rara  berdebar-debar tidak karuan.
"Rara! Kamu ini benar-benar tipe pemimpin egois!" sambar Jaki.

"Berani benar kamu katakan aku egois! Tunjukkan bukti!" Teriak Rara. Maka Jaki dan Rara pun saling berteriak. Gara-gara pilkada kedua sahabat baik ini jadi kehilangan sopan santun untuk saling menghormati.

"Kamu mati-matian DOB Malaka ikut pilkada. Kamu paksa Benza supaya kasih pengaruh ke Bupati Belu untuk paksa kehendak DOB Malaka ikut pilkada!"  
"Kalau sampai Benza lakukan itu, sama artinya dengan kebijakan pro pribadi dan kelompok kepentingan, bukan pro rakyat," kata Nona Mia. "Dalam hal ini  saya setuju dengan Benza dan saya berada di belakang  bupati yang tegas mengatakan DOB Malaka tidak disertakan dalam Pemilu Kada Kabupaten Belu pada Agustus 2013 mendatang."
                        ***
"Kamu ini, sungguh-sungguh gelap mata," kata Nona Mia. "Logikanya sangat jelas bukan? Punya prinsip dan tahu aturan. Itu yang utama. Secara hukum dan fakta, Malaka sudah berstatus kabupaten sama dengan Belu. Jadi tentu saja tidak bisa ikut pilkada Belu.

"Tetapi aku takut, tetap takut!" kata Rara.
"Apa yang kamu takutkan Rara?" tanya Benza. "Kamu takut kalah pilkada ataukah kamu takut kehilangan Nona Sara?" Pertanyaan Benza langsung dijawab Rara meski hanya dalam hati. "Jelas, aku takut kalah pilkada dong!" Selanjutnya Rara pun buru-buru menjawab.

"Aku takut kehilangan Nona Sara pacarku," suara memelas Rara sayangnya tidak membuat Jaki terharu.
"Kalau tidak sanggup pacaran jarak jauh, pindah ke lain hati saja," Jaki enteng menjawab.

"Tidak mungkin. Cintaku hanya pada Nona Sara."
"Nah, aku tahu Nona Sara bukan tipe perempuan yang gampang pindah ke lain hati. Aku jamin," sambung Nona Mia. "Sekarang marilah kita atur langkah-langkah penting untuk mendukung Bupati yang tetap bersikeras bahwa DOB Malaka tidak ikut dalam Pilkada Belu,  Agustus 2013 mendatang. Kita sampaikan aspirasi kita melalui Benza yang terlibat dalam proses pilkada di Belu."

                               ***
"Setuju!" Jaki meloncat puas.
"Bagaimana dengan aku? Marah! Takut!" Rara kelimpungan plus kebingungan.
"Kamu ini, takut kehilangan Nona Sara atau takut kalah pilkada?"

"Takut kalah pilkada!" Tangis Rara meledak! "Eh, takut kehilangan Nona Sara! Eh takut kalah pilkada. Eh, bukan! Aku takut kehilangan Nona Pilkada."
Jaki menari-nari. Benza dan Nona Mia saling pandang. Ada apa dengan pilkada sampai Rara kegilangan kepercayaan diri mengelolah bahasa pikiran dan hatinya.

Untuk Malaka yang sudah jadi DOB untuk Nona Sara yang pindah ke Malaka. Untuk suksesi Pilkada Belu. Untuk persahabatan empat sekawan Jaki, Rara, Benza, Nona Mia. Kompleksitas masalah apapun yang terjadi, jangan sampai kehilangan rasa percaya, cinta, dan harga diri. *

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved