Selasa, 9 Juni 2026

Aleta Baun Dua Menit Bertemu Obama

Senin, 15 April 2013, menjadi hari dan tanggal bersejarah bagi perjalanan hidup Aleta Baun. Wanita berusia 41 tahun asal Kecamatan Molo Selatan

Tayang:
Penulis: maksi_marho | Editor: Alfred Dama

POS KUPANG.COM -- Senin, 15 April 2013, menjadi hari dan tanggal bersejarah bagi perjalanan hidup Aleta Baun. Wanita berusia 41 tahun asal Kecamatan Molo Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), itu pada tanggal 15 April 2013 berada di Kota San  Fransisco, Amerika Serikat.

Kehadiran Mama Aleta, begitu Aleta Baun disapa, di San Fransisco  untuk menerima penghargaan Goldman Environmental Prize 2013 dari Yayasan Lingkungan Hidup Goldman. Mama Aleta adalah salah satu dari enam nama yang tercatat sebagai pejuang lingkungan hidup tanpa rasa takut di dunia dan berhak meraih hadiah sebagai pejuang lingkungan hidup.

"Ketika saya menerima penghargaan Goldman Environmental Prize 2013 di San Fransisko, saya malah merasa penghargaan itu sebagai beban. Karena perusakan lingkungan akibat kegiatan tambang, kini masyarakat adat Molo, Amanatun dan Amanuban di Kabupaten TTS, mengalami krisis pangan. Konsentrasi kami ke depan membangun kembali pangan lokal untuk mengatasi krisis pangan akibat kegiatan tambang," kata Mama Aleta dalam jumpa pers di Kantor LSM PIKUL Kupang, Kamis (25/4/2013) siang.  Saat jumpa pers, Mama Aleta didampingi Deputi Direktur LSM PIKUL, Torry Kuswardono.

Menurut Mama Aleta, alam ini ibarat manusia. Karena itu, lanjutnya, sesuai kepercayaan orang Timor, tanah adalah daging, batu adalah tulang, air adalah darah,  tumbuhan atau hutan adalah kulit dan rambut manusia. "Jika kita merusak alam, maka kita merusak diri kita sendiri," ujarnya.

Oleh karena itu, lanjut Mama Aleta, ia bersama seluruh masyarakat adat Molo, Amanuban dan Amanatun berjuang keras  menyelamatkan lingkungan hidup dan alam sekitar yang dirusak karena kegiatan tambang marmer dan mangan.

Saat jumpa pers, Mama Aleta tampil seadanya. Mengenakan celana panjang dan baju kaos lengan panjang warna abu-abu. Ia menceritakan perjalanan perjuangannya dengan tenang dan semakin bersemangat ketika berbicara tentang bagaimana mempertahankan alam agar tidak dirusaki perusahaan tambang.

Mama Aleta adalah seorang petani yang pernah belajar di SMA Kristen SoE. Pada tahun 1999, istri dari Liftus Sanam yang telah memiliki dua orang anak ini, bergabung dan mendapat pendampingan dari LSM Sanggar Suara Perempuan.

Tetapi pada tahun 2004, Mama Aleta keluar dan bergabung dengan kelompok masyarakat Adat Molo. Di kelompok ini ia bersama masyarakat  berjuang menentang perusakan lingkungan yang dilakukan perusahaan tambang di wilayah Kabupaten TTS, khususnya di wilayah Molo di sekitar Gunung Mutis.

Dalam perjuangan ini, Mama Aleta tampil sebagai pemimpin masyarakat adat Molo dan  membangun kekuatan bersama masyarakat Amanuban dan Amanatun.

Perjuangan Mama Aleta ternyata tidak sia-sia. Apa yang mereka lakukan mendapat perhatian dunia. Mama Aleta pun dinobatkan sebagai peraih Goldman Environmental Prize 2013. Namanya pun melambung dan terkenal seantero jagat.

"Sekarang ini setelah kembali, saya akan terus berjuang menentang setiap upaya mengganggu dan merusak lingkungan. Jika ada kegiatan tambang yang merusak lingkungan, saya pasti ada di sana," kata Mama Aleta.

Meski demikian, Mama Aleta mengatakan, penghargaan yang diterimanya itu bukan untuk dirinya semata, melainkan untuk masyarakat adat di TTS. Karena semua itu berkat perjuangan bersama dan secara kebetulan dirinya dipilih mewakili masyarakat adat di Kabupaten TTS dan negara Indonesia pada umumnya.

 "Sekarang ini setelah perusahaan tambang pergi, kami harus fokus perjuangan mengatasi krisis pangan. Kami harus kembalikan pangan lokal," tutur Mama Aleta.

Bertemu Obama
Mama Aleta mengatakan, saat berada di Amerika Serikat, mereka dibawa ke Kota Washington dan bertemu Presiden Amerika, Barack Obama.

"Kami bertemu Presiden Amerika Serikat, Barack Obama  dua menit. Presiden Obama menyapa kami dalam bahasa Indonesia. Barack Obama sempat bertanya tentang asal saya karena saya sendiri yang berasal dari Indonesia. Ke Amerika saya didampingi petugas dari LSM Samdhana-Jakarta," tutur wanita kelahiran Desa Lelobatan-Molo Utara, TTS, 16 Maret 1963 ini.

Sementara Deputi Direktur LSM PIKUL, Torry Kuswardono mengatakan, satu hal penting yang menjadi inspirasi dari pesan perjuangan Mama Aleta adalah kalimat yang menyatakan bahwa "Kami hanya akan menjual apa yang kami bisa buat, kami tidak akan menjual apa yang kami tidak buat, demi anak cucu".


Dan, hal ini sangat memberi inspirasi bagi pihak pengadilan di Amerika Serikat. "Artinya, yang bisa dijual hanyalah yang kita bisa buat, sedangkan yang tidak bisa dibuat adalah milik Tuhan dan itu adalah milik anak cucu kita," kata Torry. *

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved