Sabtu, 20 Desember 2014
Pos Kupang

Wamendiknas: Kurikulum 2013 Tidak Berlaku Massal

Selasa, 23 April 2013 22:22 WITA

Wamendiknas: Kurikulum 2013 Tidak Berlaku Massal
Antara
Musliar Kasim, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan.
POS KUPANG.COM, KEFAMENANU -- Kurikulum 2013 tidak diberlakukan secara massal pada semua sekolah Juli 2013 mendatang, hanya pada sekolah-sekolah sample yang dipilih. Para guru pada sekolah yang dipilih akan mengikuti pelatihan sebelum kurikulum dilaksanakan.

Demikian penjelasan Wakil Menteri (Wamen) Pendidikan dan Kebudayaan RI, Prof. Dr. Ir. Musliar Kasim, M.S, kepada Pos Kupang di Kefamenanu ketika memantau ujian nasional (UN) SMP, Senin (22/4/2013).

Di Kefamenanu, Wamen Kasim yang didampingi Ketua Panitia UN Propinsi NTT, Prof. Dr. Frans Umbu Datta, M.App. M. Sc; Kadis PPO NTT, Klemens Meba;  Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Raymundus Sau Fernandes, S.Pt; Kadis PPO TTU, Drs. Vinsensius Saba, memantau UN di SMP Katolik Aurora.

Wamen Kasim menjelaskan, pelaksanaan Kurikulum 2013 memberi ruang belajar yang lebih terbuka kepada anak-anak tingkat sekolah dasar (SD) untuk tidak terus dipaksa belajar dalam ruangan yang kaku, dengan jumlah mata pelajaran yang menuntut peserta didik harus menghafal serta menguasainya. Menurutnya, ada sejumlah mata pelajaran seharusnya belum bisa diajarkan di tingkat SD karena masih terlalu berat.

"Kalau saudara masih punya anak kecil sekolah di SD, saudara harus berbahagia menanti diberlakukannya Kurikulum 2013 ini. Karena anak Anda akan belajar dengan bahagia, tidak lagi seperti yang saat ini," jelas Kasim.

Mengenai penambahan jam pelajaran untuk pendidikan agama,  Kasim menyebut alasannya karena selama ini pelajaran agama dianggap tidak berhubungan dengan budi pekerti. "Kenyataannya berhubungan sehingga mata pelajaran agama diganti menjadi mata pelajaran agama dan budi pekerti," tegasnya.

Ihwal  pengurangan jam pelajaran bahasa Inggris, Kasim menegaskan, itu hanya terjadi pada tingkat SD. Mata pelajaran bahasa Inggris dikategorikan dalam kelompok mata pelajaran muatan lokal sehingga tidak dimasukkan sebagai bagian dari kurikulum.

"Kalau dimasukkan dalam kurikulum berarti wajib untuk diajarkan. Kalau semua wajib, di kampung saya saja, saya yakin tidak semua SD memiliki guru bahasa Inggris. Jadi, kita tidak wajibkan untuk SD. Baru wajib pada saat masuk SMP, karena bahasa Inggris sudah masuk sebagai mata pelajaran kurikulum di tingkat SMP dan SMA. Bagi SD-SD yang memiliki kemampuan dengan tersedianya guru bahasa Inggri, dan fasilitasnya mendukung, silakan diajarkan," jelas Kasim.

Kasim menegaskan, dengan sistem pemilihan sekolah berdasarkan persentasi jumlah sekolah di setiap kabupaten yang ada di seluruh Indonesia, khusus untuk tingkat SD, hanya akan terdapat lima, sampai dengan 10 SD yang akan ditetapkan menjadi sample untuk diterapkan kurikulum 2013 mulai tahun ajaran 2013/2014, bulan Juli 2013 mendatang.

Kasim menjelaskan, penerapan Kurikulum 2013 berdasarkan masukan dari berbagai pihak karena Kurikulum 2006 dengan pola KTSP sangat rumit dengan jumlah mata pelajaran yang banyak. Kurikulum 2013 ini lebih simpel karena siswa hanya belajar ilmu agama dan tematik.

"Kurikulum 2013 ini sangat simpel dan sangat membantu siswa. Tidak banyak pelajaran yang diperoleh siswa tapi hanya pelajaran agama dan tematik. Kurikulum 2006 dengan pola KTSP justru sangat membebani para guru dengan penyusunan silabus," tutur Wamen Kasim.

Kepala Dinas PPO NTT, Klemens Meba, meminta kepada Wamen Kasim untuk menjelaskan Kurikulum 2013 kepada para kepala sekolah di Kota Kupang hari ini karena terdapat sejumlah kepala sekolah di Kota Kupang sempat menyatakan menolak Kurikulum 2013. Permintaan ini langsung direspons oleh Kasim. "Kalau saudara mau ikut dalam presentasi saya mengenai Kurikulum 2013, boleh ikut besok (hari ini, Red) di Kupang," tandasnya. (meo/yon)
Editor: alfred_dama
Sumber: Pos Kupang

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas