Selasa, 9 Juni 2026

UN Atau Cerai

BIASANYA setiap dua puluh satu April seisi rumah sibuk bantu mama ke salon untuk sasak rambut sampai tinggi dan pakai konde modern model

Tayang:
Editor: Alfred Dama

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda

BIASANYA setiap dua puluh satu April seisi rumah sibuk bantu mama ke salon untuk sasak rambut sampai tinggi dan pakai konde modern model terbaru. Ditambah sewa bemo antar mama pergi ikut upacara mengenang Hari Kartini.

Mama kelihatan cantik, anggun, lemah lembut, dan terutama jalannya lenggak-lenggok gemulai. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir ini mama bilang, tidak mau sasak dan konde  lagi.

Rambut mama sudah potong model super pendek mirip cepak. Menurut mama, biar praktis. Dua puluh satu April tahun ini mama berbaju kemeja putih lengan panjang digulung, isi dalam dengan celana jeans ketat, ikat pinggang merah besar, sendal hak tinggi 9 senti, tas merah menyalah melintang di bahu. Dengan lipstik merah menyalah, kuku kaki tangan merah menyalah, sal merah menyalah, kaca mata hitam besar, mama tampak lain daripada lain.
                                  ***
"Mama seperti artis," demikian komentar Pak Rara.
"Terus kamu apa! Mau larang? Mau atur-atur saya jalan?" teriak Nyonya Rara.
"Penampilan mama yang terlalu ABG," sambung Rara Yunior yang terpaksa melepas buku latihan UN dari tangannya dan memperhatikan dandanan mamanya dari ujung rambut sampai ujung kaki.

"Betul mama! Sadar usia, ma!" kata Rara dengan suara disabar-sabarkan.
"Memangnya kamu yang beli? Aku pakai duit kamu? Jeans, hem, sendal, dan segalanya yang mahal-mahal ini dari kamu ya? Enak saja kritik ini itu. Suka-suka saya mau beli apa pakai apa? Duit duit saya! Awas kamu! Macam-macam kita cerai cerai cerai," teriak Nyonya Rara menjadi-jadi. Rara kaget setengah mati, Rara Yunior lebih kaget dan pingsan.  "Cerai?"
"Ya ceraiiiiii," Nyonya Rara pun banting pintu lari ke jalan, tahan ojek, dan kabur.

                                                  ***
Aduh mama! Baru naik ojek saja sudah sombong setengah mati, apalagi kalau sudah bisa naik mobil? Bisa kiamat! Rara tertunduk lesu tidak berdaya menghadapi istrinya. Yunior yang baru siuman terheran-heran menghadapi kenyataan. Pada hal besok masih UN dan sangat kuatir dengan hasil UN nanti. Dia yakin lulus namun tekanan yang dihadapinya menjelang UN, tunda UN, soal fotocopy, lembar jawaban dan ketegangan pengawasan saat ujian membuatnya hati dan pikirannya kacau balau.

"Rara, istriku sudah jadi artis!" Tiba-tiba Jaki muncul. "Dia tuntut cerai, cerai, cerai gara-gara pria idaman lain. Dia mau ikut-ikutan artis yang kawin cerai, lebih parah lagi dia mau ikut-ikutan wakil rakyat yang tiap hari muncul di televisi urusan cerai. Mau dengar apa katanya?"

"Apa katanya?"
"Wah hebat itu, wakil rakyat panutanku cerai apalagi aku. Tidak peduli apa alasannya, yang pasti aku juga mau cerai, dia berteriak-teriak," Jaki memegang kepalanya kuat-kuat.
"Sekarang di mana Tanta Jaki?" tanya Yunior.

"Kabur pake ojek!" Jaki terduduk lemas. "Sama denganmu besok anakku  juga masih UN. Mana uang sekolah aku masih utang kiri kanan, mana anakku stress hadapi UN, UN tunda, aku benar-benar pusing."
"Waduh, sama dong. Baru naik ojek saja sudah sombong, bagaimana kalau mobil?"

                               ***
"Mana lebih heboh UN amburadul atau cerai bagai artis atau cerai bagai wakil rakyat di televisi?" tanya Nona Mia saat Jaki dan Rara datang mengadu.
"Tentu saja UN yang lebih heboh!" Benza yang jawab.  

"Jadi untuk apa pikiran ancaman cerai istri kalian?" sambung Nona Mia.
"UN yang penting. Berantakan amat urusannya. Si Bos salahkan percetakan, percetakan salahkan si Bos, saling lempar kesalahan sana sini, dari eselen paling tinggi sampai ke non eselon saling tuding tidak karuan," demikian kata Benza. "Kenapa tidak cetak di Propinsi, atau di setiap kabupupaten, setiap pulau, kenapa kita tidak dipercaya? Sistem keamanan dan kerahasiaannya dapat direncanakan dengan baik bukan?"

"Aduh, Benza jangan banyak omong! Aku pikirkan istriku yang mau ceraikan aku?" Rara setengah mati menahan diri untuk tidak menangis.

                                  ***
"Sudahlah Rara! Jaki!" kata Nona Mia. "Kamu ini, mau urus istri atau urus anak?"
"Istri eh anak eh dua-duanya?"

"Sekarang ini lagi zaman cerai zaman selingkuh zaman sms alias sarana menuju selingkuh. Santai saja lagi. Kalau istrimu tuntut cerai, kamu jangan emosi, tenang saja! Biarkan saja, nanti juga pulang kembali ke dalam pelukkanmu. Istri-istri kalian itu hanya gertak sambal! Percaya!"

"Jadi sebaiknya pulang, dan urus anakmu yang lagi UN. Ajak anakmu jalan-jalan santai di pinggir pantai, di tepian bukit, ke taman kota, atau ke mana saja yang suasananya nyaman," kata Benza.


"Hari ini Hari Kartini? Tokoh perempuan pejuang pendidikan yang luar biasa bukan? Rayakan martabat hari ini bersama anakmu. Beri dia kekuatan untuk hadapi UN besok dan lusa dengan percaya diri dan yakin!"

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved