Pendapat Guru Besar Undana Tentang Kurikulum 2013

AKHIR-akhir ini Kurikulum 2013 menjadi salah satu topik hangat di media massa, termasuk di Harian Pos Kupang ini.

Pendapat Guru Besar Undana Tentang Kurikulum 2013
Ist
Prof.Feliks Tan

Kegagalan itu terlihat, misalnya, pada kurikulum yang isinya begitu padat sehingga menyita begitu banyak waktu murid untuk menguasainya, namun setelah itu mereka menganggur; yang bekerjapun terlibat aksi negatif seperti korupsi dan main hakim sendiri.  Itu antara lain, hasil kurikulum yang kurang pas dengan perkembangan zaman dan kurang relevan dengan minat, bakat, dan kebutuhan belajar murid.

Persoalannya adalah bagaimana membuat sebuah kurikulum begitu cocok dengan zamannya dan begitu relevan dengan minat, bakat, dan kebutuhan belajar muridnya sehingga dia mampu menghasilkan lulusan yang baik dan sukses.   

Kurikulum 2013 berusaha menjawab persoalan itu, namun banyak pihak menunda pelaksanaannya (misalnya, sekolah Katolik dan Kristen se-Indonesia) dan/atau menolaknya (misalnya, Federasi Serikat Guru Indonesia dan Federasi Guru Independen Indonesia, serta Koalisi Pendidikan) karena, antara lain, kelemahan fundamental yang melekat dalam diri kurikulum itu sendiri.  

                           
Kelemahan
Salah satu kelemahan Kurikulum 2013 adalah sifatnya yang sentralistis.  Kurikulum itu disusun oleh Kemdikbud untuk semua sekolah dan murid di seluruh Indonesia.  Persoalannya adalah apakah isinya sesuai dengan minat, bakat, dan kebutuhan belajar para murid dari Sabang sampai Merauke, kini dan nanti?  Pasti tidak, karena minat, bakat, dan kebutuhan belajar jutaan murid begitu bervariasi; membuatnya seragam via kurikulum nasional mustahil.

Ada, memang, kebutuhan belajar murid yang seragam.  Untuk SD, misalnya, semua murid berkemauan untuk dapat membaca, menulis, dan berhitung (Calistung) secara sederhana.  Karena itu, bahan ajar mata pelajaran Calistung boleh seragam pada level itu.  Selain itu, bahan ajar mata pelajaran agama atau pendidikan kewarganegaraan yang kompetensi inti dan/atau dasarnya berkaitan dengan, antara lain, pengenalan, penghayatan, dan pengamalan nilai-nilai universal seperti kerja keras, disiplin, jujur, toleran, demokratis, suka menolong, dan tidak merusak boleh sama pada semua level pendidikan.  Akan tetapi, (bahan ajar) mata pelajaran lain, sejatinya, harus berbeda dari sekolah ke sekolah dan, bahkan, dari murid ke murid karena kebutuhan belajar, bakat/potensi, dan minat murid yang begitu beragam.  

Ketika Kurikulum 2013 membuat semuanya seragam, pada saat itu pendidikan tidak lagi fokus pada murid, sesuatu yang, tentu, salah.  Pengabaian murid sebagai fokus pembelajaran pada Kurikulum 2013 terlihat, misalnya, pada landasan filosofis tradisionalnya yang berpusat pada mata pelajaran, pengajar, bidang ilmu, dan pedagogi.  Padahal, dalam perkembangan pendidikan global, pandangan filosofis tradisional itu sudah diganti oleh padangan filosofis progesif yang menempatkan murid sebagai pusat pembelajaran (Doni Koesoema A. 2012.  "Ekletisme Kurkulum 2013," dalam Kompas, 5 April 2013, hlm. 7).

Memang ada pengurangan jumlah mata pelajaran pada Kurikulum 2013 sebagai salah satu upaya untuk mengikuti alur pikir progresif tersebut, namun pengurangan itu berangkat dari pemahaman yang salah: seolah-olah jumlah mata pelajaran yang banyak yang menimbulkan masalah.  Padahal, yang menjadi masalah dalam dunia pendidikan Indonesia bukan jumlah mata pelajarannya, tetapi kurang sesuainya mata pelajaran itu dengan bakat, minat, dan kebutuhan belajar murid.  

Artinya, seorang anak yang berminat pada berbagai mata pelajaran karena berbakat dan berkebutuhan belajar dalam berbagai mata pelajaran itu, tentu, akan selalu belajar dengan semangat.  Sebaliknya, walaupun hanya satu mata pelajaran yang diajarkan, murid pasti malas untuk mempelajarinya kalau mata pelajaran itu tidak sesuai dengan minat, bakat, dan kebutuhan belajarnya.   Karena itu, sejatinya yang diatur dalam kurikulum bukan jumlah mata pelajaran, tetapi kesesuaiannya dengan minat, bakat, dan kebutuhan belajar murid untuk membuat murid tersebut aktif dalam belajar.  Ini sesungguhnya hakikat dari paradigma pembelajaran yang berpusat pada murid, sesuatu yang hilang dalam Kurikulum 2013.

Dalam paradigma itu, pendidikan berarti membuat murid belajar, yaitu proses dia berpindah dari ketidakmandirian (proximal) kepada kemandirian atau actual development (Mind in Society oleh L. S. Vygotsky,   1978).  Dalam proses itu, C. R. Rogers (Freedom to Learn, 1983: 20) mengingatkan, ada lima unsur penting, yaitu keterlibatan total murid, inisiasi belajar dan evaluasi oleh murid, sifatnya pervasif (berdaya mengubah murid menjadi lebih baik), dan bermakna.  Kelima unsur itu harus mendarah daging dalam diri murid untuk membuatnya sukses dalam hidupnya.  Ini, tentu, hanya bisa terjadi jika, antara lain, kurikulumnya bottom-up.
                  
Kurikulum Bottom-up
Menurut filsafat pendidikan Rogerian tersebut, kurikulum disusun guru setelah tahu kebutuhan belajar, bakat, dan minat muridnya.  

Sifatnya bottom-up dan alurnya sederhana: Pertama, (calon) murid masuk lembaga pendidikan tertentu; Kedua, guru mewawancarai dan mengobservasinya untuk mengetahui, misalnya, bakat, minat, kebutuhan belajar, sikap, keterampilan, pengetahuan dasar, dan kehendaknya, yaitu apakah dia mau memperdalam pengetahuan dan pengamalan agama atau memperbaiki sikap atau meningkatkan keterampilan atau pengetahuan atau kombinasi keempatnya; Ketiga, sang murid menentukan pilihan dengan bimbingan cerdas dari orang yang mengenalnya dengan baik.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: alfred_dama
Sumber: Pos Kupang
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help