• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 31 Oktober 2014
Pos Kupang

Pendapat Guru Besar Undana Tentang Kurikulum 2013

Minggu, 21 April 2013 22:28 WITA
Pendapat Guru Besar Undana Tentang Kurikulum 2013
Ist
Prof.Feliks Tan
AKHIR-akhir ini Kurikulum 2013 menjadi salah satu topik hangat di media massa, termasuk di Harian Pos Kupang ini.  Persoalan seperti isi, metode, anggaran, waktu pemberlakuan, kesiapan guru dan sekolah, serta pengadaan buku pendukungnya sering menjadi berita besar.  Itu sekaligus menunjukkan besarnya harapan bangsa ini terhadap sebuah kurikulum baru untuk menggantikan kurikulum sekarang yang dinilai gagal.

Kegagalan itu terlihat, misalnya, pada kurikulum yang isinya begitu padat sehingga menyita begitu banyak waktu murid untuk menguasainya, namun setelah itu mereka menganggur; yang bekerjapun terlibat aksi negatif seperti korupsi dan main hakim sendiri.  Itu antara lain, hasil kurikulum yang kurang pas dengan perkembangan zaman dan kurang relevan dengan minat, bakat, dan kebutuhan belajar murid.

Persoalannya adalah bagaimana membuat sebuah kurikulum begitu cocok dengan zamannya dan begitu relevan dengan minat, bakat, dan kebutuhan belajar muridnya sehingga dia mampu menghasilkan lulusan yang baik dan sukses.   

Kurikulum 2013 berusaha menjawab persoalan itu, namun banyak pihak menunda pelaksanaannya (misalnya, sekolah Katolik dan Kristen se-Indonesia) dan/atau menolaknya (misalnya, Federasi Serikat Guru Indonesia dan Federasi Guru Independen Indonesia, serta Koalisi Pendidikan) karena, antara lain, kelemahan fundamental yang melekat dalam diri kurikulum itu sendiri.  

                           
Kelemahan
Salah satu kelemahan Kurikulum 2013 adalah sifatnya yang sentralistis.  Kurikulum itu disusun oleh Kemdikbud untuk semua sekolah dan murid di seluruh Indonesia.  Persoalannya adalah apakah isinya sesuai dengan minat, bakat, dan kebutuhan belajar para murid dari Sabang sampai Merauke, kini dan nanti?  Pasti tidak, karena minat, bakat, dan kebutuhan belajar jutaan murid begitu bervariasi; membuatnya seragam via kurikulum nasional mustahil.

Ada, memang, kebutuhan belajar murid yang seragam.  Untuk SD, misalnya, semua murid berkemauan untuk dapat membaca, menulis, dan berhitung (Calistung) secara sederhana.  Karena itu, bahan ajar mata pelajaran Calistung boleh seragam pada level itu.  Selain itu, bahan ajar mata pelajaran agama atau pendidikan kewarganegaraan yang kompetensi inti dan/atau dasarnya berkaitan dengan, antara lain, pengenalan, penghayatan, dan pengamalan nilai-nilai universal seperti kerja keras, disiplin, jujur, toleran, demokratis, suka menolong, dan tidak merusak boleh sama pada semua level pendidikan.  Akan tetapi, (bahan ajar) mata pelajaran lain, sejatinya, harus berbeda dari sekolah ke sekolah dan, bahkan, dari murid ke murid karena kebutuhan belajar, bakat/potensi, dan minat murid yang begitu beragam.  

Ketika Kurikulum 2013 membuat semuanya seragam, pada saat itu pendidikan tidak lagi fokus pada murid, sesuatu yang, tentu, salah.  Pengabaian murid sebagai fokus pembelajaran pada Kurikulum 2013 terlihat, misalnya, pada landasan filosofis tradisionalnya yang berpusat pada mata pelajaran, pengajar, bidang ilmu, dan pedagogi.  Padahal, dalam perkembangan pendidikan global, pandangan filosofis tradisional itu sudah diganti oleh padangan filosofis progesif yang menempatkan murid sebagai pusat pembelajaran (Doni Koesoema A. 2012.  "Ekletisme Kurkulum 2013," dalam Kompas, 5 April 2013, hlm. 7).

Memang ada pengurangan jumlah mata pelajaran pada Kurikulum 2013 sebagai salah satu upaya untuk mengikuti alur pikir progresif tersebut, namun pengurangan itu berangkat dari pemahaman yang salah: seolah-olah jumlah mata pelajaran yang banyak yang menimbulkan masalah.  Padahal, yang menjadi masalah dalam dunia pendidikan Indonesia bukan jumlah mata pelajarannya, tetapi kurang sesuainya mata pelajaran itu dengan bakat, minat, dan kebutuhan belajar murid.  

Artinya, seorang anak yang berminat pada berbagai mata pelajaran karena berbakat dan berkebutuhan belajar dalam berbagai mata pelajaran itu, tentu, akan selalu belajar dengan semangat.  Sebaliknya, walaupun hanya satu mata pelajaran yang diajarkan, murid pasti malas untuk mempelajarinya kalau mata pelajaran itu tidak sesuai dengan minat, bakat, dan kebutuhan belajarnya.   Karena itu, sejatinya yang diatur dalam kurikulum bukan jumlah mata pelajaran, tetapi kesesuaiannya dengan minat, bakat, dan kebutuhan belajar murid untuk membuat murid tersebut aktif dalam belajar.  Ini sesungguhnya hakikat dari paradigma pembelajaran yang berpusat pada murid, sesuatu yang hilang dalam Kurikulum 2013.

Dalam paradigma itu, pendidikan berarti membuat murid belajar, yaitu proses dia berpindah dari ketidakmandirian (proximal) kepada kemandirian atau actual development (Mind in Society oleh L. S. Vygotsky,   1978).  Dalam proses itu, C. R. Rogers (Freedom to Learn, 1983: 20) mengingatkan, ada lima unsur penting, yaitu keterlibatan total murid, inisiasi belajar dan evaluasi oleh murid, sifatnya pervasif (berdaya mengubah murid menjadi lebih baik), dan bermakna.  Kelima unsur itu harus mendarah daging dalam diri murid untuk membuatnya sukses dalam hidupnya.  Ini, tentu, hanya bisa terjadi jika, antara lain, kurikulumnya bottom-up.
                  
Kurikulum Bottom-up
Menurut filsafat pendidikan Rogerian tersebut, kurikulum disusun guru setelah tahu kebutuhan belajar, bakat, dan minat muridnya.  

Sifatnya bottom-up dan alurnya sederhana: Pertama, (calon) murid masuk lembaga pendidikan tertentu; Kedua, guru mewawancarai dan mengobservasinya untuk mengetahui, misalnya, bakat, minat, kebutuhan belajar, sikap, keterampilan, pengetahuan dasar, dan kehendaknya, yaitu apakah dia mau memperdalam pengetahuan dan pengamalan agama atau memperbaiki sikap atau meningkatkan keterampilan atau pengetahuan atau kombinasi keempatnya; Ketiga, sang murid menentukan pilihan dengan bimbingan cerdas dari orang yang mengenalnya dengan baik.

Berdasarkan minat, bakat, dan kebutuhan belajar murid itulah, kurikulum diseleksi sendiri oleh sang murid.  Mustahilkah itu? Tidak juga.  Di Amerika Serikat, itu bukan sesuatu yang aneh.  Di negara super power itu, kurikulum dapat diseleksi sendiri oleh murid berdasarkan minat dan kemampuannya saat itu (Freedom to Learn oleh C. R. Rogers, 1983: 68).  

Ketika sebuah lembaga pendidikan tidak punya sumber daya manusia yang memadai untuk membantu muridnya belajar, lembaga itu mendatangkan guru atau orang yang kompeten dari lembaga lain.  Bahan ajar, buku, dan media pembelajaran lainnya disediakan dan, tentu, bisa dikompilasi dari berbagai sumber.  Tidak ada monopoli, apalagi melarang penerbit menerbitkan buku teks.

Pengelompokan rombongan belajar dilakukan sesuai minat, bakat, dan kebutuhan belajar murid, bukan usianya.  Yang mau belajar matematika, misalnya, dipisahkan dari mereka yang belajar fisika atau kimia atau bahasa atau ekonomi atau menari atau menyanyi atau bermain bola kaki atau apapun.  Tidak ada pembelajaran ganda kecuali bila itu dikehendaki murid sesuai dengan minat, bakat, dan kebutuhan belajarnya.

Evaluasi dilakukan bukan oleh pemerintah melalui ujian nasional (UN), tetapi oleh guru dan murid itu sendiri.  Dari kedua evaluasi itu, hasil evaluasi murid yang menentukan.  Artinya, jika seorang guru menyatakan seorang murid lulus, tetapi jika sang murid merasa dirinya belum layak lulus dan merasa harus mengulang topik tertentu, bahkan juga mengulang kelas, dia mengulang.  Ini logis karena murid, sejatinya, lebih mengenal dirinya sendiri daripada orang lain.  

Seperti soal seleksi kurikulum, evaluasi diri seperti itu juga bukan sesuatu yang tak mungkin.  Di Amerika Serikat, misalnya, murid diberi peluang untuk menguji dirinya sendiri (self-testing), mengevaluasi diri (self-evaluation), dan menentukan tujuan sendiri (self-set goals).  Semua itu, menurut C. R. Rogers (Freedom to Learn, 1983, hlm. 68) berawal dari pemahaman murid yang kuat akan makna agung dari apa yang dipelajarinya bagi masa depannya.

Tanpa pemahaman itu, murid tidak total dalam belajar, belajar hanya bila disuruh, dan yang dipelajari jarang membuat sikap hidupnya lebih baik.   Akibatnya, di sekolah dia belajar banyak hal dan lulus, tetapi setelah sekolah menganggur; belajar kejujuran, tetapi ketika bekerja korupsi; dan, belajar fisika atau ekonomi atau apapun, tetapi tetap tak paham.  Hasil pembelajaran dalam lingkungan kurikulum yang jauh dari kebutuhan belajar, bakat/potensi, dan minat murid memang demikian.

Itu tentu, tidak boleh lagi terjadi; kurikulum sekolah harus sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan kebutuhan belajar murid.  Karena itu, dalam penyusunannya guru harus dilibatkan supaya implementasinya sukses.  Jangan seperti sekarang, guru menjadi robot (Pos Kupang, 13 Maret, 2013, hlm. 1).   Ketika guru jadi robot, mungkinkah muridnya sukses?  Pasti gagal, bukan?
                                         Kesimpulan
Kurikulum yang disusun secara sentral, top-down, tanpa fokus, dan mengabaikan kebutuhan belajar, bakat/potensi, dan minat murid adalah kegagalan.  Sayangnya, kurikulum seperti itu kini lagi dikonstruksi bangsa ini dalam bentuk Kurikulum 2013 yang diberlakukan secara bertahap mulai tahun ini.  Bisa ditebak, hasilnya akan tetap sama: tamatan pada umumnya gagal.

Para guru profesional yang bijak yang tahu kebutuhan belajar, potensi/bakat, dan minat muridnya, tentu tidak mau muridnya gagal. Karena itu, mereka  harus mengganti kurikulum yang kini berlaku, tetapi bukan dengan Kurikulum 2013 karena dia sendiri dengan sifatnya yang top down penuh dengan kekurangan.  

Gantilah dengan kurikulum mereka sendiri yang pas dengan minat, bakat, dan kebutuhan belajar muridnya untuk membuatnya sukses dan baik di dan setelah sekolah.   Beranikah guru melakukan itu? Demi muridnya yang baik dan sukses, mereka harus berani.

Ketika para guru punya kurikulum sendiri, tugas pemerintah ini: siapkan dana dan kontrol pendidikan secara ketat untuk menjamin bahwa semua guru mengajar dengan sungguh-sungguh dan bahwa semua murid belajar secara total, tentu, dalam rambu-rambu Pancasila sebagai dasar negeri ini.  Jika itu dilakukan, bangsa ini akan segera menjadi bangsa yang besar.  Mengapa tidak? *
Editor: alfred_dama
Sumber: Pos Kupang
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas