PUISI-PUISI MARGARETA FEBRIANA RENE

Semusim bersemi menyemir langit-langit kusam Kembali membiru sempurna menanti hadirnya purnama Sampai jauh kesana aku masih ingat sahabat

Adakah cinta yang memerah pada Sabtu?
Ketika memikirkannya aku ingin mematuhinya
Tidak! kata sang malaikat ternama
Sabtu manjakan aku tuk menikmati kepergian lelah

Dari satu hingga enam aku tak ingat selain Sabtu
Dalam coretan setiap abadi aku ingin sabtu hadir
Dari timur hingga barat aku hanya ingat sabtu

Sabtu buat aku pulang saudaraku...
Sabtu buat aku berkumpul bersama keluarga
Sabtu buat aku tinggalkan tempat bertugas sepekan
Terima kasih Sabtuku...


Minggu

Aku menunggu kian terteggun tak meragu
Sabtu bicara,
"Ku pikir akulah yang terindah pada hari..
Tidak Sabtuku,
penghujung waktu sepekan masih minggu yang kunanti
Derai derapan berdering mendetakkan waktu demi waktu
Ada siapa saja dibalik pagi, siang, ataukah malam??
Entahlah.. sekiranya cawan tertanam dalam beningnya suci membaca hati
Air mata kasih menetes pada
gambaran embun tuk
membasu jiwa-jiwa yang membara
Gemericik aliran lembut
hempaskan bebatuan berlumut tipis
Dan seribu pipit bersiul merdu
bak seruling lagukan nyanyian alam
Lalu ciptaan Tuhan yang mulia
bergembira serukan kebesaran cinta
Oh Tuhanku..  
betapa mulianya semua ini,
semua itu dan segalanya
Terimalah syukur dan pji-pujianku
yang kan mengarung jauh
Kelak syairku menjadi doa
dalam bisikan-bisikan gerimis


 Kubuka Sejarah Lama

Seperti mimpi  terang
Pagi itu datang tanpa mengintip
Risau memisahkan rasa
dari rasa yang terbila pisau
Bagaimana mungkin
aku menangis menjerit dalam seduh
Saat semua kata selalu sama saja
aku kembali pada waktu yang pergi
Memutar memori buka sejarah lama
Di sana terukir kisah seribu nyawa
Darah mengalir bak
 sungai bergulir bebas lelap
Kumainkan intonasi
bersemangat dalam kesedihan
Darimana datangnya sang penguasa itu
Menjajah tanpa jiwa,
hanya raga semakin kekar
Aku benci membaca surat-surat kusam
Aku tak suka janji-janji palsu
Lihatlah pahlawanku,
berikan nyawa seutuh hati
Meninggalkan perjuangan dan pergi tanpa pamri
Duniaku lama sudah terjajah,
terperangkap dalam belitar berduri
Aku terniang mendayung terbawa arus cerita
Sungguh luar biasa bangsaku pahlawanku.*
   

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help