Minggu, 21 Desember 2014
Pos Kupang

Kol Pnb. Eko Dono Indarto, SIP: Kupang Bukan Tempat Baru

Selasa, 9 April 2013 11:40 WITA

Kol Pnb. Eko Dono Indarto, SIP: Kupang Bukan Tempat Baru
POS KUPANG/MUHLIS AL ALAWI
Kolonel Pnb. Eko Dono Indarto, SIP
POS KUPANG.COM -- Sebagai satuan Angkatan Udara, Pangkalan Udara  (Lanud)  El Tari Kupang memiliki peran penting dalam setiap operasi militer di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), apalagi saat ini Lanud El Tari merupakan satu- satunya pangkalan udara yang ada di wilayah selatan Indonesia.

Karena pentingnya posisi Lanud El Tari serta kebutuhan lainnya, maka Lanud El Tari telah ditingkatkan dari tipe C ke Tipe B, yang mana komandan satuan sebelumnya berpangkat Letnan Kolonel (Letkol), kini komandan berpangkat Kolonel.

Pos Kupang yang berkesempatan berbincang-bincang dengan sang komandan, Rabu (20/3/2013), banyak mendapat gambaran mengenai fungsi dan tugas satuan matra udara di NTT ini.

Selain berbincang-bincang tentang tugas, ayah tiga anak ini banyak bercerita tentang pengalamannya saat bertugas sebagai penerbang TNI AU. Dan, baginya Kota Kupang dan NTT pada umumnya bukan tempat yang baru karena sebagai penerbang, suami dari Asiana Saptareni Hapsari, SP ini sering bahkan pernah tinggal di Kupang saat melaksanakan tugas sebelum menjadi Danlanud El Tari. Berikut petikan perbincangan Kolonel Eko dengan Pos Kupang.


Lanud El Tari saat ini dikomandani perwira berpangkat Kolonel, apa pertimbangannya?

Pangkalan Udara (Lanud) El Tari sudah dinaikkan kelasnya dari tipe C ke tipe B. Dulu komandannya Letkol, sekarang sudah kolonel. Ini adalah kebijkan di level atas dengan pertimbangan strategi. Dalam perkembangan pada masa kini, negara sudah mengembangkan kekuatan pokok minimum  tahap pertama sampai dengan 2014 dan tahap kedua 2019 dan 2014.

Ini kebijakan pemerintah. Kalau kita lihat kesetaraan di lingkungan NTT sekarang ini, TNI  AL di NTT sudah dimpimpin oleh komandan berbintang satu, di Korem juga sudah berbintang satu. TNI AU mengikuti perkembangan naik menjadi kolonel, Lanud El Tari juga naik bersama pangkalan-pangkalan TNI AU lainnya. Tidak hanya Lanud El Tari saja, ini dalam rangka menyongsong tugas itu tadi, untuk  memenuhi kebutuhan pokok minimum.

Bagaimana dengan tugas Lanud El Tari di NTT ini?
Berbicara visi dan misi Lanud El Tari Kupang ini tidak berbeda dengan komandan-komandan sebelumnya. Visi Lanud El Tari adalah menjadikan Lanud El Tari lebih siap, lebih berkemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas  AU yang lebih baik di wilayah NTT. Misinya adalah, pertama, pembinaan anggota. Saya ingin prajurit Lanud El Tari menjadi prajurit yang profesional, tangguh, dan berdaya tempur tinggi. Kedua, kita lebih mampu menjalankan tugas-tugas mendukung operasi penerbangan, melaksanakan operasi pertahanan pangkalan dan juga pengamanan aset. Ketiga, kita mampu membangun dan menjalin komunikasi sosial dengan pemda, dengan tokoh masyarakat dan tokoh adat di NTT. Misi yang ketiga ini untuk pemberdayaan wilayah pertahanan udara.

Kapan ada penempatan pesawat  di Lanud El Tari?
Lanud El Tari sebagai satuan operasi udara tidak terlepas dari komando atas. Kita akan berbuat seperti tupoksi kita semaksimal mungkin untuk mendukung operasi penerbangan karena sekarang ini belum ada kegiatan pesawat yang home base-nya secara tetap di sini. Menuju ke 2024 dengan penambahan alutsista di TNI AU ada kemungkinan besar ada penempatan pesawat-pesawat di sini karena kita juga sudah menyiapkan shelter-shelter di sini sejak beberapa tahun yang lalu.

Semoga saja ini terwujud atau tidak ada perubahan sehingga ke depan kita harapkan ada skuadron udara di sini. Kita juga melaksanakan fungsi operasi untuk pertahanan pangkalan yaitu untuk mengamankan pangkalan kita ini dengan melibatkan semua prajurit yang ada pada kita saat ini. Di ini ada aset yang harus kita jaga yaitu tanah seluas 543 ha yang digunakan untuk kepentingan Bandara ini, harus kita amankan.

Lanud El Tari belum memiliki pesawat tempur. Bagaimana bila situasi memburuk?
Sebanarnya  pesawat kita cukup mampu untuk mengatasi kendala itu. Dari Makassar ada Sukhoi kita, pesawat bagus yang mampu terbang pulang pergi tanpa harus isi bahan bakar untuk mengatasi permasalahan. Dan, dalam kondisi damai seperti ini semua bisa dikendalikan dari Makassar. Jadi penyusupan pasti terpantau oleh radar kita untuk memantau, pantauan juga dilakukan oleh radar kita, juga oleh radar sipil di Bali, jadi interconecting dengan radar kita.

Pesawat asing yang melintas di wilayah kita harus izin ya pak?

Kondisi suatu pesawat terbang sebelum dia terbang kalau pesawat itu reguler maka harus  izin ke Direktorat Jenderal Perhubungan Udara-Kementerian Perhubungan dan sebelum dia terbang harus terlebih dulu mengisi fly plan atau rencana penerbangan dari mana mau ke mana, terus menggunakan rute mana, ketinggian berapa dan terjadi apa-apa alternatifnya ke mana. Jadi semua sudah ada dan berapa jarak tempuh dan kemampuan daerah terbang sehingga terbang itu tidak diam- diam.

Anak NTT kurang sekali berminat masuk TNI AU karena dianggap sulit. Bagaimana Lanud El Tari menarik minat anak NTT menjadi prajurit TNI AU?

Sesungguhnya secara dasar penentuan prajurit TNI mempunyai syarat-syarat yang sama, baik itu tamtama, bintara dan perwira, baik itu di AD, AL maupun AU. Kalau bicara tentang animo, saya juga belum tahu kenapa lebih memilih yang lain, tetapi dalam peta pembinaan kita dalam menarik animo ini, kita sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang ada di sekitar sini. Bahkan sosialisasi ini tidak sekedar lisan tetapi juga tulisan.

Tahun kemarin saya sudah bersurat kepada para kepala daerah yang berada dalam wilayah tanggung jawab Lanud El Tari  agar berkenan membantu menyampaikan informasi kepada anak- anak SMA atau pemuda yang ada di daerahnya untuk berlomba- lomba menjadi prajurit TNI AU. Ini yang kemarin sudah saya lakukan dan sekolah-sekolah sudah kita datangi untuk menyampaikan formasi ini. Bahkan kemarin kita melakukan kegiatan join flight itu skalanya masih kecil, padahal sehari sebelumya sudah saya ajak datang ke tempat kami dan kami perkenalkan apa itu TNI AU dalam suatu pertemuan.

Itu cara-cara memperkenalkan TNI AU ini. Kembali ke animo mungkin karena ketidaktahuan tentang TNI AU ini orang-orang Kupang juga sudah bagus hanya barangkali kepercayaan diri yang perlu ditumbuhkan.  Tahun ini saya memberangkatkan tujuh orang calon bintara dan semuanya putra daerah. Kita tinggal menunggu pantohir dan kita minta doanya semoga semuanya bisa lulus. Harapan saya lebih banyak lagi yang masuk TNI AU. Karena kita menganut sistem persentase, kalau semakin banyak yang daftar, maka persentasenya lebih besar untuk diterima dan saya laksanakan suatu pembinaan penerimaan prajurit itu secara transparan. Masuk angkatan udara ini dilakuksan secara transparan dan tidak ada pungutan biaya.

Sebelum Anda bertugas di Kupang, sempat terjadi ketegangan antara TNI AU Lanud El Tari dengan masyarakat sekitar. Apa yang Anda lakukan agar tidak ada ketegangan lagi di masa mendatang?
Hal itu sekarang sudah tidak ada, karena setelah saya telusuri lebih dalam lagi, ternyata ada komunikasi kita yang tidak nyambung dengan masyarakat sekitar. Ini terkait dengan misi kita yang ketiga yaitu menjalin hubungan dan komunikasi dengan masyarakat sekitar, dengan pemerintah daerah, dengan aparat lain serta tokoh masyarakat setempat dan tokoh adat. Mereka semua sebenarnya menyadari bahwa tindakan mereka keliru. Dari tahun-tahun kemarin mereka mengakui karena terprovokasi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Saya nyatakan ini sebagai riil dan nyata.

Mereka datang ke tempat kita lalu mereka mengatakan kami minta maaf kepada bapak komandan. Mereka sebenarnya juga tidak mau, tapi dipengaruhi dari pihak luar yang ingin memanfaatkan mereka, dan mereka terpaksa karena sudah terprovokasi sehingga harus keluar banyak uang bahkan sampai hutang ke mana-mana hingga jual sapi. Dan mereka mengaku salah karena sudah melawan pemerintah.

Tanah ini milik negara, bukan milik pribadi atau perorangan. TNI AU hanya menjaga untuk kepentingan negara. Jadi saya katakan terima kasih dan mari bersama kita menjaga aset negara ini. AU ini tanpa ada masyarakat ini juga tidak bisa berbuat maksimum. AU itu bagian TNI yang bertugas mengawal negara ini menghadapi musuh, musuh itu datangna dari luar, bukan menghadapi masyarakat sendiri.

TNI sebagai pemilik aset di Bandara El Tari, bagaimana antisipasi TNI AU terhadap masalah narkoba dan TKI?
Ini merupakan misi kedua dan ketiga. Kejadian TKI yang dikirim ilegal dan narkoba lewat tempat kita bukan tugas pokoknya TNI AU. Karena itu melalui wilayah kita sehingga mau atau tidak mau kita harus membantu masalah ini. Di sini sudah sangat bagus karena ada BNN, kita bekerja sama dengan mereka.Kemudian masalahTKI d,i sini ada BPPTKI, kita juga kerjasama dengan mereka. Mereka juga bergandengan tangan dengan kita.

Sebelum Anda ke Kupang, bisa ceritakan apa bayangan Anda tentang Kupang?
Saya lulusan Akabri 1989. Saya masuk AAU 1986 lulus tahun 1989, saya masuk sekolah penerbang dua tahun dan tahun 1991 sudah selesai. Setelah itu saya ditempatkan di Skuadron Udara 4  yang sering menerbangkan pesawat Cassa. Waktu menerbangkan pesawat ini di situlah saya mengenal pertama kali Kupang tahun 1992 awal. Jadi bagi saya Kupang sudah tidak asing karena sebelumnya saya sudah minum air di Baumata, dulu belum ada minuman kemasan dan lainnya. Jadi kalau saya lagi tidak terbang biasanya saya berenang ke Baumata.

Jadi secara umum tentang Kupang sudah saya kenal dari dulu, saya sering juga main golf, pasar Inpres sudah saya masuk biasanya beli gula aren (gula lempeng) sebagai oleh-oleh. Biasanya kalau beli tidak boleh ditawar, jadi saya masih ingat itu. Jadi budaya Kupang bukan hal yang baru, saya sudah sangat mengenal Kupang. Saya masuk ke Kupang itu tidak heran bagi saya karena saya merasa masuk ke lingkungan sendiri, banyak kerabat di sini yang gampang bersilatuhrahim. Jadi alhamdulilah juga bisa sampai ke sini.

Kenapa pilih AU?
Kebetulan saya besarnya karena makan beras AURI. Jadi saya besarnya di Yogyakarta, bapak saya juga di  AU. Bahkan waktu saya mau daftar ke AU, bapak saya masih mencangkul  untuk tanam singkong di depan rumah. Saya minta izin sama bapak  sambil membawa surat lamaran. Saya masih ingat bapak saya bilang, ngapain kamu mendaftar. Bapak masih kuat untuk membiayai kamu kuliah. Saya bilang, tidak pak, saya hanya minta doa restunya saja. Jadi bapak saya takut kalau saya gagal masuk AU karena bapak aku itu punya pemikiran masuk AU itu susah, saya masih ingat tahun 1986. Tapi alhamdulilah, sekali masuk langsung lulus, mungkin juga karena doa restu orangtua.

Kenapa saya pilih AU, karena saya hanya tahu di Yogyakarta itu hanya ada AU dan saya sering lihat kalau sore itu para karbol sering latihan terbang gleder ditarik oleh pesawat gandengan yaitu pesawat tanpa mesin nanti setelah terbang dilepas dan dia luncur sendiri. Jadi pemikiran saya enaknya jadi penerbang.

Lalu saya juga sering main ke Lanud Adi Sucipto, saya sering lihat pesawat-pesawat di situ. Inilah yang lebih memotivasi saya masuk AU. Dan, ini yang saya tuangkan saat masuk ke AU, jadi pilihan pertama TNI AU, kedua TNI AU, pilihan ketiga TNI AU dan pilihan keempat juga TNI AU karena saya kurang tahu yang lainnya. Karena niat itu kuat mungkin itulah yang membawa saya masuk TNI AU.

Waktu masuk AKABRI itu memang niatnya jadi penerbang?
Ia benar, boleh dilihat dalam riwayat hidup saya. Tuhan memberikan kepada saya, Tuhan sayang saya. Saya ingin mengabdikan diri ke AU waktu saya daftar, amin terkabul. Waktu jadi taruna, saya ingin jadi penerbang, amin terkabul, saya ingin bisa keliling Indonesia amin terkabul karena setelah jadi penerbang saya sudah keliling sampai di Kupang. Bahkan tahun 1992 saya satu bulan di sini dan setelah itu sering terbang untuk dukungan-dukungan, saya ke Pulau Wetar, ke Dili, Baukau. Tahun 1994 saya pindah ke Hercules sampai tahun 2012 kemarin saya masih terbang dengan Hercules. Saya banyak bertugas untuk pergeseran pasukan dan pergeseran dukungan logistik.Dan, tahun 1999 saya juga satu bulan di sini. Jadi Penfui bukan asing bagi saya, semuanya akrab dengan saya.

Saat memilih masuk AU, apakah tidak berpikir bahwa terbang bersama pesawat bisa saja jatuh. Apakah tidak ada perasaan khawatir?
Saya sebagai insan biasanya ada saja rasa itu, tapi ada cara mengatasi rasa takut itu. Pertama kita sebagai taruna diajari terjun. Terjun pertama kali saya takut, tapi itu merupakan salah satu program yang mana kita harus bisa mengatasi rasa takut diri sendiri. Terjun hingga tujuh kali ya tidak apa-apa. Begitu kita masuk sekolah penerbang, di sekolah penerbang diajar agar kita untuk berbudaya yang bagus untuk menuju keselamatan.

Kita diajari sebagai Air Man, dengan tujuan bisa selamat hingga akhir pengabdian. Makanya dulu saya punya instruktur mengatakan, penerbang yang hebat bukan penerbang yang jago dan bisa menembak musuhnya sebanyak-banyaknya. Penerbang TNI AU yang hebat adalah penerbang yang selamat hingga akhir pengabdian di AU. Hingga di situlah terbentuk kepribadian saya oleh para senior itu bahwa safety adalah nomor satu.

Jadi dalam kehidupan sehari-hari terwarnai. Kalau dia berbuat sesuatu dalam terbang kalau terjadi emergensi apa yang saya lakukan itu sudah melekat, saya sudah mempersiapkan kondisi dalam hal itu dengan demikian tidak ada rasa takut karena kita sudah siap mengatasi keadaan darurat. Jadi alhamdulilah, Tuhan sudah kasih cobaan itu saat mesin mati satu. Tuhan sudah mengingatkan kita, instruktur sudah mengajarkan kita dengan baik dan kita ingat itu. Bukan karena kita hebat, tapi karena perannya para senior yang menanamkan nilai-nilai itu.

Apa saja pengalaman yang berkesan selama melaksanakan tugas?
Sebenarnya banyak. Saya tidak mau ceritakan yang berkesan dan terus teringat dalam diri saya ketika saya bertugas mengangkut pengungsi warga kita dari Timor Timur ke Indonesia. Saya punya kesan yang sangat luar biasa, tahun 1999 itu hampir tiga kali hingga empat kali bahkan kalau dipaksakan bisa lima kali dari Kupang - Baucau atau Dili, mengangkut warga kita yang ingin kembali ke Indonesia. Ada satu pengalaman yang membuat saya harus mengambil keputusan sesaat untuk mengangkut banyak orang, tapi tidak melebihi daya angkut pesawat. Di pesawat saya itu ada tempat duduk, tapi kapasitasnya hanya 80 orang.

Tempat duduk itu saya bongkar dan penumpang saya minta duduk di lantai pesawat saja sehingga pesawat bisa angkut hampir 100 orang. Untuk pengamanan saya kasih strep dan suruh pegang saja. Dan warga kita ini ingin segera keluar dari sana. Jadi waktu itu ada tiga atau empat pesawat yang beroperasi. Inilah tugas yang saya tidak lupakan. Ada juga seorang ibu yang sudah mau melahirkan sudah lewat masa lahir bayinya. Dia minta tolong sama saya supaya dapat terbang duluan. Saya cuma berpikir, bagaimana kalau dia melahirkan di pesawat dalam perjalanan dari Baucau ke Kupang. Saya tidak kalah akal, saya menghadap komandan pangkalan. Saya bilang ke komandan pangkalan, komandan saya mohon izin kalau ibu ini diberangkatkan karena dia mau melahirkan dan dikhawatirkan melahirkan di atas (pesawat), maka saya mohon izin dokternya saya bawa ke Kupang untuk membantu menanganinya dalam kondisi yang kita tidak harapkan. Ibu itu saya naikkan ke pesawat, tapi saya suruh tidur di cokpit, kan ada tempat tidurnya kalau di Hercules. Dokternya juga saya suruh jaga ibu ini.

Dan, dalam penerbangan dari Baucau sampai di Kupang tidak lahir. Tapi saya langsung standby di sini, sementara dokternya ditugaskan menolong ibu itu jadi dan besoknya melahirkan. Terima kasih Tuhan, ibu itu melahirkan dengan selamat, tapi cerita lainnya dokter itu berusaha tidak mau pulang lagi ke Baucau. Saya bolak balik ke Baucau ditanya sama komandan, hai capt mana dokter saya kok ndak pulang-pulang, saya jawab mohon izin dan masih menangani ibu yang kemarin dan akhirnya dokter itu tidak balik lagi.          

Kelihatannya jadi penerbang sipil lebih makmur dari penerbang militer. Apakah Anda tidak tertarik jadi penerbang sipil?

Kalau ingin mendaftar menjadi penerbang Garuda atau lainnya kenapa susah-susah masuk Angkatan Udara, kenapa tidak langsung ke Curuk tadi karena di AKABRI itu harus tiga tahun jadi Taruna baru didik jadi penerbang. Sekarang setelah jadi penerbang, kenapa Anda mengingkari niat Anda sendiri. Rezeki Tuhan sudah atur,  terbukti TNI sekarang sudah renumerasi gaji semakin besar. Kalau kita cari rezeki atau uang atau materi, maka kita tidak akan cukup karena hidup kita hanya mengejar itu. Makanya saya sangat bangga ada adik-adik dan saya secara pribadi  tidak pernah ada niat untuk keluar dari TNI AU. Saya bangga AU dan keinginan saya bila suatu saat saya kembali kepada Tuhan, maka yang mengusung saya adalah AU. Semangat ini saya tebarkan kepada orang lain.

Komandan seorang penerbang. Bagaimana menjaga kebugaran bila dipanggil lagi untuk tugas-tugas penerbangan?

Kalau anggota olahraga, saya sempatkan bersama anggota untuk menjaga kebugaran. Kalau anggota main sepakbola saya ikut main. Anggota main voli atau lari saya selalu ikut dan pada saat kegiatan kosong, saya lakukan jogging.(alfred dama/muhlis al alawi)


Data Diri

*Nama                          : Kolonel Pnb Eko Dono Indarto, SIP
* Tanggal Lahir:               23 Mei 1968
* Jabatan                        : Komandan Lanud El Tari Kupang

Pendidikan  :
* SD Bokpri II Demangan Yogyakarta  Lulus 1980
* SMPN 5 Yogyakarta                 Lulus 1983
* SMAN 4 Malam                    Lulus 1986
* S1 UT                       Lulus 1996

Pendidikan Militer                
* Akademi TNI AU        angkatan 89 Lulus 1989
* Sekkau                         angkatan  64  lulus 1998
* Seskoad                        angatan 41 lulus 2003

Riwayat Jabatan (empat jabatan terakhir)
* Kadisops Lanud HND              17 -7-2008
*Kadisops Lanud ABD                12-3 2009
* Dan Wing 2 Lanud ABD           24-02-2012
* Dan Lanud El Tari                     29-11-2012
Editor: alfred_dama
Sumber: Pos Kupang

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas