Lupa dan Biarin
"Ingat peristiwa Semanggi?" "Lupa! Biarin!" "Ingat Trisakti berdarah?" "Lupa! Biarin!" "Ingat penembakan misterius?" "Lupa! Biarin!"
"Ingat peristiwa Semanggi?"
"Lupa! Biarin!"
"Ingat Trisakti berdarah?"
"Lupa! Biarin!"
"Ingat penembakan misterius?"
"Lupa! Biarin!"
"Ingat Gerakan 30 September?"
"Lupa! Biarin!"
"Ingat Cebongan Sleman?"
"Mulai lupa dikit lama-lama juga lupa he hehe biarin! Nun jauh langgar pulau di sana, jangan dipikirin, biarin saja," demikian dialog Jaki Rara.
***
Padahal siapa bilang jarak Cebongan, Sleman, Yogyakarta-Oetete, Bakunase, Kupang memang jauh langgar pulau. Apalagi jarak Cebongan-Aegela Nagekeo, siapa bilang lebih jauh lagi. Bisakah lupa dan biarin Yohanes Juan Manbait, Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Hendrik Angel Sahetapi, dan Adrianus Candra Galaga dengan 11 anggota Kopassus? Apa sebenarnya yang terjadi dengan Juan dkk? Apa sebenarnya yang terjadi dengan prajurit berinisial U sang eksekutor dkk saat membantai Juan dkk? Ini bukan penembakan misterius, tetapi penembakan dengan misi yang jelas. Haruskah lupa dan biarin? Serbu LP Cebongan, hajar setiap personel petugas LP yang mencoba menghalangi, habiskan empat orang tersangka Hugo's Café, lakukan dalam waktu 15 menit, rusak CCTV yang ada. Apalagi? Lupa! Biarin?
***
"Mereka membunuh karena jiwa korsa. Oleh teman-teman yang setia yang sama-sama pernah ditempah latihan keras sebagai anggota Kopassus serta sejumlah tugas operasi lapangan. Kebersamaan yang membentuk jiwa korsa. Itulah yang dijelaskan ketua tim investigasi."
"Penyerbuan LP Cebongan, Jiwa Korsa lahirkan dendam gerombolan. Demikian Edna C Pattisina merangkai judul tulisannya dalam Kompas mengusut kasus Cebongan," kata Nona Mia sambil menopang dagu. "Seandainya U dkk sabar menunggu, apa mengapa bagaimana latar belakang penganiayaan Serka Santoso sampai menemui ajal. U dkk kemungkinan besar akan menemukan yang lebih besar dari hanya balas dendam. Jiwa korsa mungkin tidak akan melahirkan dendam gerombolan tetapi melahirkan citra baru korps yang lebih berjiwa korsa dalam arti sebenarnya.
Seandainya saja kesetiakawanan U menunggu saat yang tepat, tewasnya Santoso tidak hanya membongkar nafas kehidupan empat tersangka asal NTT itu, tetapi sanggup membongkar Hugo's Café, Santoso, Juan dkk dan berbagai soal seputarnya.
Ibarat batu yang jatuh di air yang tenang, U dkk dapat menemukan Santoso dan Juan bukan pada pusat jatuhnya batu tetapi sampai di ujung riak air yang paling ujung. Seandainya."
"Benarkah mereka membunuh karena jiwa korsa? Seandainya, lupa lagi! Biarin!"
***
"Untuk apa berandai-andai, Nona Mia? Paling-paling juga lupa," kata Benza. "Semuanya sudah terjadi. Tim investigasi sudah menemukan pelaku, 11 anggota Kopassus sudah jadi tersangka. Sembilan di antaranya mengakui tindakan mereka pada hari pertama tim investigasi bertemu mereka. Biar kucatat ya biar tidak lupa."
"Mau dibawa ke mana negara kita ini ya, sebagaimana ditulis Rene L Pattirajawane. Upaya hukum kepolisian melalui penyidikan, rekonstruksi kejadian, uji coba balistik, visum, dan sebagainya tidak didukung penuh. Bagi rakyat yang diperlukan adalah bukti hukum yang ditegakkan bukan restu atas berbagai tim investigasi dan mempertanggungjawabkannya kepada rakyat."
"Cukup Nona Mia, kamu bicara soal hukum ditegakkan? Tidakkah kamu tahu kita semua menjadi saksi betapa jatuh bangunnya upaya untuk tegakkan hukum di tanah air ini? Tergantung apa kasusnya, siapa pelaku dan korbannya. Jadi tidur tenang saja deh, tak usah mimpi yang aneh-aneh. Lupakan saja, biarin, bukankah kita memang pelupa dan hobi bilang biarin?" kata Jaki.
"Tetapi aku tidak bisa tidur. Aku coba memposisikan diriku sebagai istri Santoso yang lagi hamil delapan bulan itu. Mencoba berada di posisi ibu para korban pembantaian, posisi saudari dan anak-anaknya."
"Dalam posisi apapun kamu, Nona Mia. Segalanya sudah terjadi. Paling-paling satu dua bulan lagi sudah pada lupa. TNI lupa, polisi lupa, parlemen dan aktivis kemanusiaan pada lupa, kita juga pada lupa bahwa pernah terjadi pembantaian berdarah dan jiwa korsa lahirkan dendam gerombolan juga lupa. Penyakit lupa adalah penyakit bangsa kita. Jadi santai saja lagi. Biarin!"
***
"Tetapi terlalu banyak darah mengalir sia-sia. Ini pembiaran." sambung Nona Mia lagi. "Lupakan saja!" Rara mengatakannya berkali-kali.
"Pembantaian empat saudara kita mengubur dalam-dalam apa sebenarnya yang terjadi. Apakah kamu juga mau lakukan pembiaran?"
"Lupakan saja!"
"Nyawa Serka Santoso juga tidak cukup dibayar hanya dengan menghabiskan hidup empat tersangka yang baru tersangka. Sayang sekali bukan? Seharusnya nyawa Serka Santoso mesti dibayar lebih mahal dari itu dengan usut tuntas semuanya. Tolong, jangan biarkan ini jadi pembiaran."
"Lupakan saja! Inilah penyakit kita yang sebenarnya. Pembiaran dan pelupaan." *