Kamis, 11 Juni 2026

Catharine Lando: Saya Pilih NTT

CALON dokter muda lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha Bandung, Jawa Barat, ini siap mengabdi di NTT.

Tayang:
zoom-inlihat foto Catharine Lando: Saya Pilih NTT
PK/VEL
Augusta Chatarine Karni Lando
POS-KUPANG.COM --- CALON dokter muda lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen  Maranatha Bandung, Jawa Barat, ini baru berusia 22 tahun.

Jika tidak ada aral melintang, Juni 2013 ini  pemilik nama lengkap Augusta Chatarine Karni Lando bakal diwisuda menjadi seorang dokter.

Meski lahir dan dibesarkan di Jakarta, namun Cathy, panggilan akrab gadis ini, tidak pernah lupa asal-usulnya. Bahkan saat ditanya hendak bertugas di mana setelah menjadi dokter kelak, alumni SMA Kristen Dian Harapan Cikarang ini  tegas menjawab, akan pulang mengabdi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Niat yang tulus. Dan, meski belum tahu bakal praktek di daerah mana, tapi
gadis 165 centimeter dan berat badan 53 kilogram ini mengaku ingin  melayani masyarakat.

"Sebenarnya ditempatkan di daerah mana saja di Indonesia, saya siap mengabdikan diri. Tapi jika diperbolehkan memilih, saya ingin sekali menjalani pengabdian saya sebagai dokter di wilayah NTT," tutur gadis berdarah campuran  Ende dan Flores Timur  ini kepada Pos Kupang di Bandar Udara El Tari Kupang, Rabu (27/3/2013).

Mengapa ingin mengabdi di NTT? Anak pertama dua bersaudara pasangan Ir. Karel Karni Lando dan Elizabeth Setiawati BL de Rozari, SE, ini memberi alasan bahwa ia adalah putri asal daerah NTT.

Alasan lain, kata kakak dari Augustinus Yohanes Karni Lando, ini karena ia sangat prihatin melihat kondisi derajat kesehatan masyarakat di NTT, khususnya masyarakat di pelosok yang masih terisolasi.

Menurut gadis kelahiran Jakarta, 13 Desember 1990, ini dari cerita yang didengar dan data yang ia dapat masih banyak masyarakat yang tinggal di daerah terpencil di NTT yang derajat kesehatannya rendah.

"Banyak masyarakat NTT yang belum bisa menjangkau layanan kesehatan yang tersedia karena bermacam sebab. Seperti kondisi geografis yang masih sulit dijangkau atau karena minimnya petugas kesehatan di wilayah dimaksud. 

Karena itu saya sangat berharap bisa mengabdikan diri sebagai dokter di NTT
sehingga bisa melayani masyarakat yang ada di tempat terpencil. Saya juga berharap rekan-rekan dokter lainnya mau datang dan bertugas di NTT untuk melayani masyarakat NTT," harapnya.

Melayani dengan hati yang bersih dan iklas adalah moto hidup gadis yang hobi membaca ini. Moto itulah yang bakal diprakteknya saat menjalani profesi sebagai seorang dokter di NTT kelak.

Cathy juga mengaku sering mendengar cerita pilu para dokter PTT (pegawai tidak tetap) atau dokter tetap di NTT yang mengungkapkan sering terlambat menerima honor  atau uang insentif dua  sampai tiga bulan. Akibatnya, para dokter itu kesulitan membiayai kehidupannya. 

"Saya berharap hal seperti itu tidak terjadi lagi. Pemerintah daerah NTT harus memperhatikan kesejahteraan para dokter sehingga para dokter mau mengabdikan dirinya di NTT," kata Cathy.

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved