Selasa, 9 Juni 2026

Pawang Celana Dalam

GARA-gara kampanye pada musim hujan, CD alias celana dalam penuh di atap dapur. Aduh, mama! Pertengkaran pun terjadi. Bayangkan, ada dua

Tayang:
Editor: Alfred Dama
Paraodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda

GARA-gara kampanye pada musim hujan, CD alias celana dalam penuh di atap dapur. Aduh, mama!  Pertengkaran pun terjadi. Bayangkan, ada dua belas celana dalam. Sebetulnya masih baru, tetapi karena kelamaan di atap, bolak-balik kena hujan dan matahari, maka berubah warnalah sekumpulan CD itu. Berbagai spekulasi muncul. Mulai dari si pelaku belajar ilmu hitam, pelaku punya kaul menangkan pilkada, pelaku yang pengangguran mau nekat jadi caleg, pelaku mau guna-gunai perempuan, bahkan kecurigaan pelakunya pawang CD, kalau laki-laki mau cari ABG, dan kalau perempuan mau cari brondong.
                                 ***
"Tetapi semuanya CD laki-laki, pasti kamu pelakunya!" Rara meneliti satu persatu CD yang diturunkan dari atap. "Hooo ada juga CD perempuan nih. Pawang jagoan benar nih. Biasanya kalau CD perempuan lebih mempan. Kamu curi CD siapa ini? Di mana?"

"Kamu yang buang ke atap!" tantang Jaki. "Itu dia, merah, kuning, dan hitam ini CD  yang kamu curi, pasti! Kamu lagi belajar ilmu hitam ya atau mau jadi pawang CD pawang hujan? Mau guna-gunai Nona Mia supaya perempuan cantik itu bertekuk di kakimu?"

"Nah, ini CD perempuan! Kamu curi CD-nya Nona Mia? Mampus kamu, Jaki. Kalau ketahuan, bisa-bisa kamu yang dilempar ke atap sama si nona pemberani. Kamu jadi pawang celana dalam mau pelet Nona Mia!" tuduh Rara. "Maaf saja! Aku lempar CD mau tahan hujan. Pokoknya tiap kali jagoan pilihanku kampanye, aku lempar satu CD biar hujan tidak turun."

"Oooh ternyata kita sama! Aku juga tahan hujan dengan lempar CD ke atap. Aku juga curi CD-nya Nona Mia. Pagi-pagi buta aku merayap ke belakang rumahnya, sembunyi di sudut dapur, ambil kayu panjang, dan kujolok CD di jemuran. He he he kamu lihat sendiri kan, tiap kali jagoanku kampanye, langit cerah hujan pun menjauh," sambung Rara sambil melakukan gerakan sahabat kental saling menempelkan kedua telapak tangan.
                                         ***

"Janjinya sekolah gratis, kesehatan gratis, beras gratis, membangun dari desa dengan dana desa sekian ratus juta. Aku pun akan dikasih proyek sebagai konpensasi kehebatanku menahan hujan. Sekalian kalau aku sudah kaya, aku akan lamar si Nona Mia," kata Jaki.
"Makanya aku berjuang mati-matian supaya jagoanku lolos. Soalnya keahlianku selama ini hanya duduk-duduk di tikungan, maka aku belajar jadi pawang CD lempar ke atap. Kelak kalau jagoanku menang, aku akan minta proyek pembuatan jalan, sekalian biar pundi-pundiku bertambah bukan?"

"Hebat bukan main rencanamu ya?" sambung Jaki lagi.
"Bagaimana pawang CD? Apakah kamu jadi lamar Nona Mia?"

"Siapa takut! Tunggu khabar sebentar lagi. Begitu jagoanku menang, aku langsung lamar. Tidak percuma, aku mati-matian belajar jadi pawang dan dapat duit segudang."

                                                     ***
"Duitnya buat beli celana dalam lagi?" Nona Mia berdiri dengan Benza di sampingnya.
Jaki dan Rara gelagapan gugup setengah mati. Di belakang Benza berdiri dua orang polisi. Tanpa ditanya Rara dan Jaki sudah jatuh di kaki polisi. Keduanya bersumpah mati-matian bahwa tidak ada maksud apa-apa dalam hal pencurian celana dalam Nona Mia. Semuanya dilakukan hanya berdasarkan kisah tradisi yang juga belum jelas ujung pangkalnya, tetapi benar-benar dipercaya bisa jadi kenyataan. Dengan gugup keduanya meyakinkan polisi bahwa CD yang dilempar ke atap itu, hanya untuk menahan hujan, supaya waktu kampanye lancar, lapangan penuh, lalu lintas ramai, dan para balon pun puas bisa bicara di tengah cuaca cerah.

"Sumpah Pak, tujuannya hanya itu. Kalau kampanye lancar aman terkendali bukankah bapak-bapak juga senang?" Kepala Jaki terlipat ke bawah. "Lagi pula aku akan ganti sepuluh kali jumlah CD yang kucuri."

"Sumpah juga Pak, tujuannya hanya satu. Kampanye menghasilkan pemimpin yang saya jagokan, eh maksudku yang bisa menganyomi semua pihak. Kalau kampanye hujan lebat, kan repot Pak. Tidak ada yang datang tidak ada yang dengar."

"Intinya kamu curi celana dalam. Titik!" kata Benza. "Bapak berdua kami tahan. Gara-gara CD di atas atap, hujan tidak pernah berhenti. Hujan di NTT berlebihan jatuh dari langit. Banjir dimana-mana, jalan putus, petani mengeluh, panen gagal, pelayaran terhenti," kata Benza. "Kita beda kepercayaan. Kalau kamu CD menghentikan hujan, kalau kami lempar CD di atap justru membuat hujan tambah lebat."

                                                      ***
"Sumpah Pak! CD menghentikan hujan, Pak. Kampanye lancar Pak, sumpah! Sebagai rakyat bukankah kita perlu mendukung kelancaran kampanye? Keahlian saya hanya lempar CD ke atas atap dan hujan benar-benah berhenti. Bukankah begitu, Pak?"

"Bapak berdua tetap kami tahan!" Kedua polisi langsung memborgol Jaki dan Rara. "Tidak ada urusan kami dengan CD dan kampanye, atau CD dengan menghentikan hujan. Yang ada kalian berdua adalah pencuri CD. Titik."

"Sumpah Pak, kami tidak curi, kami hanya jolok di jemuran. Aduh, Benza! Nona Mia! Tolonglah kami berdua. Gara-gara kampanye kami jolok CD, gara-gara kampanye kami ditangkap polisi. Tolonglah kami, Tolooooong. Nanti kuganti CD berlusin-lusin untukmu. Sumpah!"

"Kita bertemu di pengadilan!"  tantang Nona Mia dengan wajah merah   menahan marah. "Makanya, pikir baik-baik, memangnya ada  hubungan antara kampanye, pawang CD, dan hujan?" *

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved