PosKupang/

Dr. Benny K. Harman Menjaga `Kesucian' Sebagai Politisi

SOSOK kandidat Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) periode 2013-2018 ini boleh dibilang fenomenal dan menarik dicermati pergerakan

Dr. Benny K. Harman Menjaga `Kesucian' Sebagai  Politisi - BKH.jpg
Net
Benny K Harman
Dr. Benny K. Harman Menjaga `Kesucian' Sebagai  Politisi - BKH3.jpg
Benny Kabur Harman bersama anak-anak
Dr. Benny K. Harman Menjaga `Kesucian' Sebagai  Politisi - BKH4.jpg
Benny Kabur Harman bersama istri, drg Maria G Ernawati, SpBM berada di tengah masyarakat Timor.
Dr. Benny K. Harman Menjaga `Kesucian' Sebagai  Politisi - BKH_Salami_Warga.jpg
Benny Kabur Harman (BKH) bersalaman dengan warga di Lapangan Kota Baru, Maumere, Jumat (25/1/2013) sore.

Dua periode menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) mewakili NTT, BKH dipercayakan memimpin Komisi III DPR RI, komisi paling bergengsi yang membidangi Hukum dan HAM. Saat ini dia memimpin Komisi VI DPR RI yang membidangi perekonomian khususnya BUMN, antara lain PLN, Pertamina, Pelindo, Angkasa Pura serta usaha kecil dan menengah. BKH dalam posisinya yang strategis di level nasional ini juga menjadi sasaran terpaan berbagai isu negatif yang menimpa Partai Demokrat dimana BKH menjadi salah satu ketua DPP.

Di tengah pusaran `prahara' Partai Demokrat, nama BKH dikait-kaitkan, bahkan dimanfaatkan oleh lawan politiknya ketika BKH ikut bertarung menuju kursi NTT-1 alias Gubernur NTT. Kampanye negatif atau kampanye hitam terhadap figur ini makin kencang dilancarkan. Alumnus Seminari Pius XII Kisol ini,  yang mengaku membangun karakter dirinya dan tetap setia mempertahankan `kesucian' sebagai seorang politisi dengan bekal  pendidikan dari keluarga, pendidikan formal serta pembelajaran puluhan tahun di lingkungan yang multikultural di Jawa dan level nasional secara khusus, dengan lugas menjawab  sejumlah pertanyaan yang disampaikan wartawan Pos Kupang, Alfred Dama, Sabtu (9/3/2013).
 
Pak Benny  sudah masuk dalam jajaran tokoh nasional, tapi mengapa ingin pulang ke NTT dan memilih menjadi Gubernur?
Keputusan untuk kembali ke NTT dan mencalonkan diri menjadi gubernur adalah jawaban saya atas panggilan nurani, panggilan jiwa untuk mengabdi kepada daerah ini. Keprihatinan terhadap kemajuan daerah ini menjadi dasar kuat yang mendorong kita untuk kembali berbakti kepada NTT. Saya berkali-kali katakan di sejumlah tempat, saya sudah pernah mengalami kegelapan, berjalan dalam kegelapan dan saya melihat terang.

Dan terang itu yang mau saya bawa agar masyarakat NTT juga melihat terang itu. Kita harus jujur bahwa NTT masih sangat tertinggal dan terkebelakang dalam berbagai aspek dibandingkan dengan daerah lain. Kita akui ada kemajuan dari tahun ke tahun, tapi kemajuan itu sangat lamban sehingga kita akan tetap paling belakang.

Daerah kita ini masuk kategori tiga provinsi termiskin selain Papua dan Maluku. Perkembangan pembangunan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pasca reformasi berjalan relatif lambat. Hasil pembangunan dalam bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar masih jauh dari target pencapaian tingkat nasional. Di bidang pendidikan, persentase kelulusan siswa SMA dan SMK selama tiga tahun terakhir menduduki peringkat buntut dari 33 provinsi di Indonesia. Indeks pembangunan manusia (IPM) Provinsi NTT berada di bawah Standar Nasional, menempati urutan 31 dari 33 provinsi.

Demikian pula, pertumbuhan ekonomi mengalami stagnasi dan pengangguran serta kemiskinan mengalami peningkatan. Uraian di atas tidak bermaksud untuk mencari kambing hitam dan membuat kita bersikap pesimis. Semua itu dikemukakan secara terang sebagai dasar untuk membangun harapan dan optimisme baru. Kita memiliki sejumlah modal sosial sebagai kekuatan dasar untuk membangun provinsi ini ke depan secara lebih kreatif.  Kami menyadari bahwa menjadi pemimpin di daerah ini tentu tidak gampang karena tantangannya begitu kompleks.

Bagaimana merespons semua itu? Harus ada gerakan sistematik melawan ketidakberdayaan ini dengan melibatkan semua potensi dan kekuatan-kekuatan yang ada dalam masyarakat kita. Tapi gerakan ini tidak akan datang dengan sendirinya. NTT membutuhkan leadership gaya baru yang berorientasi pada pikiran untuk menyelesaikan masalah-masalah mikro dan makro, baik untuk jangka pendek pun jangka panjang. Dibutuhkan pemimpin yang kreatif dan solutif, bukan pemimpin yang normatif dan statis.

Menurut Anda masalah-masalah apa yang krusial di NTT?
Begini, dalam satu dekade ke depan, NTT masih bergelut dengan berbagai masalah mendasar seperti masalah pendidikan  seperti: mutu pendidikan, kesejahteraan guru, anggaran pendidikan, sarana dan prasarana. Ada masalah kesehatan seperti Kematian Ibu dan Anak, Kesehatan Reproduksi, HIV/AIDS, Kekurangan Tenaga Medis, Sarana dan Prasarana.  Masalah ekonomi antara lain pemenuhan kebutuhan sembilan bahan pokok.  Masalah infrastruktur dasar seperti jalan raya, listrik, dan air minum bersih. 

Masalah tata kelola pemerintahan atau Good and Clean Governance, termasuk membenahi desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan yang paling dekat dengan rakyat. Karena paling dekat dengan rakyat tentu paling mengenal masalah-masalah yang dihadapi oleh rakyat.

Lalu kepemimpinan seperti apa yang cocok untuk NTT, dan yang akan Anda terapkan di NTT?
Kepemimpinan dengan visi baru yang mampu menciptakan perubahan dalam berbagai hal, mulai dari meramu satu paket Visi, Misi, Kebijaksanaan dan Program sampai pada implementasinya baik strategi maupun pendekatannya di lapangan. Dalam menangani masalah NTT yang begitu kompleks, pemimpin baru tersebut tidak bisa lagi datang dengan menggunakan pendekatan business as usual atau pendekatan normatif  atau ordinary approach. Pendekatan yang paling cocok untuk merespons kondisi NTT saat ini adalah pendekatan yang luar biasa  atau extraordinary approach.

Masalah-masalah yang dihadapi  tergolong masalah luar biasa, karena itu diperlukan cara-cara luar biasa pula  atau extraordinary means untuk mengatasinya. Harus ada kolaborasi dengan semua stakeholders untuk menyatukan tekad dalam gerakan bersama atau kolektif melawan keadaan. Sebagai bagian dari masyarakat NTT, dengan berbagai pengalaman dan pengetahuan yang kami miliki selama ini, kami merasa terpanggil untuk berjuang bersama-sama rakyat NTT untuk melawan keadaan ini menuju pintu gerbang NTT yang Lebih Baik dan Bermartabat.

Halaman
123
Editor: alfred_dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help