Pulang Maumere
MENURUTNYA, pulang Maumere, itu keputusan tepat. Setelah selama ini malang melintang dengan berbagai pekerjaan.
Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda
MENURUTNYA, pulang Maumere, itu keputusan tepat. Setelah selama ini malang melintang dengan berbagai pekerjaan. Mata hidungnya timbul tenggelam di kota Nong dan Du'a itu. Satu bulan datang dua bulan menghilang, dua bulan datang, sebulan menghilang. Maklumlah! Perempuan yang satu ini memang pekerja keras nan tidak pernah kenal waktu istirahat. Kerja sepanjang waktu, itulah dia! Makanya ketika dia memutuskan untuk pulang Maumere, teman-temannya pada kaget.
***
"Aku tahu tujuannya pulang," kata Rara. "Wah, sombong banget ya. Selama ini kita ajak ke Maumere selalu bilang nanti-nanti saja, belum ada waktu, baru saja balik dari sana, dan pulang buat apa? Ternyata pulang juga dia! Aku tahu alasannya." Bisik Rara ke telinga Jaki.
"Apa? Bertemu Herman Jumat Masan?" Jaki tersentak kaget. "Bukan alasan itu, bukan! Dia itu pulang karena Ansel da Lopez," kata Jaki. "Dia pernah bilang kalau Ansel maju dia pasti pilih, soalnya Ansel itu wartawan, jurnalis, juga orang pers yang dia kagumi. Pokoknya bagi dia tiada yang lain selain Ansel - Ulbanus! Gitu katanya."
"Hah, betulkah? Sama dengan aku," Rara kegirangan. "Aku akan dapat kesempatan berdua-duaan dengan dia, pulang Maumere, pilkada sambil pacaran."
"Bukankah kamu pendukung Alex û Idong?" Tanya Jaki.
"Memang ia, masalah buat lu? He he he," sambung Rara.
"Ya So Imah. Tetapi kenapa sekarang kamu ubah pilhan?"
***
"Sambil melihat arah angin...kalau si dia condong ke barat aku barat, kalau dia condong ke timur akupun ke timur, kalau dia utara, selatan, barat daya, aku tinggal ikut saja. Yang penting nempel sama dia."
"Kalau dia pilih Solid? Bagaimana?"
"Aku ubah ke Sosimus Mitang-Silvanus Tibo alias Solid. Kalau dia pilih Yosef Ansar Rera-Poulus Nong Susar alias An-Sar akupun pilih An-Sar. Kalau dia pilih Rafael Raga, Zakarias H. Siku alias Garansi, aku pun akan segera putar haluan. Kalau dia pilih Yosef Bernardus Semadu Sadipun-Agustinus Boy Satrio alias Satria, aku juga segera ikut dari belakangnya. Masalah buat lu?"
"Bagaimana kalau dia pilih paket independen Heribertus Krispinus dan Robertus Lodan alias Helo atau Fransiskus Dijer da Gomes dan Simon Subsidi alias Frendy, atau paket Damianus Wera dan Petrus S Suwarnam alias Damitrus."
"Aku langsung ubah haluan, dia kemana saja, pilih siapa saja, aku ikut. Titik!"
"Nah itu dia datang," teriak Rara. "Nona Miaaaaaa, aduh di belakangnya ada Benza. Manusia dua orang ini kemana-mana nempel seperti perangko."
***
"Kamu pilih siapa Nona Mia?" Tanya Rara dan Jaki bersamaan.
"Damitrus!" Jawab Nona Mia tegas.
"Kenapa?"
"Damianus Wera itu kakak saya, kalau pasangannya Petrus Suwarman itu adalah kakak saya juga," jawab Nona Mia.
"Bagaimana dengan Ansel da Lopez? Bukankah itu kakakmu juga?"
"Oh ya aduh, pusing juga nih. Ansel, Solid, An-Sar, Garansi, Satria, Helo, Frendy, Damitrus, dan oooh saudaraku satu lagi Alexander. Aduh, aku harus pilih siapa ya?" Nona Mia menarik nafas panjang. "Ini semua kesalahanmu, aku hanya pilih Damitrus, Damitrus, eh An-Sar, eh Alex - Idong, eh Ansel bagaimana baiknya ya?"
"Susah juga, semuanya saudara, semuanya sahabat baik," kata Benza dengan tenang.
***
Tanpa ada komando, tiba-tiba semuanya diam. Pilkada, memang bisa menimbulkan banyak luka hati. Lihat kiri saudara, kanan saudara, depan belakang saudara, atas bawah saudara. Sahabat baik di masa lalu, keluarga yang lebih dekat dari keluarga sebenarnya juga maju pilkada. Kakak adik anak saudara, Opa Om paman dan ipar. Mau pilih siapa tinggalkan siapa ya? Mungkin inilah saatnya untuk mendidik diri sendiri agar berpikir dan bersikap dan berbuat dewasa. Siap menang siap kalah. Pilih siapa saja silahkan! Kalah atau menang kita tetap saudara bukan?
"Jadi harus siap kalah!" Kata Benza.
"Juga siap menang!" Sambung Nona Mia.
"Kalau menang segera jabat erat-erat tangan lawan, rangkul untuk kerja sama," kata Benza lagi.
"Kalau kalah langsung jabat erat-erat tangan lawan, beri ucapan selamat dan siap menyongsong masa depan bersama-sama demi rakyat tercinta," sambung Rara.
"Kadang-kadang kamu menyejukkan hati juga ya," kata-kata Nona Mia membuat Rara berbunga-bunga.
***
"Nona Mia, sebenarnya apa tujuanmu pulang Maumere?" Tanya Rara. "Aku tidak yakin kalau hanya untuk ikut pilkada saja, kamu pulang secepat ini. Bukankah pilkada masih satu bulan lagi?
"Aku ingin bertemu Herman Jumat Masan di Maumere, aku ingin mengajaknya pulang ke Lela!" Jawab Nona Mia.
"Lela itu sejarah, Lela itu perjalanan, imajinasi, dan inspirasi masa depan. Lela itu kekuatan sekaligus kejujuran. Lela itu bunga mawar dan kisah gaun putih sepanjang koridor rumah sakit. Lela adalah senyum dan gelak tawa. Lela juga tangisan dan air mata. Aku ingin mengajak Herman merumuskan tambahan satu kalimat lagi untuk Lela," Nona Mia terdiam.
"Apa rumusan kalimat itu, Nona Mia?" Desak Jaki Rara Benza.
"Lela, aku kembali untukmu, jangan menangis, Lela. Maafkan aku," jawab Nona Mia.
"Kami semua ikut denganmu, Nona Mia."
"Ayoh!" (*)