Pantai Cinta

BUIH putih ombak membelai mesra bibir Pantai Nanganesa, Ende. Sang jejaka di ujung senja menatap jauh menembus batas cakrawala.

Pantai Cinta
Net
Ilustrasi

"Janganlah...kan kasihan kalau kau disambar nanti Jao dengan siapa?" jawab Tesha.
Keduanya semakin larut dalam dekapan cinta. Merangkai setiap kebersamaan. Desiran angin dingin menguatkan cengkeraman keduanya untuk tak saling melepaskan. Pusaran waktu yang tepatlah yang kini dinanti keduanya untuk bersanding di pelaminan. Kebahagiaan terpancar dari raut wajah keduanya. Dua anak manusia ini serasa ingin memutar waktu secepatnya agar bisa segera bersatu  dalam ikatan suci yang abadi. Bangku kuliah harus segera diselesaikan. Begitulah komitmen keduanya.

                ***
Setahun berselang. Di kaki Gunung Merapi keduanya terjebak kerumitan cinta. Bersanding dalam pertengkaran hebat. Tak lagi akur apalagi mesra. Saling menuding satu sama lain menjadi bumbu yang tak terelakkan. Ketidakpercayaan menjadi sumbu yang menyulut api cemburu. Gemuruh emosi bercampur dengan kata-kata yang tak pantas terucap. Keceriaan seketika sirna. Kebahagiaan tiba-tiba kabur, terhempas.  Membuncah di langit biru Jogjakarta. Tangis pun pecah.

"Kau terlalu sekali ndoe," ucap Vriq lirih.

"Mae gare rewo kau!! Kau tu yang patut dicurigai sengaja tuduh saya," balas Tesha.

"He.kau tu yang sudah jelas-jelas tidak bisa dipercaya," kejar Vriq.

"Jadi kau dengan itu perempuan ata Jawa tu kau bilang apa? Kau pikir saya juga tidak sakit hatikah dengan kau?" sambar Tesha sembari terisak.

"He ko kau mae bawa-bawa Ajeng cari alasan untuk menutupi kau punya," tangkis Vriq.

Tesha dan Vriq bukan saling merangkul melainkan saling menyerang. Ego mereka mengalahkan cinta yang telah terjalin lama. Satu pihak merasa benar begitupun sebaliknya. Perasaan mereka telah dikalahkan oleh naluri dan logika. Hilang sudah semua asa dan rasa. Lenyap seakan tak pernah tercipta.  

Setiap pertemuan dihiasi pertengkaran dan pertengkaran. Setiap pembicaraan hanya tertuju pada titik yang membuat mereka bertengkar dan memilih jalan perpisahan yang kelam. Walaupun di sudut ruang batin mereka sesungguhnya menolak keras kenyataan pahit ini. Apa mau dikata manusia boleh berencana tetapi Tuhanlah yang menentukan.

Sebuah kata maaf sudah tak lagi berarti. Tembok cinta yang begitu kokoh seketika runtuh oleh kesucian yang terabaikan. Sesal memang selalu datang terlambat tapi sesal juga tak berguna bila penyesalan terbesar sebenarnya ketika mereka mengabaikan perasaan cinta pada diri mereka masing -masing hanya karena sesuatu yang mencemari lautan asmara.

Halaman
123
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved