Rabu, 4 Maret 2015

Ir. Leta Rafael Levis, M.Rur: Pembangunan Pertanian Harus Fokus

Minggu, 23 Desember 2012 21:10 WITA

Ir. Leta Rafael Levis, M.Rur: Pembangunan Pertanian Harus Fokus
Ist
Leta Rafael Levis bersama istri tercinta

Ir. Leta Rafael Levis, M.Rur.Mgnt, seorang pakar pertanian mengatakan, NTT sebenarnya memiliki potensi dalam bidang pertanian. Masih banyak lahan yang bisa digarap selain meningkatkan kapasitas produksi dari yang sudah ada saat ini.

Menurutnya, kelemahan kita di NTT adalah kurang fokus dalam pembangunan pertanian, baik untuk pembinaan manajemen petani maupun kebijakan anggaran.

Bila saja hal ini terus berlangsung, maka potensi pertanian di NTT hanya tetap menjadi potensi. Berikut perbincangannya dengan Pos Kupang.

Bagaimana Anda melihat program Propinsi Jagung yang didengungkan pemerintah dan telah dilaksanakan dalam beberapa tahun ini?
Secara prinsip program itu sangat bagus, karena basis ekonomi masyarakat NTT di mana jagung menjadi salah satu primadona. Kedua, jagung juga menjadi makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat NTT. Kemudian dalam pengembangan jagung pertama, untuk ketahanan pangan lalu untuk pengembangan agribisnis.  Nah, jagung yang menjadi agribisnis itulah yang belum kita capai. Banyak pro kontra yang terjadi di sekitar itu.

Jadi banyak orang menginginkan ketika orang bicara jagung maka dimana itu lokasi jagung, bagaimana pengembangannya. Itu yang belum kelihatan. Yang perlu dilihat sekarang adalah Propinsi Jagung untuk mengamankan ketahanan pangan.

Bagaimana dengan hasilnya?
Saya pikir dari produksinya sudah memenuhi syarat. Kalau kita lihat data dari 2007 hingga 2011, jagung ini produktivitasnya masing-masing 2007 sebesar 2,3 ton perhektar, 2008 itu 2,48 ton perhektar, 2009 sebesar 2,5 ton perhektar, 2010 mencapai 2,67 ton perhektar, 2011 turun menjadi 2,1 ton perhektar. Jadi segi produktivitas kita belum mencapai hal yang diharapkan. Misalnya jagung lamuru yang paling banyak ditanam petani di NTT itu produktivitasnya 4 hingga 5 ton, tapi kita baru sampai antara 2,1 hingga 2,5 ton perhektar. Jadi pengembangan jagung dari segi produktivitas kita belum memenuhi target.

Apa masalahnya hingga belum mencapai target?
Sepengetahuan saya, masalah pertama program jagung ini belum didukung dengan danah yang cukup. Dana sangat minim untuk pengembangan jagung. Kedua, masalah kelembagaan petani, masalah ketiga adalah perbenihan. Perbenihan ini sering kita datangkan dari luar, tapi dua tiga tahun terakhir ini pemerintah NTT sudah berupaya mengembangkan penangkar-penangkar lokal. Jadi sistemnya, pemerintah memberikan benih dan pupuk kepada penangkar, kemudian nanti hasilnya dijual kepada pemerintah untuk dijadikan benih bagi petani lain.

Halaman1234
Editor: alfred_dama
Sumber: Pos Kupang
KOMENTAR ANDA

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas