A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Ir. Leta Rafael Levis, M.Rur: Pembangunan Pertanian Harus Fokus - Pos Kupang
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 17 April 2014
Pos Kupang

Ir. Leta Rafael Levis, M.Rur: Pembangunan Pertanian Harus Fokus

Minggu, 23 Desember 2012 21:10 WITA
Ir. Leta Rafael Levis, M.Rur: Pembangunan Pertanian Harus Fokus
Ist
Leta Rafael Levis bersama istri tercinta
POS KUPANG.COM -- Pembangunan  pertanian di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih jauh dari harapan. Padahal potensi pertanian di wilayah ini masih bisa dikembangkan, bukan saja untuk memenuhi kebutuhan sendiri, namun bisa lebih dari yang diharapkan.

Ir. Leta Rafael Levis, M.Rur.Mgnt, seorang pakar pertanian mengatakan, NTT sebenarnya memiliki potensi dalam bidang pertanian. Masih banyak lahan yang bisa digarap selain meningkatkan kapasitas produksi dari yang sudah ada saat ini.

Menurutnya, kelemahan kita di NTT adalah kurang fokus dalam pembangunan pertanian, baik untuk pembinaan manajemen petani maupun kebijakan anggaran.

Bila saja hal ini terus berlangsung, maka potensi pertanian di NTT hanya tetap menjadi potensi. Berikut perbincangannya dengan Pos Kupang.

Bagaimana Anda melihat program Propinsi Jagung yang didengungkan pemerintah dan telah dilaksanakan dalam beberapa tahun ini?
Secara prinsip program itu sangat bagus, karena basis ekonomi masyarakat NTT di mana jagung menjadi salah satu primadona. Kedua, jagung juga menjadi makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat NTT. Kemudian dalam pengembangan jagung pertama, untuk ketahanan pangan lalu untuk pengembangan agribisnis.  Nah, jagung yang menjadi agribisnis itulah yang belum kita capai. Banyak pro kontra yang terjadi di sekitar itu.

Jadi banyak orang menginginkan ketika orang bicara jagung maka dimana itu lokasi jagung, bagaimana pengembangannya. Itu yang belum kelihatan. Yang perlu dilihat sekarang adalah Propinsi Jagung untuk mengamankan ketahanan pangan.

Bagaimana dengan hasilnya?
Saya pikir dari produksinya sudah memenuhi syarat. Kalau kita lihat data dari 2007 hingga 2011, jagung ini produktivitasnya masing-masing 2007 sebesar 2,3 ton perhektar, 2008 itu 2,48 ton perhektar, 2009 sebesar 2,5 ton perhektar, 2010 mencapai 2,67 ton perhektar, 2011 turun menjadi 2,1 ton perhektar. Jadi segi produktivitas kita belum mencapai hal yang diharapkan. Misalnya jagung lamuru yang paling banyak ditanam petani di NTT itu produktivitasnya 4 hingga 5 ton, tapi kita baru sampai antara 2,1 hingga 2,5 ton perhektar. Jadi pengembangan jagung dari segi produktivitas kita belum memenuhi target.

Apa masalahnya hingga belum mencapai target?
Sepengetahuan saya, masalah pertama program jagung ini belum didukung dengan danah yang cukup. Dana sangat minim untuk pengembangan jagung. Kedua, masalah kelembagaan petani, masalah ketiga adalah perbenihan. Perbenihan ini sering kita datangkan dari luar, tapi dua tiga tahun terakhir ini pemerintah NTT sudah berupaya mengembangkan penangkar-penangkar lokal. Jadi sistemnya, pemerintah memberikan benih dan pupuk kepada penangkar, kemudian nanti hasilnya dijual kepada pemerintah untuk dijadikan benih bagi petani lain.

Kemudian kelembagaan petani. Hasil penelitian kami di NTT dalam agribisnis jagung  diketahui 92 persen petani jagung menanam hanya asal tanam. Jadi dia tanam jagung lalu berharap turun hujan. Jadi cara petani bertanam perlu diperbaiki. Saya menyarankan teman-teman di dinas terkait untuk memperkuat kapasitas petani dan kelembagaannya.

Bagaimana dengan pembinaan kelompok tani?
Di NTT ada sekitar 18.182 kelompok tani. Kelompok tani pemula itu ada 15.835 kelompok, kelompok lanjut itu 2.188, kemudian kelompok madya ada 159 kelompok. Yang utama nol. Itu yang menjadi kelemahan pembinaan kelembagaan petani di NTT. Seharusnya semakin lama pembangunan itu dilaksanakan maka kelompok tani utama harus banyak, karena kelompok tani utama untuk kelompok tani maju, tapi kita malah nol sekarang. Di lain pihak kita sudah membentuk 1.675 gapoktan. Dalam konsep pengembangan kelompok tani, gapoktan ini merupakan gabungan dari kelompok tani utama. Kemudian, jagung juga di level petani tidak sampai 10 persen yang sudah melakukan pengolahan sebagai petani lapangan.

Bagaimana dengan daya dukung lahan dan cuaca?
Memang sekarang cuaca menjadi persoalan. Kalau baca di website pemanasan global tidak bisa dihindari. Jadi data yang dirilis oleh IRI (International Research Institute) di Filipina itu bahwa setiap kenaikan suhu satu derajat pada malam hari akan secara otomatis menurunkan produktivitas petani sebesar 10 persen. Ini data 2007. Persoalan satu derajat ini bukan setahun, tapi bisa saja lima tahun. Jadi saya berpikir bahwa pemanasan global ini bisa saja otomatis secara perlahan dan pasti akan menurunkan produktivitas pertanian dan menurunkan debit air irigasi.

Banyak pemerhati masalah pertanian menginginkan pemerintah tidak saja mengembangkan jagung, tapi juga tanaman lain. Bagaimana menurut Anda?

Saya sangat setuju, seperti sorgum, ubi dan lainnya merupakan kekayaan keunggulan lokal kita. Jadi dalam tatanan pertanian internasional, pertanian itu merupakan bagian dari sistem pertanian kita. Tanam itu bergeser karena orientasi kita ke beras. Jadi saya sangat setuju bila kita tidak saja mengembangkan jagung, tapi juga tanaman itu. Persoalan utama kita adalah pemerintah hingga kini bicara tanaman lokal, tapi konsentrasi membangun tanaman lokal ini masih sedikit, masih dalam taraf berbicara yang tidak diikuti dengan implementasi. Ada gagasan seperti raskin diganti dengan jagung, persoalan itu diganti maka berapa kuat kita menyiapkan jagung. Kalau produksi jagung tidak mencukupi lalu harus dibeli maka jagung bisa lebih mahal. Jadi saya mengharapkan agar pemerintah manapun harus ada kebijakan yang diikuti dengan kebijakan anggaran untuk mendorong para petani menanam kembali jagung.

Terkait dengan manajemen lumbung. Bagaimana pentingnya lumbung untuk menjamin kedaulatan pangan?
Jadi lumbung para nenek moyang kita buat karena produksi yang banyak, tapi sekarang ada sebagian daerah yang ada produksi, tapi tidak ada lumbung. Jadi itu sebenarnya bagus dalam istilah lumbung pangan memang dibutuhkan. Tetapi ketika kita mengatakan atau membicarakan lumbung pangan, keseriusan kita untuk meningkatkan tanaman lokal itu memang diharapkan jelas dan bersinergi baik pemerintah maupun DPRD bersama- sama.

Selain jagung, ada juga tanaman lain. Seperti pemerintah kurang memberikan ruang untuk kemajuan tanaman lain seperti halnya kedelai. Jadi secara nasional ada lima komoditi pangan pokok yaitu padi, jagung, kedelai, sapi dan gula. Ini lima pangan pokok industri pertanian Indonesia. Kedelai ini ada, produktivitasnya 1.009 ton perhaktar, jadi masih sangat rendah, masih bisa dinaikkan sampai dengan 2. Kemudian luas areal belum terlalu banyak, mungkin hanya 1.000 hektar lebih saja. Kedelai ini agak langka di NTT.

Semakin tahun curah hujan di NTT semakin berkurang. Model pembangunan bagaimana untuk menyiasati fenomena alam seperti ini?
Memang ada teknologi saat ini, tapi teknologi ini mahal. Teknologi ini membutuhkan areal paling tidak 40 hektar supaya bisa ada untungnya. Teknologi untuk mengatur kelembaban udara susah bagi kita, tapi bagaimana kita upayakan ini.
Kita omong padi, luas sawah di NTT dalam catatan dari Dinas Pertania ada 182 ribu hektar lebih. Jadi pada tahun 2010 ada 182.565 hektar, ini potensi lahan sawah. Di lain pihak produktivitas lahan sawah di NTT baru 3,5 ton per hektar. Jadi menurut saya, salah satu syarat untuk mengantisipasi pangan adalah meningkatkan produktivitas padi khususnya  di lahan persawahan karena kita masih punya peluang besar.

Peluang besar maksudnya?
Lahan ini masih potensial sebab yang saat ini dikelola belum semuanya, jadi masih ada ruang untuk meningkatkan produktivitas padi lewat intensifikasi, ekstensifikasi maupun disversifikasi. Di lain pihak pada musim tanam kedua di lahan persawahan di NTT  seperti data yang didapat dari suatu studi pada musim tanam kedua di daerah-daerah hilir itu air sangat kurang. Kita mau usulkan kepada Pemda NTT agar lembaga terkait bisa dikonversikan ke tanaman jagung atau tanaman palawija lainnya karena cocok, tapi padi petani sangat rugi. Jadi persawahan itu tidak hanya digunakan untuk padi, tapi juga bisa digunakan untuk musim tanam kedua. Jadi ada tiga kali tanam yaitu padi, jagung, padi atau padi, kedelai, padi.

Jadi sebenarnya padi tidak perlu didatangkan dari luar?

Iya, seandainya kita bisa hasilkan 5 ton per hektar padi, maka itu sudah 900 ribu ton pertahun, padahal kebutuhan kita hanya 700 ribu ton pertahun. Sebenarnya kita bisa surplus kalau kita konsisten dengan program-program pertanian, terutama untuk peningkatan produktivitas, kita surplus beras.

Masalahnya apa?
Jadi masalahnya konsentrasi dan konsistensi pemerintah dalam hal pola pembangunan tidak terfokus. Maksudnya begini, kalau kita mau surplus beras maka segala upaya dari berbagai sektor harus fokus ke sana. Kalau kita mau jagung, maka kita harus fokus ke sana; kalau mau padi maka kita harus fokus ke sana. Jadi istilanya ada fokus dan lokus, ini yang belum kita integrasikan (FLI = fokus, lokus dan integrasi).

Anda sedang melakukan penelitian. Kira-kira apa bocoran hasil dari penelitian ini?
Saya baru penelitian di Ende, jadi kami melakukan penelitian yang namanya edmedicine. Karena saya orang Ende, maka saya ke Ende, karena ini menyangkut bahasa lokal, yaitu etnis Lio. Jadi ternyata potensi pembangunan dalam bidang kesehatan masyarakat kita sangat besar, tetapi sejauh ini pemerintah kita tidak mengakomodir mereka sebagai satu bagian integral dalam pembangunan kesehatan. Jadi data itu tidak ada pada pemerintah, padahal mereka membantu orang. Jadi kalau perawatan di rumah sakit sudah ditolak, maka mereka yang membantu. Jadi potensi tanaman-tanaman obat itu sangat banyak dimiliki oleh masyarakat NTT, khususnya di Kabupaten Ende.

Jenis tanaman apa yang bisa menjadi obat dalam kehidupan sehari-hari?
Oh, sangat banyak. Terutama yang paling banyak manfaat itu adalah damar. Jadi kami dapat satu dukun, yang orang Lio bilang Ata Bisa, artinya dia bisa mengobati orang dengan berbagai penyakit hanya menggunakan getah damar. Tapi memang dalam kekayaan Ende Lio, itu namanya ada Ine Ame, setiap penyakit ada pemiliknya. Jadi dengan ungkapan-ungkapan tertentu lalu mereka memetik daun tersebut lalu bisa menyembuhkan orang.  

Apakah obat pabrikan ini sudah menggantikan obat tradisional atau masyarakat masih percaya dengan obat tradisional warisan leluhur?

Hal ini memang sangat bervariasi. Ada masyarakat yang kalau sakit dia langsung ke obat tradisional, ada juga yang ke dokter. Tapi pengalaman kami di Watuneso, Ende tentang dukun bersalin. Sebelum mereka ke dokter, maka mereka ke dukun ini dulu. Karena ada daun-daun tertentu yang mereka makan atau minum bisa membuat proses persalinan menjadi lancar sehingga tidak perlu lagi ke dokter.  Jadi masyarakat di kampung itu masih meyakini obat-obat kampung dan mereka juga memahami efek samping yang buruk dari oba-obatan yang berbahan kimia.  

Dalam beberapa tahun ini, pemerintah sudah merekrut penyuluh. Menurut Anda, apakah ini punya pengaruh terhadap produktivitas pertanian?
Jadi kalau kita simak data, memang tidak kelihatan produktivitasnya. Saya tidak tahu apakah penyuluh tidak berperan sebagus yang diharapkan atau mereka telah berperan baik tapi hasilnya belum kelihatan, mungkin karena alam, tapi secara umum ada keluhan-keluhan terhadap para penyuluh di lapangan. Kita inginkan penyuluh itu menjadi idola di lapangan, jadi pertama tentang komunikasi dengan masyarakat petani. Mereka harus siap dikontak di mana saja. Kemudian di NTT ini persoalan lain adalah dalam penerimaan pegawai, baik di propinsi maupun kabupaten, soal formasi penyuluh, tapi ketika diangkat menjadi PNS, mereka bukan di lapangan, tapi di kantor. Yang saya khwaatir begini, suatu saat data jumlah penyuluh di NTT sudah cukup, tapi kondisi di lapangan kita kekurangan penyuluh. Jadi kami sudah menyarankan kepada Pak Gubernur NTT supaya dibuat kebijakan bahwa setiap pegawai yang diangkat dengan formasi penyuluh, maka dia harus ke lapangan. Keuntungan pertama untuk petani dan kedua untuk penyuluh itu sendiri, karena bila mereka hanya di kota mereka bekerja tapi sulit untuk naik pangkat karena mereka tidak punya lahan, mereka tidak punya kelompok tani dan lainnya. Jadi mereka semacam tidak punya kredit point untuk naik pangkat. Saya mengharapkan pemerintah menempatkan penyuluh seperti yang dulu. Dulu, waktu 1980-an sampai kita bisa swasembada beras karena peran penyuluh.

Jagung sekarang manis. Ada beberapa pengamat pertanian yang mengatakan jagung yang sekarang ini tidak menjamin ketahanan pangan.
Begini, jagung ini ada tiga macam yaitu jagung lokal, jagung hibrida dan jagung komposit. Jagung lokal kita sudah tahu, tapi jagung komposit itu ada seperti varietas lamuru, ada Pisma, ada arjuna. Nah, jagung komposit ini kelebihannya bisa produksi lebih tinggi, bisa disimpan untuk benih tahun berikutnya selain untuk konsumsi. Kemudian jagung hibrida, jagung hibrida ini dibuat atau diproduksi sebenarnya untuk pakan ternak karena ini untuk satu tahun. Jadi jagung ini harus dihabiskan sekarang, tidak bisa disimpan hingga tahun depan karena jagung ini akan fufuk. Jadi di NTT kalau dikembangkan jagung hibrida maka petani menjadi sasaran karena petani harus beli terus, tapi kalau komposit petani bisa gunakan untuk tahun depan.

Anda seorang peneliti. Kira-kira apa yang ada dalam pikiran Anda tentang konteks pembangunan pertanian yang pas untuk NTT?

Dia harus pendekatan perwilayahan. Sumba mesti menonjol ke ternak, Timor sebagian pertanian dan sebagian lagi peternakan. Di Flores, dulu orang mengerti bahwa di Flores bisa dikembangkan pangan dan tanaman perdagangan. Tapi data terbaru dari peternakan menyebutkan Flores sekarang nomor dua penghasil sapi dan Sumba nomor tiga. Jadi Timor pertama, Flores nomor dua dan Sumba nomor tiga. Sehingga Flores selain mengembangkan tanaman perdagangan, dia juga sudah menempatkan ternak menjadi salah satu prioritas tapi tidak semua kabupaten, hanya di Manggarai, Nagekeo, Ngada, Sikka. Jadi menurut saya, pembangunan perwilayahan itu pas, dan juga harus sesuai dengan kultur sosial budaya masyarakat setempat.

Jadi pembangunan itu tetap memperhatikan budaya lokal?
Iya, misalnya di Ende ada upacara Kabo. Ini merupakan tradisi untuk persiapan menanam, tapi juga meminta restu untuk hujan. Pada saat yang sama juga ada upacara untuk menolak penyakit tanaman. Yang kita maksudkan adalah petani ini berhubungan dengan alam, jadi kita tidak bisa mengubah alam tanpa diperkuat dengan kondisi alam sekitarnya. Jadi budaya lokal itu penting.

NTT lagi ramai dengan suksesi. Apa yang ingin Anda sampaikan?
Kebetulan saat ini sedang suksesi pemimpin daerah baik di propinsi maupun kabupaten. Saya harapkan agar semua calon pemimpin di NTT melihat pembangunan di NTT secara objektif. Artinya, kita tidak bisa saling mengkritik. Kalau kita sudah saling mengkritik dalam artian yang negatif, maka siapa lagi yang bisa dan mau membangun NTT. Contohnya, Anda punya kemampuan membangun, tapi jangan dilihat kekurangannya saja karena setiap orang punya kelebihan dan kekurangan.  Kalau pemimpin ini memiliki kekurangan, maka tugas pemimpin berikutnya menutupi kekurangan yang ada. Kalau kita hanya saling kritik yang tidak konstruktif, maka sampai kapan pun NTT akan begini-begini saja. Jadi kita harus objektif atau sekecil apapun orang itu, tentu ada kemajuannya. (alfred dama)

Data Diri
N a m a         :  Ir. Leta Rafael Levis, M.Rur.Mgnt
Tempat dan Tanggal Lahir: Ende, 1 Mei 1960
Jabatan :     Kepala Laboratorium Komunikasi dan Penyuluhan Pertanian Undana 2007-2012  
Alamat Rumah:  Jl. Tunggal Ika Kayu Putih Kupang

Jabatan Lain:
a. Ketua Komisi Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Provinsi NTT 2011-2016
b. Ketua Tim Teknis Jagung Provinsi NTT 2010 - 2013

Pendidikan :

SDK Laikamba/Ende Tenda    1973    
SMP Wolojita/Ende  1978    
SMAK Syuradikara Ende 1982    
Universitas Udayana Denpasar 1988
Komonikasi dan Penyuluhan Pertanian
S2 Curtin University of Technology Perth/Australia     Rural Management&Extension

Riwayat Pekerjaan
Anggota Kelompok Penelitian Agro-Ekosistem Undana    Juni 1988 s/d Desember 1990
Fakultas Non Gelar dan Teknologi Undana April 1999 - Januari 1991
Fakultas Pertanian Undana Jurusan SOSEKTAN    Januari 1991 - sekarang
Anggota Australia Pacific Extension Network (APEN)    Juni 2003 - sekarang


Nama dan Judul Penelitian
1.    Role of agricultural Extension Worker in Hortucultural Agribusiness in NTT. Thesis Master of Science, Muresk Institue of Agriculture, Curtin Univ. of Technology    World Bank/Thesis    2002    L.R.Levis
2. Evaluasi Perilaku masyarakat dalam pemanfaatan dana IDT di NTT/Balitbangda NTT    2002    L.R.Levis, Muh Kasim, I Nyoman Sirma, Paulus Un,  dan Philip de Rosari
3.    Sistem Komunikasi Pengembangan Jati Emas di Kecamatan Kupang Tengah    DPP Undana    2003    L. R. Levis, Kuji Herewila, Jack Ratu
4.    Evaluasi Dampak Proyek IFAD Jambu mete (P2WTRI) Propinsi NTT     Disbun NTT    2004    L.R. Levis, Muh Kasim, Nyoman Sirma, Frederik L.Benu, Joh Jegho

Pengalaman Kemasyarakatan/Berorganisasi

1. Ketua PMKRI Cabang Denpasar tahun 1986/1987
2. Pengurus Pemuda Katolik Denpasar Tahun 2005-2006
3. Ketua Umat Basis Bunda Rahmat Ilahi Kayu Putih Kupang, 2008 sampai sekarang
4. Ketua Unit Simpan Pinjam Ikatan Keluarga Kecamatan Wolojita di Kupang, 2008- sekarang
5. Wakil Ketua IKKEF Kupang
Editor: alfred_dama
Sumber: Pos Kupang
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
88511 articles 14 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
© 2014 TRIBUNnews.com All Right Reserved About Us Privacy Policy Help Terms of Use Redaksi Info iklan Contact Us Lowongan
Atas