PosKupang/

Ir. Leta Rafael Levis, M.Rur: Pembangunan Pertanian Harus Fokus

Pembangunan pertanian di Propinsi NTT masih jauh dari harapan. Padahal potensi pertanian di wilayah ini masih bisa dikembangkan

Ir. Leta Rafael Levis, M.Rur: Pembangunan Pertanian Harus Fokus
Ist
Leta Rafael Levis bersama istri tercinta

Ir. Leta Rafael Levis, M.Rur.Mgnt, seorang pakar pertanian mengatakan, NTT sebenarnya memiliki potensi dalam bidang pertanian. Masih banyak lahan yang bisa digarap selain meningkatkan kapasitas produksi dari yang sudah ada saat ini.

Menurutnya, kelemahan kita di NTT adalah kurang fokus dalam pembangunan pertanian, baik untuk pembinaan manajemen petani maupun kebijakan anggaran.

Bila saja hal ini terus berlangsung, maka potensi pertanian di NTT hanya tetap menjadi potensi. Berikut perbincangannya dengan Pos Kupang.

Bagaimana Anda melihat program Propinsi Jagung yang didengungkan pemerintah dan telah dilaksanakan dalam beberapa tahun ini?
Secara prinsip program itu sangat bagus, karena basis ekonomi masyarakat NTT di mana jagung menjadi salah satu primadona. Kedua, jagung juga menjadi makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat NTT. Kemudian dalam pengembangan jagung pertama, untuk ketahanan pangan lalu untuk pengembangan agribisnis.  Nah, jagung yang menjadi agribisnis itulah yang belum kita capai. Banyak pro kontra yang terjadi di sekitar itu.

Jadi banyak orang menginginkan ketika orang bicara jagung maka dimana itu lokasi jagung, bagaimana pengembangannya. Itu yang belum kelihatan. Yang perlu dilihat sekarang adalah Propinsi Jagung untuk mengamankan ketahanan pangan.

Bagaimana dengan hasilnya?
Saya pikir dari produksinya sudah memenuhi syarat. Kalau kita lihat data dari 2007 hingga 2011, jagung ini produktivitasnya masing-masing 2007 sebesar 2,3 ton perhektar, 2008 itu 2,48 ton perhektar, 2009 sebesar 2,5 ton perhektar, 2010 mencapai 2,67 ton perhektar, 2011 turun menjadi 2,1 ton perhektar. Jadi segi produktivitas kita belum mencapai hal yang diharapkan. Misalnya jagung lamuru yang paling banyak ditanam petani di NTT itu produktivitasnya 4 hingga 5 ton, tapi kita baru sampai antara 2,1 hingga 2,5 ton perhektar. Jadi pengembangan jagung dari segi produktivitas kita belum memenuhi target.

Apa masalahnya hingga belum mencapai target?
Sepengetahuan saya, masalah pertama program jagung ini belum didukung dengan danah yang cukup. Dana sangat minim untuk pengembangan jagung. Kedua, masalah kelembagaan petani, masalah ketiga adalah perbenihan. Perbenihan ini sering kita datangkan dari luar, tapi dua tiga tahun terakhir ini pemerintah NTT sudah berupaya mengembangkan penangkar-penangkar lokal. Jadi sistemnya, pemerintah memberikan benih dan pupuk kepada penangkar, kemudian nanti hasilnya dijual kepada pemerintah untuk dijadikan benih bagi petani lain.

Kemudian kelembagaan petani. Hasil penelitian kami di NTT dalam agribisnis jagung  diketahui 92 persen petani jagung menanam hanya asal tanam. Jadi dia tanam jagung lalu berharap turun hujan. Jadi cara petani bertanam perlu diperbaiki. Saya menyarankan teman-teman di dinas terkait untuk memperkuat kapasitas petani dan kelembagaannya.

Bagaimana dengan pembinaan kelompok tani?
Di NTT ada sekitar 18.182 kelompok tani. Kelompok tani pemula itu ada 15.835 kelompok, kelompok lanjut itu 2.188, kemudian kelompok madya ada 159 kelompok. Yang utama nol. Itu yang menjadi kelemahan pembinaan kelembagaan petani di NTT. Seharusnya semakin lama pembangunan itu dilaksanakan maka kelompok tani utama harus banyak, karena kelompok tani utama untuk kelompok tani maju, tapi kita malah nol sekarang. Di lain pihak kita sudah membentuk 1.675 gapoktan. Dalam konsep pengembangan kelompok tani, gapoktan ini merupakan gabungan dari kelompok tani utama. Kemudian, jagung juga di level petani tidak sampai 10 persen yang sudah melakukan pengolahan sebagai petani lapangan.

Bagaimana dengan daya dukung lahan dan cuaca?
Memang sekarang cuaca menjadi persoalan. Kalau baca di website pemanasan global tidak bisa dihindari. Jadi data yang dirilis oleh IRI (International Research Institute) di Filipina itu bahwa setiap kenaikan suhu satu derajat pada malam hari akan secara otomatis menurunkan produktivitas petani sebesar 10 persen. Ini data 2007. Persoalan satu derajat ini bukan setahun, tapi bisa saja lima tahun. Jadi saya berpikir bahwa pemanasan global ini bisa saja otomatis secara perlahan dan pasti akan menurunkan produktivitas pertanian dan menurunkan debit air irigasi.

Banyak pemerhati masalah pertanian menginginkan pemerintah tidak saja mengembangkan jagung, tapi juga tanaman lain. Bagaimana menurut Anda?

Saya sangat setuju, seperti sorgum, ubi dan lainnya merupakan kekayaan keunggulan lokal kita. Jadi dalam tatanan pertanian internasional, pertanian itu merupakan bagian dari sistem pertanian kita. Tanam itu bergeser karena orientasi kita ke beras. Jadi saya sangat setuju bila kita tidak saja mengembangkan jagung, tapi juga tanaman itu. Persoalan utama kita adalah pemerintah hingga kini bicara tanaman lokal, tapi konsentrasi membangun tanaman lokal ini masih sedikit, masih dalam taraf berbicara yang tidak diikuti dengan implementasi. Ada gagasan seperti raskin diganti dengan jagung, persoalan itu diganti maka berapa kuat kita menyiapkan jagung. Kalau produksi jagung tidak mencukupi lalu harus dibeli maka jagung bisa lebih mahal. Jadi saya mengharapkan agar pemerintah manapun harus ada kebijakan yang diikuti dengan kebijakan anggaran untuk mendorong para petani menanam kembali jagung.

Halaman
123
Editor: alfred_dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help