Kamis, 27 November 2014
Pos Kupang

Tokoh Pendidikan Itu Telah Pergi

Kamis, 13 Desember 2012 09:47 WITA

Tokoh Pendidikan Itu Telah Pergi
POS KUPANG/ADHIANA AHMAD
DI NANGARORO -- Jenazah Wakil Bupati Nagekeo, Drs. Paulus Kadju didampingi adik kandungnya ketika masih disemayamkan di Puskesmas Nangaroro, Rabu (12/12/2012).
POS-KUPANG.COM --- Ajal datang bak pencuri, kapan saja dan di mana saja.  Ajal adalah rahasia Tuhan dan tak satupun  manusia mampu menghindarinya karena ajal  itu takdir.

Begitupun almarhum Drs. Paulus Kadju, Wakil Bupati Nagekeo.Tak satupun  mengira lelaki  santun dan murah senyum itu harus pergi untuk selamanya  menghadap sang kuasa  secepat itu, di saat semua orang Nagekeo  baru saja larut dalam eforia merayakan hari jadi keenam kabupaten itu.

Lahir dari pasangan Philipus Kota Wonga dan Ludvina Lidja, almarhum Paulus Kadju menghabiskan masa kecilnya di Aeramo, Desa Nataia, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Tamat di SDK Nataia dan SMEP, setara SMP di Tozupazo Danga, almarhum melanjutkan pendidikan ke SPGK Boawae tahun 1972.

Almarhum meninggalkan Nagekeo pada tahun 1972 ketika melanjutkan pendidikan ke Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP)  Undana Kupang dan selanjutnya ke FIP IKIP Karang Malang-Yogyakarta tahun 1980. Separuh hidupnya dihabiskan untuk mengabdi di bidang pendidikan.

Baginya, pendidikan merupakan jalan bagi manusia untuk keluar dari kemiskinan.

Selama kariernya sebagai seorang pengajar atau pendidik, almarhum  sudah berkali-kali pindah tugas dari satu perguruan tinggi ke perguruan tinggi lainnya.

Mengabdi di almamaternya sebagai dosen FKIP Undana Kupang dari Juli 1980 sampai Desember 1990, almarhum kemudian  ditarik menjadi dosen Kopertis Wilayah VIII dan diperbantukan di FKIP Universitas Timor  (Untim) Dili-Timor Timur  dari  Januari 1991-Mei tahun 2000 ketika Timor Timor masih menjadi bagian dari NKRI.

Paulus Kadju dan keluarga  kemudian pindah ke Kabupaten TTU dan mengabdi di Universitas Timor (Unimor)  dari tahun 2000-tahun 2002  setelah Timor Timur melepaskan diri dari NKRI tahun 1998 lalu. Jiwa petualang sebagai seorang pendidik membawanya ke Universitas PGRI pada tahun 2003 lalu sampai ajal menjemputnya.

Kecintaannya terhadap dunia pendidikan bahkan berlangsung  sampai almarhum menduduki jabatan Wakil Bupati Nagekeo.

Selama menjadi Wakil Bupati Nagekeo, lelaki yang pernah menduduki jabatan penting di beberapa perguruan tinggi di NTT ini  menjadi salah satu anggota tim yang menginisiasi berdirinya Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Nusa Bunga Floresta Nagekeo yang telah memulai kegiatan belajar mengajar pada tahun ini.

Almarhum juga merupakan salah satu anggota tim yang ikut menginisiasi berdirinya Akademi Komunitas Teknology Garam  yang saat ini sedang dalam masa persiapan operasional.

Kepedulian ayah tiga anak ini terhadap dunia pendidikan diakui oleh Ketua DPRD Nagekeo, Gaspar Batubata, S.H dan Marselinus Ajo Bupu. Gaspar yang ditemui di Mbay, Rabu siang mengungkapkan, almarhum layak disebut tokoh pendidikan karena kepeduliannya terhadap dunia pendidikan. 

Jiwa  seorang pendidik dalam diri almarhum turut berpengaruh terhadap gaya kepemimpinan almarhum. 

"Orangnya baik hati, santun dan tak pernah marah dengan orang. Kalaupun ia marah, tak segan untuk meminta maaf. Memanggil orang saja jarang menyebut nama. Yang laki-laki disapa `ema' dan perempuan `ine' atau untuk orang yang usianya lebih mudah seperti kita dipanggil `azi' atau adik. Kepedulian  terhadap orang lain sangat tinggi," beber Gaspar. Gayanya yang familiar juga ditunjukkan dalam membangun relasi dengan semua anggota DPRD Nagekeo.

"Di luar ruangan kita itu seperti saudara, kakak adik. Hal-hal yang ada di dalam gedung, kita bisa bicarakan di luar gedung. Dia orangnya terbuka. Jika ada hal-hal yang dia tidak mengerti dia katakan bahwa dia tidak mengerti. Dia orang yang suka menerima masukan orang lain. Tidak egois," kata Gaspar yang diamini Marselinus.

Gaspar mengungkapkan, Nagekeo benar-benar  kehilangan seorang tokoh  yang begitu peduli pada  pendidikan.

"Saya seakan tidak percaya kalau beliau telah tiada.  Demikian juga dengan Pak Niko Wedo, anggota DPRD Nagekeo dari Fraksi Hanura yang meninggal pada Rabu siang.  Dalam kediaman mereka, sesungguhnya mereka orang yang luar biasa," demikian Gaspar.

Disiplin dan Kerja Keras

Sosok mengayomi yang dimiliki almarhum ternyata meninggalkan kesan tersendiri bagi orang-orang terdekatnya. Sopir almarhum, Hery Rarang  mengatakan, meski agak keras kepala, almarhum sangat perhatian terhadap semua orang yang ada di dekatnya.

Hery menuturkan, almarhum tipe orang kerja keras dan disiplin tinggi. Jiwa pendidik yang ada dalam dirinya berpengaruh besar terhadap perilaku dan pola hidup almarhum.

"Bapak itu selalu tepat waktu dalam urusan apa saja. Apalagi ke kantor. Kita terlambat sedikit, Bapak langsung naik sepeda motor ke kantor," kata Hery.

Hery yang juga masih kerabat dekat almarhum mengungkapkan,  almarhum seorang pekerja keras dan tidak mudah menyerah. Dalam keadaan sakit pun, terkadang almarhum memaksakan diri masuk kantor.

"Bapak selalu mengatakan di kantor banyak pekerjaan. Padahal kita tahu dia sakit. Kita tahu Bapak sakit karena bapak sering mengeluh terutama pada perutnya. Gejala itu sudah mulai terlihat sejak setahun lalu. Namu ketika kita sarankan untuk periksa ke Kupang atau Surabaya, Bapak tidak mau. Katanya, cukup di Susteran saja  karena Bapak cocok dengan obat dari Susteran. Itu sebabnya Bapak minta pulang dan tidak mau berobat di Ende karena ingin berobat ke Susteran di Mbay tempatnya berobat selama ini," kata Hery. 

Hery sendiri mengaku tidak percaya dengan kematian almarhum meskipun di depannya ada jenazah almarhum.
Editor: omdsmy_novemy_leo
Sumber: Pos Kupang

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas