Wartawan Diancam Dibunuh

Polda Perintah Polres Lembata Proses Hukum Pengancam Wartawan

Kepala Kepolisian Daerah NTT, Brigadir Jenderal Polisi Ricky HP Sitohang, memerintahkan Kapolres Lembata, AKBP Marthen Johanis,

Polda Perintah Polres Lembata Proses Hukum Pengancam Wartawan
ist
Kapolda NTT, Brigjen (Pol) Ricky HP Sitohang, SH

Penuntasan proses hukum untuk memberi pelajaran kepada pejabat publik agar tidak berlaku arogan dan sewenang-wenang sehingga membuat masyarakat resah.

Perintah itu disampaikan Kapolda Ricky ketika ditemui wartawan di Kupang, Senin (3/12/2012) siang. Kapolda  menyatakan, langkah hukum perlu dilakukan sampai tuntas agar masyarakat tidak resah atas ulah oknum pejabat pemerintah yang bertindak arogan kepada masyarakat.

Kapolda Ricky menyatakan, bila Polres Lembata tidak sanggup menangani kasus itu, Polda NTT bisa mengambil alih penanganannya. Namun Polda NTT memberikan kesempatan terlebih dahulu kepada Polres Lembata untuk menangani kasus pengancaman pembunuhan dengan terlapor oknum Wakil Ketua DPRD Lembata.

Menurut Kapolda Ricky, seorang pejabat publik di daerah semestinya bertindak humanis. Boleh tegas, tetapi bukan berarti membentak-bentak, memaki-maki dan mengancam orang dengan kearogansiannya lantaran jabatan yang diemban.

Ia menambahkan, dugaan penyimpangan perjalanan dinas DPRD Lembata juga menjadi bagian tersendiri dalam penyelidikan dugaan korupsi.

"Nanti akan kami dalami terlebih dahulu terkait dugaan penyimpangan perjalanan dinasnya," kata Kapolda Ricky. Setelah itu, katanya, penyelidikan bisa dimulai karena kemungkinan ada perjalanan fiktif dengan pos belanja anggaran tersebut.

Berita sebelumnya, Wakil Ketua (Waket) II DPRD Lembata, Yoseph Meran Lagaur, S.IKom mengancam membunuh wartawan Pos Kupang, Feliks Janggu,  pada acara renungan Hari AIDS se-Dunia di Taman Swaolsa Tite, Kota Lewoleba, Sabtu (1/12/2012) malam pukul 19.30 Wita.

Tidak diketahui motif ancaman itu, tapi diduga karena berita perjalanan dinas DPRD Lembata yang diberitakan Harian Pos Kupang, tempat Feliks bekerja.   Tiba-tiba saja dia marah ketika Feliks menghampirinya saat Meran sedang bersama wartawan Vitory News, Marthen Kilok dan Wartawan TVRI, Wisnu Yunior.

"Saya tunggu kau dari tadi. Kau ini wartawan, saya ini juga pernah jadi wartawan. Saya ini sarjana komunikasi, kau buat berita tidak konfirmasi saya," tiba-tiba  Yos Meran berkata demikian.

Kemarahannya menjadi tontonan banyak orang. Di hadapannya ada Nefri Eken dari Forum Komunikasi Waria NTT, Ketua Panitia HAS Lembata, Lutfi Ali dan beberapa warga.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: alwy
Editor: alfred_dama
Sumber: Pos Kupang
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help