Jumat, 30 Januari 2015

Sail Komodo, Destinasi Berbasis Kawasan (2)

Jumat, 12 Oktober 2012 12:17 WITA

Sail Komodo, Destinasi Berbasis Kawasan (2)
ist
Ansel Alaman

Terlibat  Penyusunan UU Kepariwisataan 2009; Departemen Transportasi DPP PDI Perjuangan; Tenaga Ahli  di Komisi Transportasi DPR-RI


TAMAN Eden kepariwisataan NTT menyimpan potensi indah, eksotik dan 'perawan'. Dari Manggarai saja ada tiga daya tarik wisata unggulan yang diakui badan dengan kategori berbeda yakni Komodo sebagai satu dari Tujuh Keajaiban Dunia yang Baru (New Seven Wonders of Nature). Selain itu, destinasi arkeologis atau kepurbakalaan, yakni Gua Liang Bua di Manggarai (utara Kota Ruteng) tempat ditemukannya hobbit Homo floresiensis, yaitu spesies manusia prasejarah.  

Dan destinasi eksotis lain ialah Mbaru Niang, rumah kerucut tradisional  Manggarai yakni  Desa Wae Rebo, Kecamatan Satar Mese Barat yang  mendapatkan penghargaan UNESCO, Asia-Pacific Awards 2012, diumumkan di Bangkok, 27 Agustus 2012. Mbaru Niang mendapatkan Award of Excellence, yang merupakan penghargaan tertinggi dalam bidang pelestarian warisan budaya, mengalahkan 42 kandidat lain dari 11 negara (Kompas, 30/8/2012; bdk. Robin Hartanto, Newsroom-blog).

Kawasan Strategis

Berdasarkan Pasal 12-13 UU. No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, sepantasnya Pemda NTT menetapkan kawasan strategis pengembangan pariwisata. Kawasan strategis dimaksud menjadi wilayah keunggulan destinasi pariwisata, dalam kawasan geografi yang berdekatan, lingkungan yang sama yang mewujudkan nilai-nilai yang sama pula.

Wilayah kawasan strategis pengembangan kepariwisataan  mencakup area administratif kabupaten/ kota, yang membutuhkan pakta integritas (semacam perjanjian kebulatan tekad untuk ekonomi kerakyatan berbasis kepariwisataan) oleh bupati-bupati dibawah koordinasi gubernur.  Pemda NTT dan DPRD dapat menetapkan Perda penataan kepariwisataan dengan pemetaan kawasan strategis pemasaran dan pengembangan pariwisata, sebagaimana diatur Pasal 12-13 UU Kepariwisataan.  Kawasan strategis tersebut bertujuan untuk pemasaran maupun pengembangan pariwisata. Perda. juga sekaligus membentuk Badan Promosi Pariwisata NTT (NTT Tourism Board), yang ditugasi melakukan promosi,  pemasaran dan  image pariwisata Indonesia, demi meningkatkan kunjungan wisman dan wisnus, menggalang pendanaan dan melakukan kajian atau riset (Pasal 43-49 UU Kepariwisataan).

Kawasan strategis NTT memetakan tiga lokasi pemasaran yakni Flores, Timor dan Sumba.  Setiap kawasan dikembangkan kerjasama Pemda, pengusaha pariwisata dengan  manajemen yang sejalan dengan visi-misi MP3EI (Masterplan Perluasan dan Pengembangan Ekonomi Indonesia). Untuk koridor V yakni Bali, NTB dan NTT,  MP3EI memusatkan kegiatan pada pengembangan dan perluasan ekonomi pariwisata dan ketahanan pangan.  Persoalannya, bagaimana mewujudkan ketahanan bahkan kedaulatan pangan di wilayah yang tiga perempat tanahnya dengan  pola Pertanian Lahan Kering (PLK)? 

Sebab sejak orde baru politik pangan Indonesia termasuk NTT didominasi dengan padi atau 'beras'. Potensi unggulan rakyat NTT selain padi  seperti ubi, jagung, keladi,  dan tidak dinilai sebagai 'pangan'. Rakyat berlomba menggali sawah, yang tekadar sawah tadahan yang tidak lama lagi pasti dialihkan ke tanaman lain.

Pangan NTT sudah menjadi  makanan pembentuk karakter/ jatidiri rakyat Karena itu tugas 'NTT Tourism Board' harus mempromosikan pariwisata kawasan strategis (Flores. Timor dan Sumba), sekaligus mengembangkan potensi dan kearifan lokal. NTT Tourism Board harus terdiri dari wakil pemda, asosiasi kepariwisataan, travel agent seperti airline atau transportais darat, serta pakar/akademisi (Pasal 38 UU Kepariwisataan).

Halaman12
Editor: sipri_seko
KOMENTAR ANDA

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas