• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 1 Oktober 2014
Pos Kupang

Sail Komodo, Destinasi Berbasis Kawasan (2)

Jumat, 12 Oktober 2012 12:17 WITA
Sail Komodo, Destinasi Berbasis Kawasan (2)
ist
Ansel Alaman
Oleh Ansel Alaman

Terlibat  Penyusunan UU Kepariwisataan 2009; Departemen Transportasi DPP PDI Perjuangan; Tenaga Ahli  di Komisi Transportasi DPR-RI


TAMAN Eden kepariwisataan NTT menyimpan potensi indah, eksotik dan 'perawan'. Dari Manggarai saja ada tiga daya tarik wisata unggulan yang diakui badan dengan kategori berbeda yakni Komodo sebagai satu dari Tujuh Keajaiban Dunia yang Baru (New Seven Wonders of Nature). Selain itu, destinasi arkeologis atau kepurbakalaan, yakni Gua Liang Bua di Manggarai (utara Kota Ruteng) tempat ditemukannya hobbit Homo floresiensis, yaitu spesies manusia prasejarah.  

Dan destinasi eksotis lain ialah Mbaru Niang, rumah kerucut tradisional  Manggarai yakni  Desa Wae Rebo, Kecamatan Satar Mese Barat yang  mendapatkan penghargaan UNESCO, Asia-Pacific Awards 2012, diumumkan di Bangkok, 27 Agustus 2012. Mbaru Niang mendapatkan Award of Excellence, yang merupakan penghargaan tertinggi dalam bidang pelestarian warisan budaya, mengalahkan 42 kandidat lain dari 11 negara (Kompas, 30/8/2012; bdk. Robin Hartanto, Newsroom-blog).

Kawasan Strategis

Berdasarkan Pasal 12-13 UU. No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, sepantasnya Pemda NTT menetapkan kawasan strategis pengembangan pariwisata. Kawasan strategis dimaksud menjadi wilayah keunggulan destinasi pariwisata, dalam kawasan geografi yang berdekatan, lingkungan yang sama yang mewujudkan nilai-nilai yang sama pula.

Wilayah kawasan strategis pengembangan kepariwisataan  mencakup area administratif kabupaten/ kota, yang membutuhkan pakta integritas (semacam perjanjian kebulatan tekad untuk ekonomi kerakyatan berbasis kepariwisataan) oleh bupati-bupati dibawah koordinasi gubernur.  Pemda NTT dan DPRD dapat menetapkan Perda penataan kepariwisataan dengan pemetaan kawasan strategis pemasaran dan pengembangan pariwisata, sebagaimana diatur Pasal 12-13 UU Kepariwisataan.  Kawasan strategis tersebut bertujuan untuk pemasaran maupun pengembangan pariwisata. Perda. juga sekaligus membentuk Badan Promosi Pariwisata NTT (NTT Tourism Board), yang ditugasi melakukan promosi,  pemasaran dan  image pariwisata Indonesia, demi meningkatkan kunjungan wisman dan wisnus, menggalang pendanaan dan melakukan kajian atau riset (Pasal 43-49 UU Kepariwisataan).

Kawasan strategis NTT memetakan tiga lokasi pemasaran yakni Flores, Timor dan Sumba.  Setiap kawasan dikembangkan kerjasama Pemda, pengusaha pariwisata dengan  manajemen yang sejalan dengan visi-misi MP3EI (Masterplan Perluasan dan Pengembangan Ekonomi Indonesia). Untuk koridor V yakni Bali, NTB dan NTT,  MP3EI memusatkan kegiatan pada pengembangan dan perluasan ekonomi pariwisata dan ketahanan pangan.  Persoalannya, bagaimana mewujudkan ketahanan bahkan kedaulatan pangan di wilayah yang tiga perempat tanahnya dengan  pola Pertanian Lahan Kering (PLK)? 

Sebab sejak orde baru politik pangan Indonesia termasuk NTT didominasi dengan padi atau 'beras'. Potensi unggulan rakyat NTT selain padi  seperti ubi, jagung, keladi,  dan tidak dinilai sebagai 'pangan'. Rakyat berlomba menggali sawah, yang tekadar sawah tadahan yang tidak lama lagi pasti dialihkan ke tanaman lain.

Pangan NTT sudah menjadi  makanan pembentuk karakter/ jatidiri rakyat Karena itu tugas 'NTT Tourism Board' harus mempromosikan pariwisata kawasan strategis (Flores. Timor dan Sumba), sekaligus mengembangkan potensi dan kearifan lokal. NTT Tourism Board harus terdiri dari wakil pemda, asosiasi kepariwisataan, travel agent seperti airline atau transportais darat, serta pakar/akademisi (Pasal 38 UU Kepariwisataan).

NTT Touirisme Board juga harus menghasilkan planning pariwisata serta peran pemda dan rakyat dalam kawasan. Planning harus menjadi langkah awal pembentukan paket perjalanan wisata sesuai potensi destinasi kawasan strategis. Planning harus mencakup  wisata alam (eko-wisata), wisata bahari, budaya (termasuk argeologis) termasuk wisata ziarah atau rohani.

Paket Perjalanan Wisata

Planning  oleh NTT Tourism Board harus memetakan  apa yang disebut Robert Christie Mill (Tourism, The Internastional Business, 2000) sebagai 'fisik resor' kepariwisataan. Fisik resor  menyediakan ruang (spatial) untuk rekreasi, hiking, panjat tebing, selancar, berenang, berjemuran di pantai indah dan bersih, dan lainnya. Untuk tujuan itu dibentuklah paket-paket perjalanan wisata. Paket-paket dimaksud mencakup destinasi sesuai jenis dan sifat daya tarik wisata yang ada. 

Misalnya dari Labuan Bajo hingga Larantuka, dibentuk paket perjalanan wisata yang terdiri dari wisata alam dari Komodo, Batu Cermin, air terjun dan danau-danau, hutan asri pegunungan Mandosawu Manggarai Raya, Pulau kelelawar di Riung, Danau Tiga Warna Kelimutu. Paket itu dipadukan dengan wisata bahari menyisir pulau-pulau kecil sekitar Komodo, Laut Flores dan Sumba.

Paket perjalanan wisata budaya seperti permainan Caci dari Manggarai, tarian Ndundudake, Rokatenda, Ja'i, kunjungan ke desa tradisional Wae Rebo Manggarai,  ritual Ka Nua dai Jerebuu-Ngada, desa budaya Benna, tarian dan lagu rakyat Nagekeo, musik bambu dari Ngada, Ende, Sikka. Dan situs Bung Karno di Ende menjadi salah satu destinasi unggulan.  Paket itu juga terpadu dengan  wisata ziarah/rohani dari gua-gua Bunda Maria sepanjang Pulau Flores sampai Perayaan Suci Prosesi Jumat Agung di Larantuka. Paket  tidak harus seragam tetapi alternatif untuk dapat dipilih oleh wisman dan wisnus sesuai 'selera' pasar kepariwisataan. Yang paling utama ialah keterlibatan berbagai stakeholders, baik pemda provinsi, kabupaten/ kota, tokoh agama, adat, akademisi, serta rakyat sebagai pelaku dan pemilik budaya.  Begitu pula kawasan Sumba dan Timor, dengan daya tarik unggulannya.

Persoalannya bagaimana kesiapan insfrastruktur dasar seperti jalan, jembatan, sumber daya air, listrik bahkan perangkat komunikasi?  Bagaimana kesiapan infrastruktur transportasi seperti bandara, dermaga, tata kelola pelabuhan, terminal, dan lainnya? NTT Tourism Board seharusnya membentuk badan usaha yang terdiri dari industri transportasi darat dan laut seperti kapal-kapal speed-boad yang menyeberangi puluau-pulau seperti Labuan Bajo-Komodo, persatuan hotel dan restoran (PHRI tandingan), gabungan home industry yang menghasilkan cindra mata (souvenir) dari kerajinan rakyat seperti kain tenun, topi, dan lain. Juga membentuk koperasi tata boga yang mengolah jenis makanan khas rakyat NTT yang dikerjakan pemuda dan gadis perdesaan dengan citarasa seni yang khas. Itulah makna kepariwisatyaan sebagai industri sebagaimana diatur UU Kepariwisataan, yang akan menyerap banyak lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan rakyat dan tentu saja mengembangkan budaya bukan sekadar komoditas tetapi pembentuk (formatio) jatidiri keindonesiaan dalam puincak-puncak budaya lokal (bdk. Koentjaraningrat, 1978).

Dengan tata kelola sperti ini, maka kita menyambut Sail Komodo 2013 bnukan sail kaum kapitalis pariwisata atau birokrat elitis yang meminggirkan rakyat. Sail Komodo harus menjadi 'Sail NTT' bahkan 'Sail Indonesia'. Usulan biaya  Rp 3 miliar dari APBD NTT atau juga Rp 68,1 miliar dari APBN tahun 2013 (Pos Kupang, 11/9/2011) seharusnya menjadi investasi ekonomi pariwisata berbasis kawasan strategis pemasaran. Jika pelembagaan subsistem-subsistem kepariwisataan ini sudah dilakukan dengan perilaku manajemen yang transparan, demokratis dan akuntabel,  maka sail Komodo tidak akan jatuh ke tangan tengkulak dan broker yang mematikan kreativitas ekonomi kerakyatan.

Dan, program unggulan 'Anggur Merah' (Anggaran Untuk Rakyat Menuju Sejahtera) Gubernur Frans Lebu Raya akan sangat terdukung. Apa yang menjadi komitmen PDI Perjuangan awal penyusunan UU Kepariwisataan yang bertekad mengentas kemiskinan, menciptakan lapangan kerja baru, memandirikan ekonomi rakyat, kepariwisataan sebagai industri unggulan, dan menghidupkan kerja sama berbagai stakehorlders pariwisata, maka tekad Gubernur Frans Lebu Raya ke depan akan semakin nyata menciptakan "NTT Baru" yang sejahtera-bahagia. (habis)
Editor: sipri_seko
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
82281 articles 14 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas