• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 17 September 2014
Pos Kupang

Doa untuk Pahlawan

Minggu, 30 September 2012 21:48 WITA
Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda

RENCANANYA
, besok malam akan diadakan doa bersama mengenang para pahlawan yang tewas pada 30 September 1965. Sebagaimana dicatat sejarah enam jenderal  dan beberapa orang lainnya dibunuh dalam upaya kudeta. Perlu disebutkan lagi nama-nama mereka, Panglima Angkatan Darat Letjen TNI Ahmad Yani, Mayjen TNI R. Suprapto, Mayjen TNI M.T. Haryono, Mayjen TNI Siswondo Parman, Brigjen TNI DI Panjaitan, Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo. Selain enam jenderal ini juga akan didoakan segenap pahlawan yang telah gugur membela negara.

                            ***
"Siapa lagi yang tewas pada waktu itu?"

"Sebenarnya, Jenderal TNI A.H. Nasution, tetapi beliau selamat. Yang tewas adalah    putrinya Ade Irma Suryani Nasution dan ajudan AH Nasution, Lettu Pierre Tandean juga tewas. Ada juga AIP Karel Satsuit Tubun, Brigjen Katamso Darmokusumo, dan Kolonel Sugiono. Sebagaimana yang kita rencanakan sejak lama, besok malam kita adakan doa bersama dengan membakar seribu batang lilin di Taman Makam Pahlawan," kata Nona Mia.

"Kamu tahu dari mana nama-nama jenderal, Ade Irma dan lain-lain itu. Apakah kamu ada pada saat kejadian? Kok kamu tahu semua?" Tanya Jaki.
                             ***
"Sejarah. Bukankah dari SD sudah diajarkan di sekolah? Bukankah di SMP juga sejarah negeri ini juga dipelajari? SMA juga, dan sudah jadi kewajiban kita untuk belajar sejarah dan tidak pernah melupakan sejarah."

"Aku sudah lupa semua yang kupelajari dulu. Lagi pula untuk apa repot-repot belajar sejarah? Apalagi pakai acara doa bersama untuk mengenang para pahlawan, yang tidak kita kenal sama sekali," sambung Jaki lagi.

"Kali ini engkau keliru, teman! Kita perlu pelajari masa lalu negeri kita ini.Kita harus tahu sejarah tanah air kita. Bukankah bangsa yang besar harus tahu sejarah dan pahlawannya?" Kata Rara.

"Tetapi saya malas ikut doa bersama. Besok saya ada pesta di kampung untuk urusan konsolidasi. Mau ingat minum moke, ja'i, poco-poco, goyang ke kiri kiri kiri ke kanan kanan kanan atau mau doa bersama?" Jawab Jaki sambil bergoyang ke kiri ke kanan.
"Maaf saya tidak ada waktu."
                                  ***

"Apakah kamu tidak tahu sejarah? Apakah kamu tidak tahu bahwa 1 Oktober hari...?"

"Hari apa? Hari bukan apa-apa, biasa-biasa saja, doa untuk apa?"

"Besok itu, hari kesaktian pancasila."

"Ooooh betul sudah. Saya jadi terkenang lapangan pancasila Ende tempat bermain pada masa kecil dulu," sambung Jaki.

"Ada patung Bung Karno di sana, patung kenangan bahwa Bung Karno merenung dan melahirkan konsep pancasila yang kemudian menjadi dasar negara kita, di Kota Ende."

"Ooooh betul sudah," sambung Jaki lagi. "Tetapi saya malas e, orang Ende saja tenang-tenang, tidak ada doa-doa buat pahlawan, tidak terlalu repot dengan hari kesaktian Pancasila yang jelas-jelas ide pancasila  lahir di Ende. Jadi buat apa kamu repot-repot?"

"Negara kesatuan RI kamu tahu bukan. Pancasila lahir di Ende untuk Indonesia. Para jenderal tewas di Jakarta adalah pahlawan Indonesia. Kemerdekaan dicetuskan di Jakarta untuk Indonesia. Jadi ini bukan soal Ende atau Jakarta, tetapi soal sejarah negara kita, soal kesaktian pancasila, soal para pahlawan yang telah gugur mendahului kita."

"Oooooh betul sudah," sambung Jaki lagi. ├┤Tetapi maaf sekali lagi. Besok saya ada pesta. Saya nantinya doa di dalam hati saja ya. Maaf. Apalagi yang hadir pesta besok ini teman-teman saya orang politik, para pejabat, tokoh-tokoh masyarakat. Biar bagaimana pun aku harus membangun relasi yang baik bukan? Siapa tahu aku juga bisa dapat posisi yang sesuai untuk pengembangan karier. Lagi pula, kenapa sih mesti repot-repot kenang-kenang sejarah? Yang sudah pergi biarlah pergi. Apalagi perginya sudah puluhan tahun yang lalu... Biar saja, kita mau urusan dengan kepentingan politik, suara, keberlangsungan kekuasaan, atau urus doa buat pahlawan? Maaf saja ya..."

                                 ***
"Begitulah Benza. Kami tidak bisa meyakinkan Jaki untuk ikut terlibat dalam acara doa dan renungan buat pahlawan besok malam. Dia lebih memilih pesta daripada ikut doa renungan untuk para pahlawan," demikian Nona Mia dan Rara menyampaikan kepada Benza ketua panitia doa untuk pahlawan.

"Selain Jaki siapa lagi yang kemungkinan tidak mau hadir?" Tanya Benza.

"Banyak!" Nona Mia menyebut satu persatu teman-temannya yang tidak mau hadir.
"Jangan harap terlalu banyak, Nona Mia," kata Benza selanjutnya. "Zaman sekarang ini orang terlalu sibuk dengan berbagai macam urusan perut, kepentingan, dan kekuasaan. Belum lagi urusan politik dengan segala macam tujuannya. Jaki salah satunya. Jadi biar saja."

"Tidak bisa Benza! Kita harus paksa Jaki supaya sadar, bahwa acara besok itu penting bagi kita. Suatu renungan untuk menggali motivasi, membangkitkan semangat sebagai warga negara, menanamkan tanggung jawab untuk menjadi warga negara yang peduli dan..." Rara  bicara berapi-api, tetapi disambut dengan tawa terbahak-bahak dari Benza.

"Sudahlah Rara, jangan emosi begitu. Para pahlawan juga tidak pernah minta kita doakan, tidak pernah meminta kita buat renungan kenangan, tidak pernah pula memaksa kita untuk belajar sejarah masa lalu. Tidak pernah!"

"Lalu kenapa kita harus repot-repot buat doa buat mereka. Apalagi repot-repot buat renungan kesaktian Pancasila?"

"Kitalah generasi muda yang masih hidup ini yang senantiasa mesti bertanggung jawab menumbuhkan semangat kebangsaan kita. Salah satu caranya adalah buat renungan doa buat pahlawan. Kita wajib mengambil waktu untuk konsolidasikan pikiran dan perasaan kita. Doa untuk pahlawan adalah salah satunya, sebagai ucapan syukur dan terima kasih..."

"Ooooh betul sudah!" Jaki yang baru datang langsung nyambung.

"Besok kamu ikut doa untuk pahlawan?" Tanya Benza.

"Setelah kupikir-pikir baik juga kalau aku ambil waktu bersama kalian semua untuk ikut
malam renungan doa buat pahlawan."

"Itu baru namanya teman kami," keempatnya bersalaman satu sama lain.

"Tetapi, setelah doa kita pergi pesta ya. Orang-orang pengaruh semua yang hadir pesta besok malam."

"Kita ajak sekalian mereka itu renungan doa buat pahlawan."
"Sudah kuajak tetapi tidak ada waktu." (*)
Editor: alfred_dama
Sumber: Pos Kupang
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
81271 articles 14 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas