Pos Kupang
Pelni Buka Lintasan Jayapura-Kupang (2)
Pos Kupang - Selasa, 18 September 2012 | 11:48 WITA
Share |
KM-Awu.jpg
Net
KM Awu, salah satu kapal milik Pelni yang melayani pelayaran di NTT
POS KUPANG.COM -- Kondisi geografis Provinsi NTT yang memiliki 1.192 buah pulau besar dan kecil memerlukan persediaan prasarana dan sarana perhubungan laut yang memadai. Apalagi wilayah lautan di NTT lebih luas dari daratan yaitu ± 200.000 km2. Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor : KM.53 Tahun 2002 tentang Tatanan Kepelabuhan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhan, di  Provinsi NTT ada 41 pelabuhan.

Pelabuhan tersebut meliputi Pelabuhan Utama (Pelabuhan Internasional) melayani angkutan dan alih muat dalam negeri dan internasional dalam jumlah besar. Pelabuhan jenis ini ada satu,  yaitu Pelabuhan Laut Tenau Kupang.

Pelabuhan Laut Tenau Kupang sebagai salah satu pelabuhan peti kemas untuk kegiatan ekspor dan impor di NTT secara bertahap terus dilakukan pembenahan dan pengembangan. Diharapkan ke depannya pengiriman barang ke luar negeri dapat secara langsung dari Pelabuhan Laut Tenau Kupang, dan tidak lagi melewati Surabaya sebagaimana yang terjadi sekarang ini.

Sejak Januari 2012, Pelabuhan Laut Tenau Kupang sudah dilengkapi fasilitas bongkar muat dengan System Computeries, yaitu satu unit Container Crane dan dua unit Ruber Tyre Gantry (RTG). Keberadaan alat ini dapat mempercepat kegiatan bongkar/muat yang semula dengan menggunakan Mobile Crane (Crane Darat) yang produksinya  7-8 box per jam.

Tapi sekarang produksinya meningkat menjadi 16-18 box per jam. Diharapkan dengan kehadiran alat ini dapat mengurangi permasalahan antrean kapal di Pelabuhan Tenau Kupang sebagaiman yang terjadi sebelumnya.

Pelayanan Pelabuhan Laut Tenau Kupang juga sudah memberlakukan pelayanan bongkar/muat barang dan peti kemas selama 24 jam. Fasilitas dermaga di pelabuhan ini empat buah di empat lokasi, yaitu Dermaga Multiguna, Nusantara, Lokal dan PELRA.

Dermaga Multiguna memiliki panjang 237,45 meter, lebar (I) 34,8 meter, lebar (II) 55 meter, luas dermaga 10.950 m2; konstruksi beton bertulang dengan kapasitas ± 3 ton/m2 dengan kedalaman di depan dermaga 19 LWS dan kekuatan design untuk kapal yang berbobobt mati ± 5.000 DWT.

Dermaga Nusantara memiliki panjang 223 meter, lebar (I) 15 meter, luas dermaga 3.345 m2, dengan konstruksi dermaga beton bertulang berkapasitas 3 ton/m2. Kedalaman di depan dermaga - 13,5 LWS dan  kekuatan/design untuk kapal yang berbobot mati 5.000 DWT.

Dermaga Lokal memiliki panjang 100 meter, lebar 16 meter, dengan luas dermaga 1.600 m2, konstruksi dermaga beton bertulang dengan kapasitas 1,5 ton/m2. Kedalaman di depan dermaga -7 LWS dan kekuatan design dermaga untuk kapal yang berbobot mati 2.000 DWT.

Sedangkan Dermaga PELRA memiliki panjang 50 meter, lebar (I) 10 meter dengan luas dermaga 500 m2 dan konstruksi dermaga beton bertulang dengan kapasitas 1,5 ton/m2. Kedalaman di depan dermaga - 4,5 LWS dan kekuatan design dermaga untuk kapal yang berbobot mati 700 DWT.

Di dermaga ini juga memiliki satu bangunan gudang, lapangan penumpukkan terdiri dari dua zona dermaga, yakni Dermaga Nusantara dan Dermaga Multiguna. Juga ada dua bangunan terminal penumpang, yakni penumpang (Sasando) dan penjemput/pengantar (Helong). Untuk pelayanan air kapal disediakan tiga bak penampung dengan kapasitas keseluruhan 870 ton.

Di dermaga ini juga memiliki genset berkekuatan 250 KVA, peralatan bongkar/muat terdiri dari container crane satu unit, Rubber Tyre Gantry (RTG) dua unit; Forklift kapasitas 5 ton satu unit, kapasitas 7 ton satu unit, kapasitas 10 ton satu unit; Crane darat berkapasitas 100 ton satu unit; Top Loader berkapasitas 60 ton satu unit dan Graper berkapasitas 800 Kg dua unit. Untuk pelayanan pemanduan ada dua kapal (kapal tunda, yakni Anoman I dengan kapasitas 1.000 PK x 2) dan kapal kepil /motor pandu berkapasitas 150 PK.
                                                           
Jadi 72 Pelabuhan
Ke depan, sebagai salah satu upaya pemerintah daerah ini mendukung MP3EI dan Sail Komodo 2013, yakni dilakukan pengembangan pelabuhan laut Tenau Kupang berupa pembangunan dermaga 100 meter.


Selain Pelabuhan Tenau Kupang, di NTT juga ada Pelabuhan Pengumpul (Pelabuhan Nasional) dengan skala pelayanan, yakni melayani angkutan dan alih muat dalam negeri dalam jumlah menengah antar provinsi. Pelabuhan jenis ini ada sembilan, yaitu Pelabuhan Laut Ende/Ippi, Larantuka, Labuan Bajo, Kalabahi, Maumere, Maritaing, Waingapu, Waiwadan dan Pelabuhan Laut Wini.

Selain pelabuhan utama dan pengumpul, juga ada Pelabuhan Pengumpan (Pelabuhan regional dan lokal) dengan skala pelayanan melayani angkutan dan  alih muat  dalam negeri dalam jumlah terbatas antar provinsi dan dalam provinsi (antar kabupaten).

Pelabuhan jenis ini  ada 31, yaitu Pelabuhan Laut Atapupu, Baranusa, Ba'a, Komodo, Marapokot, Reo, Seba, Waikelo, Wuring, Pelabuhan Laut Aimere, Biu, Batutua, Balauring, Boking, Kolona, Kabir, Lewoleba, Mborong, Maurole, Mbaing, Mananga, Nangalili, Ndao, Oeleba, Papele, Paitoko, Robek, Rua, Raijua dan Waiwerang.  Dari 31 pelabuhan pengumpan tersebut, yang belum ada existing (prasarana/fasilitas dermaga) ada tujuh pelabuhan laut, yaitu Pelabuhan Laut Aimere, Kolana, Kabir, Nangalili, Oelaba, Robek dan Paitoko.

Prasarana pelabuhan yang ada jumlahnya terus mengalami perubahan seiring adanya program pembangunan pelabuhan laut baru yang dialokasikan melalui dana APBN berdasarkan rencana pengembangan pelabuhan yang termuat dalam RTRW Provinsi NTT dan RTRW kabupaten/kota se NTT. Dalam review Rencana Induk Pelabuhan Nasional (Perubahan KM. 53 Tahun 2002) telah diusulkan penambahan dan peningkatan status pelabuhan (Pelabuhan Utama, Pengumpul, Pengumpan) di NTT untuk masuk dalam tatanan kepelabuhan nasional, yang sebelumnya berjumlah 41 pelabuhan menjadi 72 pelabuhan atau mengalami penambahan sebanyak 31 pelabuhan baru di NTT.

Dalam kurun waktu tahun 2010-2012,  ada 15  pembangunan pelabuhan baru, yaitu ada 13 pelabuhan umum, yaitu Pelabuhan Laut Pulau Palue (Sikka), Batu Tua (Rote Ndao), Wuring (Sikka), Naikliu (Kupang), Mamboro (Sumba Tengah), Nusantara Waingapu (Sumba Timur), Dulionong (Alor), Lewoleba (Lembata), Binanatu (Sumba Barat), Mbaing (Sumba Barat), Moru (Alor), Maurole (Ende) dan Kolbano (TTS);  dan dua pelabuhan rakyat, yaitu Pelra Nunbaun Sabu (Kota Kupang) dan Pelra Waingapu (Sumba Timur).

Secara operasional penyelenggaraan pelabuhan ini dilaksanakan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Perhubungan-Dirjen Perhubungan Laut yang ada di daerah-daerah (provinsi dan kabupaten/kota), yaitu Kantor Otoritas Pelabuhan (Wilker) ada lima dan sembilan Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP). Di Provinsi NTT terdapat lima pelabuhan yang diusahakan yang dikelola oleh BUMN (PT  PELINDO III Kupang), yaitu Pelabuhan Laut Tenau Kupang, Maumere, Waingapu, Ende/Ippi dan Kalabahi. Sedangkan sisanya dikelola oleh UPT/Satker di daerah.

Dalam rangka mendorong percepatan pembangunan dan peningkatan pelayanan jasa angkutan laut serta untuk memenuhi permintaan dan kebutuhan masyarakat akan pelayanan jasa angkutan laut ke daerah-daerah/wilayah-wilayah strategis/potensial dan daerah tertinggal serta wilayah perbatasan di NTT, saat ini telah dilayani oleh jaringan pelayanan angkutan laut, yakni angkutan laut pelayaran nasional (PT PELNI).

Untuk angkutan Laut PELNI, ada tujuh armada angkutan laut pelayaran nasional yang melayani dan menyinggahi beberapa pelabuhan di Provinsi NTT, yakni KM Bukit Siguntang, KM Sirimau, KM Awu, KM Wilis, KM Pangrango, KM Sabuk Nusantara 31, dan KM Tilong Kabila.

Dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat antara kedua daerah serta pengembangan ekonomi akan dibuka kembali trayek/lintasan pelayanan kapal penumpang Pelni: Jayapura-Biak-Manokwari-Sorong-Ambon-Kupang-Denpasar -Surabaya (PP). (*/kanis jehola/bersambung)

Editor : alfred_dama
Sumber : Pos Kupang