Pos Kupang
Ivan Nestroman Menyanyi Wartakan Budaya
Pos Kupang - Kamis, 23 Agustus 2012 | 10:22 WITA
Share |
Ivan-Nestroman-01.jpg
POS KUPANG/SER
DI KAFE ALPI--Ivan Nestroman menyanyi di Kafe Alpi Musik Kupang, Selasa (21/8/2012) malam
Berita Terkait
POS KUPANG.COM -- Hari jelang berganti malam. Selasa (21/8/2012), lampu-lampu jalan menerangi sejumlah ruas jalan di Kota Kupang.  Di salah satu sudut kota di Jalan Palapa, beberapa anak muda berdatangan dan berkumpul di halaman yang sudah ditata rapih, yakni di sekolah musik atau disebut Alpi Musik Studio.

Suasana seperti itu sudah biasa di tempat yang juga dirancang menjadi kafe itu. Namun hari itu  lebih spesial, karena acara live music dihadiri  seorang penyanyi terkenal Indonesia asal NTT,  Ivan Nestorman.  Ivan hadir di Kupang untuk menyanyi atas kerja sama Alpi Musik dengan Rumpu Rampe ink.

Waktu menunjukan pukul 19.00 Wita. Penyanyi berambut gimbal itu sudah berada di kafe itu. Ivan asyik ngobrol dengan beberapa seniman asal Kota Kupang, sambil menikmati kopi khas NTT. Pos Kupang bergabung dalam obrolan mereka, lalu lebih fokus berbincang  dengan penyanyi asal Manggarai itu untuk menanyakan sesuatu berkaitan dengan dunia musik yang digelutinya.

Apa misi Ivan dalam menjalankan profesinya sebagai penyanyi dan sering melakukan show di luar negeri?  "Bagi saya menyanyi itu mewartakan budaya dengan cara saya sendiri. Misalnya, saya punya latar belakang musik jazz, jadi saya bisa sampaikan dengan cara itu. Pesan-pesan budaya saya sampaikan lewat nyanyian. Sekarang banyak anak NTT yang tidak tahu pepatah-pepatah adat. Kalau di Manggarai ada yang namanya goet, itu harus diperkenalkan lagi. Saya memperkenalkan itu lewat lagu-lagu saya," tutur Ivan.

Selain untuk melestarikan dan memperkenalkan hal-hal yang berkaitan dengan budaya di NTT kepada generasi muda, Ivan juga fokus memperkenalkan budaya NTT lewat lagu-lagunya itu kepada orang-orang di luar negeri.

"Saya memang fokus memperkenalkan budaya-budaya di NTT lewat lagu-lagu yang saya nyanyikan kepada orang-orang di luar negeri. Memang lagu-lagu yang saya nyanyikan itu ada yang judulnya Bahasa Inggris, tetapi saya menggunakan motif-motif di NTT. Ada motif dolo-dolo, motif ja'i, tebe-tebe dan yang lainnya. Saya memperkenalkan sesuatu yang baru. Musik ja'i tetapi coba dibawakan secara lain. Ada unsur rege atau unsur jazznya, biar berbeda dengan yang lain. Karena saya sering bersinggungan dengan ke luar negeri. Kita menyampaikan musik yang konsepnya kita punya, tetapi harus sesuai dengan selera mereka (orang asing, Red)," kata Ivan.

Hal yang harus diperhatikan, demikian Ivan, kemasan albumnya harus bagus sehingga bisa diterima oleh orang-orang di luar negeri. Sedangkan salah satu ancaman bagi perkembangan musik dalam konteks luas, lanjutnya,  adalah bajakan.

Ivan juga terlibat aktif mempromosikan binatang purbakala Komodo di Sydney-Australia tahun 2011 lalu. Saat ini juga sedang melakukan  kampanye anti malaria di Indonesia dengan fokus wilayahnya NTT dan  Papua. Di NTT, yaitu Flores, Timor dan  Sumba.
Beberapa album milik Ivan, diproduksikan di luar negeri seperti di Belanda, sehingga harga jualnya juga cukup mahal. Namun  biasanya album karya Ivan diproduksi terbatas, paling banyak seribu keping.

Karena misinya untuk memperkenalkan budaya NTT, maka album-albumnya juga sering dibagikan  gratis kepada para duta-duta negara asing di Indonesia. "Di NTT khususnya di Flores, cukup banyak permintaan kepada saya untuk menyanyi. Kemarin sempat di Lamalera, Maumere, Ende, dan di Labuan Bajo. Saya juga mempelajari kebutuhan para penggemar di sana. Mereka meminta agar album saya disesuaikan dengan selera mereka," kata Ivan.

Menurut dia, untuk konteks NTT saat ini tren musik yang berkembang masih sebatas musik fungsional. Maksudnya, musik-musik itu hadir hanya untuk menjawab kebutuhan berjoget atau berdansa. Itu sebenarnya hal yang wajar, tetapi porsinya sudah terlalu besar.

Dalam misi lewat nyanyian, kata Ivan, pesan-pesan budaya menjadi hal yang selalu disampaikannya. "Sekarang  banyak anak atau generasi muda di NTT yang tidak tahu pepatah-pepatah yang berkaitan dengan budayanya. Kita harus memperkenal lagi dan saya memperkenalkan itu lewat lagu-lagu daerah NTT. Saya ingin musik di NTT membuat kita bangga dengan bahasa yang kita miliki. Selama ini saya ke luar negeri, selalau menyanyi dengan bahasa-bahasa yang ada di NTT. Itu yang membuat saya bangga," ujarnya.

Akhir-akhir ini, Ivan sering berkunjung ke Flores Timur dan Lembata. Menurut dia, itu dilakukan berkaitan dengan kegiatan kampanye.  "Saya kebetulan kampanye untuk membela orang Lamalera terkait ikan paus. Saya juga akan buat buku, akan dirilis bukunya itu berjudul Yesus dan Tiga Paus Gendut Lamalera. Buku itu ada unsur teologisnya dan dirilis bersamaan dengan DVD-nya nanti. Saya juga sering ke sana karena ada musik dolo-dolo yang begitu unik, khususnya dari Kedang. Panggilan ke sana semakin besar untuk menggali budaya-budaya yang nyaris punah," kata Ivan.

Bagi Ivan hal terpenting lainnya dalam mengemban misi mewartakan budaya lewat nyanyian, adalah mencari audiens yang berkualitas. Selain itu, harus bisa membedakan selera-selera penggemar. Karena lagu yang digemari oleh penggemar di satu daerah belum tentu digemari oleh penggemar di daerah lain.

Pada Selasa (21/8/2012) malam Ivan naik panggung menyanyi sekitar pukul 21.00 Wita sampai pukul 22.30 Wita. Mengenakan kaos oblong berwarna hitam dengan bawaannya sarung Ende, Ivan  menyanyi memukau penonton dan sesekali mengajak penonton bernyanyi serta menari.

Lagu-lagu dalam album berjudul Flores The Cape Of Flower, juga dinyanyikan. Album itu merupakan album baru yang disukai oleh para penggemar di Perancis.

Ivan malam itu membawakan 11  lagu. Diantaranya Dolo-dolo, Mai buru mai, World 7/8, Mori sembeng, Lui e, Mogi, Gego lau gego le, lagu Brasilia dan lagu berbahasa Inggris.

Dia tampil bersama beberapa pegelut musik di NTT, antara lain  Lory (keyboar), dan Yosi (bass). Band pembuka Ando And Friend, yang terdiri dari Made (gitar), Aris (gitar), Tado (bass), Farid dan Ando (vokal). Juga dihibur akustik klasik oleh Puput dan Sindy.

Hentakan musik, suara yang berenergi membuat penonton ikut bernyanyi dan bergoyang. Saking merasa terhibur, Ivan akhirnya harus menambahkan satu nomor lagu menjadi 11 lagu  dari rencana awal hanya membawakan 10 nomor lagu. Itu karena permintaan penonton yang berjumlah sekitar seratusan orang.

Setelah lagu penutup, Ivan harus melayani permintaan penggemarnya untuk berpose bersama. Ada yang meminta sharing dan berdiskusi tentang musik. Penggemar yang hadir saat itu, umumnya kelompok band di Kota Kupang dan komunitas pencinta musik. (servan mammilianus)

Editor : alfred_dama