AKBP Drs. M. Slamet, Bekerja Bersama, Sama-sama Bekerja
Pos Kupang - Senin, 20 Agustus 2012 | 21:08 WITA

Foto POS KUPANG/ALF
AKBP Drs. Mochammad Slamet,MM,MBA
POS KUPANG.COM -- Memimpin satuan kepolisian yang mencakup dua kabupaten dengan wilayah yang luas bukanlah hal mudah. Inilah yang tengah dijalankan oleh AKBP Drs. Mochammad Slamet,MM,MBA sebagai Kapolres Kupang.
Wilayah Polres Kupang mencakup Wilayah Kabupaten Kupang yang luas serta Kabupaten Sabu Raijua yang merupakan pulau yang berada di tengah Laut Sawu. Bukan itu saja, Polres Kupang meliputi wilayah perbatasan dengan Distrik Oekusi- Timor Leste.
Perhatian itu belum cukup sebab Polres Kupang juga merupakan wilayah penyanggah Kota Kupang dengan wilayah Kabupaten lain di NTT.
AKBP Drs. Mochammad Slamet,MM,MBA yang ditemui belum lama ini mengatakan, sudah menjadi kewajiban pihaknya untuk tetap menjaga keamanan dan ketertiban serta tetap menjaga pelayanan masyarakat meski dengan jumlah anggota yang terbatas untuk wilayah yang luas tersebut. Berikut petikan perbincangannya dengan Pos Kupang.
Anda memimpin Polres yang wilayahnya ada di dua kabupaten bahkan wilayah perbatasan. Bagaimana Anda mensinergikan sumber daya yang ada?
Melaksanakan tugas kepolisian di Polres Kupang cukup berat, mengingat luas wilayah yang sangat luas yang meliputi Kabupaten Kupang dan Kabupaten Sabu Raijua, yang jaraknya sangat jauh dan dipisahkan laut dengan jumlah personel yang sangat jauh dari ideal.
Untuk mengamankan dua kabupaten ini, jumlah anggota kita baru 733 personel, terdiri dari 15 Polsek dengan latar belakang pendidikan anggota yang 80 persen masih SMA, tentu saja untuk melaksanakan manajemen organisasi di kepolisian belum maksimal 100 persen. Inilah salah satu tantangan cukup berat saya selaku kapolres untuk membawahi organisasi Polres Kupang sesuai harapan masyarakat.
Namun hal tersebut tidak menjadi halangan buat saya dan seluruh anggota karena saya yakin dengan keterbatasan personel dan keterbatasan yang pendidikan anggota, kita bisa bersama-sama bekerja dan bekerja bersama-sama.
Anda mengatakan anggota Polres Kupang masih jauh dari jumlah ideal. Bagaimana Anda mengatur agar pelayanan tetap maksimal?
Kebetulan latar belakang pendidikan saya adalah manajemen sumber daya manusia dan manajemen bisnis untuk S2 dan saya bersyukur dibantu oleh Wakapolres yang berlatar pendidikan sudah sampai master hukum, jadi antara Kapolres dan Wakapolres untuk sudah melaksanakan kolaborasi manajemen Polres Kupang yang sangat handal.
Saya menguasai bidang manajemen dan pak Waka (Kompol Anton) menguasai bidang hukum sesuai dengan tugas pokok kepolisian yang nomor tiga adalah penegakan hukum. Tentu saja saya sangat bersyukur kepada Kapolda NTT yang sudah mempercayakan Kompol Anton untuk menjadi Waka saya.
Bagaimana Anda mentransfer pengetahuan dan pengalaman yang Anda miliki?
Setiap saat ada rapat staf, baik di tingkat polres maupun tingkat polsek, selalu kita memberikan pengetahuan bidang manajemen kepada seluruh anggota, khususnya Kapolsek, Kanit dan Kapospol. Manajemen dasar yang saya berikan paling tidak setiap anggota, setiap hari buat perencanaan kerja karena tanpa suatu perencanaan kerja saya yakin organisasi tidak akan berjalan dengan baik. Kemudian memerintahkan pejabat rendah seperti Kanit dan Kasubag untuk selalu mengorganisasikan apa yang sudah dikerjakan. Setelah diorganisir masing-masing Kanit selalu mengawasi pelaksanaan tugas-tugas yang sudah direncanakan. Dengan tugas-tugas yang sudah direncanakan setiap selesai jam kerja, masing-masing anggota selalu membuat laporan pelaksanaan tugas, baik secara perorangan, unit maupun sub.
Wilayah Polres Kupang juga berbatasan dengan Timor Leste. Bagaimana menjalankan tugas keamanan di wilayah tersebut?
Terkait wilayah Polres Kupang di perbatasan dengan negara lain, tentu saja tugas ini tidak bisa dilaksanakan sendiri. Di bidang keamanan, betul itu tugas kepolisian, tapi di wilayah perbatasan terkait dengan masalah pertahanan itu merupakan tugas TNI. Untuk wilayah Polres Kupang yang berbatasan dengan negara Timor Leste, itu di wilayah Polsek Amfoang Timur. Di sana ada Pospol kita, Pospol Oepoli. Di sana ada 16 anggota, 15 Bintara pendidikan perbatasan dan satu kepala Pospol.
Di sana hubungan TNI-Polri baik, harmonis untuk mengamanakan wilayah perbatasan, baik dari segi pertahanan maupun keamanan. Di samping kolaborasi hubungan yang baik antara TNI-Polri, tentu saja yang menjadi tantangan kita di lapangan khususnya kami Kepolisian, maka pemerintah daerah khususnya Kabupaten Kupang memberikan perhatian khusus kepada masyarakat di perbatasan.
Perhatian yang bagaimana?
Berdasarkan informasi penyelidikan dari TNI-Polri, banyak warga negara Indonesia dalam hal ini penduduk Kabupaten Kupang, tapi ber-KTP Timor Leste. Ini tentu saja kerawanan yang harus kita hadapi bersama, baik TNI-Polri maupun pemerintah daerah atau secara umum pemerintah RI. Karena berdasarkan bincang-bincang kita dengan masyarakat, program pemerintah RDTL di bidang pertanian itu sangat menyentuh masyarakat, seperti bantuan peralatan pertanian, bantuan bibit dan pupuk, itu sangat intens diberikan kepada warga di perbatasan.
Inilah yang memancing warga negara Indonesia yang berpenduduk Kabupaten Kupang di perbatasan ini berupaya memiliki KTP RDTL. Nah rawan kalau dibiarkan. Beberapa minggu setelah kembali dari Oepoli, sudah saya sampaikan juga kepada Dewan (DPRD Kabupaten Kupang), sampaikan kepada bupati dan kemarin ada tim dari Mabes Polri yang kebetulan dari staf Asisten Operasi Kapolri bersama BNP (masalah perbatasan) itu. Karena kalau hal tersebut dibiarkan akan menjadi masalah.
Bagaimana menjaga Kamtibmas di wilayah ini?
Program yang menjadi kebijakan bapak Kapolri sudah kita tindak lanjuti. Salah satu program yang terbaru adalah satu desa satu rumah Babinkamtibmas. Secara bertahap kita sudah bisa bekerja sama dengan masyarakat. Di Polres Kupang ini kita sudah bisa membentuk tiga rumah Babinkamtibmas yaitu Desa Oesao, Desa Baumata Utara dan Desa Manusak. Kemudian kita juga sudah dapat hibah tanah dan sedang dibangun rumah Babinkamtibmas oleh masyarakat di Amfoang Selatan.
Dalam tempo kurang lebih enam bulan, kita sudah membagun tiga, sedangkandua dalam proses. Tentu saja kesadaran masyarakat di Kabupaten Kupang dan diharapkan kesadaran masyarakat membina Kamtibmas di wilayah Kabupaten Kupang sudah sangat bagus. Mereka menyadari bahwa keamanan dan ketertiban itu bukan saja tugas polisi. Masyarakat juga sangat memahami bahwa keamanan itu juga, untuk bisa berhasil, diperlukan peran serta yang besar dari masyarakat.
Apa fungsi Rumah Babinkamtibmas?
Fungsinya adalah untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di desa, supaya tidak selalu diselesaikan secara yuridis formal, jangan ada masalah seperti masalah pohon si A yang dahannya miring ke rumah si B dibawa menjadi masalah pidana. Ini harapan dari pimpinan Polri agar setiap permasalahan yang sifatanya perdata atau pidana ringan itu bisa diselesaikan di tingkat desa dengan memberdayakan seluruh komponen masyarakat, baik tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh adat dengan difasilitasi oleh anggota Bhayangkara pembina kamtibmas yang ada di desa tersebut.
Tahun depan Kabupaten Kupang menggelar Pilkada. Bagaimana kesiapan Polres Kupang mengamankan hajatan domokrasi ini?
Persiapan pertama kita untuk personel cukup, kemudian kita sedang berkoordinasi dengan pemerintah daerah maupun KPU untuk mendapat jadwal pelaksanaan Pemilu Kada Kabupaten Kupang 2013 nanti. Dengan pemerintah daerah juga kita melakukan koordinasi karena terkait dengan anggaran pengamanan nanti yang kita butuhkan. Karena untuk pengamanan Pilkada yang sudah-sudah anggaran disediakan pemerintah daerah.
Terkait anggota Polres Kupang yang tewas dalam upaya penangkapan tersangka di Mapipa, Sabu. Apa perasaan Anda mengetahui anggota Anda meninggal denga cara sesadis itu?
Ya, tentu saja perasaan saya sangat hancur. Secara hubungan darah, saya tidak ada ikatan keluarga dengan saudara Bernadus Djawa (korban), tetapi selaku hubungan di Kepolisian, Bernadus Djawa adalah anak saya. Ketika mendapat laporan dari Kapolsek Sabu Barat bahwa salah satu anggota kita hilang pada upaya penangkapan pencuri ternak, tentu saja saya bersama pak Wakapolres memberikan petunjuk dan arahan agar bersama- sama mencari jejak, sehingga petunjuk dari saya bersama pak Waka itu tidak lebih dari 2 jam, korban sudah ditemukan dalam kondisi sangat mengenaskan, meninggal dengan banyak luka bacokan, tikaman dan luka pukulan benda keras. Kemudian kejadian tersebut saya laporkan kepada Pak Kapolda, kita diperintahkan segera turun ke lapangan.
Apa yang Anda lakukan setelah turun ke TKP?
Hari pertama di sana, kita belum melakukan apa-apa, karena saya bersama pak Wakapolres langsung ke rumah duka sambil menunggu anggota yang datang. Hari kedua kita lakukan pemakaman secara militer kemudian hari ketiga baru kita rencana olah TKP karena ada informasi delapan pelaku lain di desa itu. Lalu kita mulai proses pencarian para tersangka.
Anda mendengar anggota tewas dibunuh, Anda pasti emosional. Tapi Anda harus tetap profesional. Apa perintah Anda untuk anggota di lapangan saat itu?
Perintah saya saat itu adalah kita tetap melaksanakan tugas dengan baik, tetap berpedoman pada aturan hukum. Pada saat kita melakukan olah TKP untuk mendapati informasi mengenai para tersangka, kita selalu APP (arahan). Yang pertama adalah menjaga keselamatan, kemudian melaksanakan prosedur pengepungan dan penangkapan sesuai dengan SOP. Kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kalau ada ancaman, ada serangan, maka saya selalu tanamkan bahwa kita ini adalah Bhayangkara yang memegang Tri Brata dan Catur Prasetya, tidak bisa membiarkan pelanggaran hukum yang membahayakan keselamatan jiwa raga dan harta benda.
Perintah saya, kalau ada penyerangan, maka lakukan tindakan hukum yang tegas. Tetapi puji Tuhan, sampai saya kembali tidak ada satu butir peluru pun yang dikeluarkan, baik peluru tajam, peluruh karet maupun peluru hampa. Sampai kita kembali, kita bawa tersangka ke sini, kita sidik, kita gelar perkara dengan sekian tersangka dengan enam berkas. Dalam perjalanan empat berkas sudah P-21 dengan enam tersangka utama, kemudian dua berkas perkara dengan pelaku yang turut serta melakukan.
Anda bertugas di Ngada menangani kasus pembunuhan yang menjadi perhatian masyarakat, di Polres Kupang juga hal yang sama bahkan kali ini anggota yang dibunuh. Bagaimana perasaan Anda?
Memang cita-cita saya sejak kecil ini menjadi polisi, dan sebelum dilantik menjadi letnan dua, cita-cita saya hanya di bidang penegakan hukum, tentu saja di bidang reserse. Saya merasa bangga bila bisa mengungkap setiap kejadian. Tapi dari sisi yang lain, saya sangat sedih bila ada warga yang lain berusaha untuk mengaburkan suatu kasus, berusaha untuk membela mati-matian pelaku kejahatan yang tidak berperikemanusiaan. Terus terang menangani pembunuhan juga, secara manusiawi saya sudah jenuh, menangani kasus-kasus berdarah ini saya sudah jenuh. Tapi kejenuhan itu menjadi tantangan saya untuk selalu eksis, karena di mana pun kejahatan harus diungkap.
Anda sibuk dengan tugas-tugas di bidang keamanan. Apa yang Anda lakukan saat santai atau di luar jam dinas?
Hanya saja saya kalau di rumah, ngobrol-ngobrol dengan pak Waka. Pak Waka ini salah satu polisi yang spiritualnya cukup kuat, baik dari agama maupun spiritual antara pribadi dengan Tuhan. Menghadapi orang-orang yang berbuat jenuh, saya memohon pada Tuhan agar orang-orang yang membela pelaku kejahatan yang tidak berperikemanusiaan maka suatu saat dia sendiri mengalami, sehingga dia menangis pada Tuhan datangkan polisi yang profesional yang bisa mengungkap pelaku- pelaku.
Hobi Anda apa?
Saya hobinya doa. Saya kalau doa hanya minta Slamet Dunia Akhirat (D.A). Slamet DA ini bukan nama, tapi perjalanan spiritual saya sehngga saya menemukan Selamet Dunia Akhirat jadinya. Saya kalau refreshing hanya ajak ngobrol sama anak yang kecil, jadi kesempatan di rumah paling nonron TV acara olahraga karena dari olahraga itu saya bisa melihat sportivitas, kemudian kalau olahraga tidak ada, saya hobinya lihat di chanel- chanel seperti Planet Animal dan semacamnya, kalau sudah tidak ada jauh di rumah kita bersama pak Waka ngobrol-ngobrol diskusi.
Anda juga tinjau Polsek?
Kalau untuk tugas, saya hobinya jalan, cuma beberapa bulan ini kita vakum, jadi mungkin habis puasa ini kita jalan ke polsek- polsek.Untuk di Polres Kupang ini Polsek terjauh saya sudah sampai, Sabu Barat, Sabu Timur, Hawu Mehara, kemudian di daratabn Timor yang dekat-dekat sudah sampai semua dan yang terjauh di Pos Oepoli saya sudah sampai bersama pak Waka, juga sekaligus olah TKP laka lantas bus yang empat orang meninggal dunia itu.
Dengan terakhir di Sabu, apakah Sabu sudah saatnya memiliki Polres sendiri?
Kalau melihat kondisi seperti itu, maka belum saatnya, karena kriminal yang terjadi di sana sebulan belum tentu ada lima kasus, jadi dengan Polsek yang ada saja seperti Polsek Sabu Timur, Sabu Barat dan Hawu Mehara sudah cukup. Cuma perlu kita tingkatkan saja, di Sabu Barat tipe polseknya sudah Polsek Urban, tinggal sarana Polsek dibesarkan, kemudian kekuatan personel sesuai Polsek Urban 115 sudah cukup, tidak perlu harus bentuk Polres karena dengan Polsek yang ada saja sudah cukup. Kriminalitas yang ada pun tidak terlalu menonjol, seperti kemarin di bidang penegakan hukum yang lain, seperti jaksa di sana kalau bisa dibentuk kejaksaan apabila dalam setahun minimal ada 115 kasus, ini sebulan saja belum tentu ada lima kasus. Jadi dengan progran Kapolri yang ada dengan Polsek Urban, penambahan personel, kolaborasi antara polisi dan masyarakat akan bisa dibentuk rumah Babinkamtibmas.
Bagaimana Anda memenej Polres Kupang dengan wilayah yang demikian luas. Bagaimana Anda mengatur anggota secara cepat menangani masalah?
Memang jarak cukup jauh, tapi itu tidak menjadi kendala kita memberikan komando. Kebetulan jaringan komunikasi sudah lancar dan beberapa bulan yang lalu kita sudah bekerja sama dengan Telkomsel. Jadi kita punya nomor HP yang disiapkan Telkomsel dan itu hanya khusus anggota Polri, itu memudahkan kita untuk berkomunikasi, tiap bulan kita lakukan rapat staf untuk meningkatkan profesionalisme kapolsek di bidang manajemen. Jadi yang jauh tidak menjadi kendala, yang penting kita bisa memberikan perintah atau komando kepada Kapolsek.
Anggota Polres Kupang banyak juga. Bagaimana Anda menjaga agar mereka tetap tertib dan disiplin?
Kebetulan saya ini termasuk orang yang cukup tertib, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun kehidupan organisasi. Dengan kebijaksanaan anggota harus disiplin, maka buat saya tidak asing lagi, karena semenjak saya jadi polisi dan diberikan kepercayaan menjabat, saya selalu mengajarkan kepada anggota untuk selalu disiplin. Pada bulan Januari dalam Rapat Teknis Kapolres di Labuan Bajo, Polres Kupang menduduki ranking pertama dalam hal banyaknya pelanggaran anggota.
Begitu saya pegang, triwulan pertama dan kedua, pelangaran anggota turun cukup banyak, yaitu lebih dari 40, maka pada triwilan kedua hanya tujuh kasus. Dalam hal disiplin saya cukup keras baik kepada perwira maupun bintara. Dan, untuk menegakkan disiplin saya punya terobosan walaupun itu tidak populer saya lakukan, seperti anggota mabuk itu pertama ditindak secara kepolisian, di depan apel saya lakukan tindakan agar dia jera. Kemudian dilakukan tindakan fisik yang lain, kemudian setiap apel pagi kita ucapkan Tribrata dan Catur Prasetya secara bergilir. Tri Brata dan Catur Prasetya itu kalimatnya pendek-pendek. Setiap Senin kita rapat staf, setiap hari Selasa kita bacakan Komitmen Moral Kepolisian Republik Indonesia dengan diikuti seluruh anggota. pelan-pelan anggota menyadari, walaupun ada anggota satu dua yang masih melanggar. (alfred dama)
Data Diri:
N a m a : Drs. Mochammad Slamet, MM, MBA
Tempat Tanggal Lahir: Yogyakarta, Januari 1965.
Jabatan Kini : Kapolres Kupang
Pangkat : Ajun Komisaris Besar Polisi
Pendidikan:
1. S D Th 1977.
2. SMP Th. 1981
3. SMA Th. 1984
4 Pasca Sarjana Tahun 2001
Pendidikan Kepolsian:
Akademi Kepolisian Tahun 1989
Pendidikan Tinggi Ilmu Kepolsian (PTIK) Th. 1999.
Sekolah Staf dan Pimpinan Polri Tahun 2007
Palan SERSE UM Th.1991.
Jabatan:
Kapolsekta Ps. Jambi SK 13 Januari 1995
Waka Den Provost Polda DI Yogyakarta SK 5 November 2001
Kapolres Ngada SK 16 Oktober 2009 Polda NTT
Kapolres Kupang SK 19 Oktober 2011 Polda NTT
Keluarga :
Istri : Reni Firnawati
Anak-anak : Chelsi Oksela (19 Tahun)
Metsi Septa Ilahi (16 Tahun)
Mikel Wisangani ( 3 Tahun)
Wilayah Polres Kupang mencakup Wilayah Kabupaten Kupang yang luas serta Kabupaten Sabu Raijua yang merupakan pulau yang berada di tengah Laut Sawu. Bukan itu saja, Polres Kupang meliputi wilayah perbatasan dengan Distrik Oekusi- Timor Leste.
Perhatian itu belum cukup sebab Polres Kupang juga merupakan wilayah penyanggah Kota Kupang dengan wilayah Kabupaten lain di NTT.
AKBP Drs. Mochammad Slamet,MM,MBA yang ditemui belum lama ini mengatakan, sudah menjadi kewajiban pihaknya untuk tetap menjaga keamanan dan ketertiban serta tetap menjaga pelayanan masyarakat meski dengan jumlah anggota yang terbatas untuk wilayah yang luas tersebut. Berikut petikan perbincangannya dengan Pos Kupang.
Anda memimpin Polres yang wilayahnya ada di dua kabupaten bahkan wilayah perbatasan. Bagaimana Anda mensinergikan sumber daya yang ada?
Melaksanakan tugas kepolisian di Polres Kupang cukup berat, mengingat luas wilayah yang sangat luas yang meliputi Kabupaten Kupang dan Kabupaten Sabu Raijua, yang jaraknya sangat jauh dan dipisahkan laut dengan jumlah personel yang sangat jauh dari ideal.
Untuk mengamankan dua kabupaten ini, jumlah anggota kita baru 733 personel, terdiri dari 15 Polsek dengan latar belakang pendidikan anggota yang 80 persen masih SMA, tentu saja untuk melaksanakan manajemen organisasi di kepolisian belum maksimal 100 persen. Inilah salah satu tantangan cukup berat saya selaku kapolres untuk membawahi organisasi Polres Kupang sesuai harapan masyarakat.
Namun hal tersebut tidak menjadi halangan buat saya dan seluruh anggota karena saya yakin dengan keterbatasan personel dan keterbatasan yang pendidikan anggota, kita bisa bersama-sama bekerja dan bekerja bersama-sama.
Anda mengatakan anggota Polres Kupang masih jauh dari jumlah ideal. Bagaimana Anda mengatur agar pelayanan tetap maksimal?
Kebetulan latar belakang pendidikan saya adalah manajemen sumber daya manusia dan manajemen bisnis untuk S2 dan saya bersyukur dibantu oleh Wakapolres yang berlatar pendidikan sudah sampai master hukum, jadi antara Kapolres dan Wakapolres untuk sudah melaksanakan kolaborasi manajemen Polres Kupang yang sangat handal.
Saya menguasai bidang manajemen dan pak Waka (Kompol Anton) menguasai bidang hukum sesuai dengan tugas pokok kepolisian yang nomor tiga adalah penegakan hukum. Tentu saja saya sangat bersyukur kepada Kapolda NTT yang sudah mempercayakan Kompol Anton untuk menjadi Waka saya.
Bagaimana Anda mentransfer pengetahuan dan pengalaman yang Anda miliki?
Setiap saat ada rapat staf, baik di tingkat polres maupun tingkat polsek, selalu kita memberikan pengetahuan bidang manajemen kepada seluruh anggota, khususnya Kapolsek, Kanit dan Kapospol. Manajemen dasar yang saya berikan paling tidak setiap anggota, setiap hari buat perencanaan kerja karena tanpa suatu perencanaan kerja saya yakin organisasi tidak akan berjalan dengan baik. Kemudian memerintahkan pejabat rendah seperti Kanit dan Kasubag untuk selalu mengorganisasikan apa yang sudah dikerjakan. Setelah diorganisir masing-masing Kanit selalu mengawasi pelaksanaan tugas-tugas yang sudah direncanakan. Dengan tugas-tugas yang sudah direncanakan setiap selesai jam kerja, masing-masing anggota selalu membuat laporan pelaksanaan tugas, baik secara perorangan, unit maupun sub.
Wilayah Polres Kupang juga berbatasan dengan Timor Leste. Bagaimana menjalankan tugas keamanan di wilayah tersebut?
Terkait wilayah Polres Kupang di perbatasan dengan negara lain, tentu saja tugas ini tidak bisa dilaksanakan sendiri. Di bidang keamanan, betul itu tugas kepolisian, tapi di wilayah perbatasan terkait dengan masalah pertahanan itu merupakan tugas TNI. Untuk wilayah Polres Kupang yang berbatasan dengan negara Timor Leste, itu di wilayah Polsek Amfoang Timur. Di sana ada Pospol kita, Pospol Oepoli. Di sana ada 16 anggota, 15 Bintara pendidikan perbatasan dan satu kepala Pospol.
Di sana hubungan TNI-Polri baik, harmonis untuk mengamanakan wilayah perbatasan, baik dari segi pertahanan maupun keamanan. Di samping kolaborasi hubungan yang baik antara TNI-Polri, tentu saja yang menjadi tantangan kita di lapangan khususnya kami Kepolisian, maka pemerintah daerah khususnya Kabupaten Kupang memberikan perhatian khusus kepada masyarakat di perbatasan.
Perhatian yang bagaimana?
Berdasarkan informasi penyelidikan dari TNI-Polri, banyak warga negara Indonesia dalam hal ini penduduk Kabupaten Kupang, tapi ber-KTP Timor Leste. Ini tentu saja kerawanan yang harus kita hadapi bersama, baik TNI-Polri maupun pemerintah daerah atau secara umum pemerintah RI. Karena berdasarkan bincang-bincang kita dengan masyarakat, program pemerintah RDTL di bidang pertanian itu sangat menyentuh masyarakat, seperti bantuan peralatan pertanian, bantuan bibit dan pupuk, itu sangat intens diberikan kepada warga di perbatasan.
Inilah yang memancing warga negara Indonesia yang berpenduduk Kabupaten Kupang di perbatasan ini berupaya memiliki KTP RDTL. Nah rawan kalau dibiarkan. Beberapa minggu setelah kembali dari Oepoli, sudah saya sampaikan juga kepada Dewan (DPRD Kabupaten Kupang), sampaikan kepada bupati dan kemarin ada tim dari Mabes Polri yang kebetulan dari staf Asisten Operasi Kapolri bersama BNP (masalah perbatasan) itu. Karena kalau hal tersebut dibiarkan akan menjadi masalah.
Bagaimana menjaga Kamtibmas di wilayah ini?
Program yang menjadi kebijakan bapak Kapolri sudah kita tindak lanjuti. Salah satu program yang terbaru adalah satu desa satu rumah Babinkamtibmas. Secara bertahap kita sudah bisa bekerja sama dengan masyarakat. Di Polres Kupang ini kita sudah bisa membentuk tiga rumah Babinkamtibmas yaitu Desa Oesao, Desa Baumata Utara dan Desa Manusak. Kemudian kita juga sudah dapat hibah tanah dan sedang dibangun rumah Babinkamtibmas oleh masyarakat di Amfoang Selatan.
Dalam tempo kurang lebih enam bulan, kita sudah membagun tiga, sedangkandua dalam proses. Tentu saja kesadaran masyarakat di Kabupaten Kupang dan diharapkan kesadaran masyarakat membina Kamtibmas di wilayah Kabupaten Kupang sudah sangat bagus. Mereka menyadari bahwa keamanan dan ketertiban itu bukan saja tugas polisi. Masyarakat juga sangat memahami bahwa keamanan itu juga, untuk bisa berhasil, diperlukan peran serta yang besar dari masyarakat.
Apa fungsi Rumah Babinkamtibmas?
Fungsinya adalah untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di desa, supaya tidak selalu diselesaikan secara yuridis formal, jangan ada masalah seperti masalah pohon si A yang dahannya miring ke rumah si B dibawa menjadi masalah pidana. Ini harapan dari pimpinan Polri agar setiap permasalahan yang sifatanya perdata atau pidana ringan itu bisa diselesaikan di tingkat desa dengan memberdayakan seluruh komponen masyarakat, baik tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh adat dengan difasilitasi oleh anggota Bhayangkara pembina kamtibmas yang ada di desa tersebut.
Tahun depan Kabupaten Kupang menggelar Pilkada. Bagaimana kesiapan Polres Kupang mengamankan hajatan domokrasi ini?
Persiapan pertama kita untuk personel cukup, kemudian kita sedang berkoordinasi dengan pemerintah daerah maupun KPU untuk mendapat jadwal pelaksanaan Pemilu Kada Kabupaten Kupang 2013 nanti. Dengan pemerintah daerah juga kita melakukan koordinasi karena terkait dengan anggaran pengamanan nanti yang kita butuhkan. Karena untuk pengamanan Pilkada yang sudah-sudah anggaran disediakan pemerintah daerah.
Terkait anggota Polres Kupang yang tewas dalam upaya penangkapan tersangka di Mapipa, Sabu. Apa perasaan Anda mengetahui anggota Anda meninggal denga cara sesadis itu?
Ya, tentu saja perasaan saya sangat hancur. Secara hubungan darah, saya tidak ada ikatan keluarga dengan saudara Bernadus Djawa (korban), tetapi selaku hubungan di Kepolisian, Bernadus Djawa adalah anak saya. Ketika mendapat laporan dari Kapolsek Sabu Barat bahwa salah satu anggota kita hilang pada upaya penangkapan pencuri ternak, tentu saja saya bersama pak Wakapolres memberikan petunjuk dan arahan agar bersama- sama mencari jejak, sehingga petunjuk dari saya bersama pak Waka itu tidak lebih dari 2 jam, korban sudah ditemukan dalam kondisi sangat mengenaskan, meninggal dengan banyak luka bacokan, tikaman dan luka pukulan benda keras. Kemudian kejadian tersebut saya laporkan kepada Pak Kapolda, kita diperintahkan segera turun ke lapangan.
Apa yang Anda lakukan setelah turun ke TKP?
Hari pertama di sana, kita belum melakukan apa-apa, karena saya bersama pak Wakapolres langsung ke rumah duka sambil menunggu anggota yang datang. Hari kedua kita lakukan pemakaman secara militer kemudian hari ketiga baru kita rencana olah TKP karena ada informasi delapan pelaku lain di desa itu. Lalu kita mulai proses pencarian para tersangka.
Anda mendengar anggota tewas dibunuh, Anda pasti emosional. Tapi Anda harus tetap profesional. Apa perintah Anda untuk anggota di lapangan saat itu?
Perintah saya saat itu adalah kita tetap melaksanakan tugas dengan baik, tetap berpedoman pada aturan hukum. Pada saat kita melakukan olah TKP untuk mendapati informasi mengenai para tersangka, kita selalu APP (arahan). Yang pertama adalah menjaga keselamatan, kemudian melaksanakan prosedur pengepungan dan penangkapan sesuai dengan SOP. Kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kalau ada ancaman, ada serangan, maka saya selalu tanamkan bahwa kita ini adalah Bhayangkara yang memegang Tri Brata dan Catur Prasetya, tidak bisa membiarkan pelanggaran hukum yang membahayakan keselamatan jiwa raga dan harta benda.
Perintah saya, kalau ada penyerangan, maka lakukan tindakan hukum yang tegas. Tetapi puji Tuhan, sampai saya kembali tidak ada satu butir peluru pun yang dikeluarkan, baik peluru tajam, peluruh karet maupun peluru hampa. Sampai kita kembali, kita bawa tersangka ke sini, kita sidik, kita gelar perkara dengan sekian tersangka dengan enam berkas. Dalam perjalanan empat berkas sudah P-21 dengan enam tersangka utama, kemudian dua berkas perkara dengan pelaku yang turut serta melakukan.
Anda bertugas di Ngada menangani kasus pembunuhan yang menjadi perhatian masyarakat, di Polres Kupang juga hal yang sama bahkan kali ini anggota yang dibunuh. Bagaimana perasaan Anda?
Memang cita-cita saya sejak kecil ini menjadi polisi, dan sebelum dilantik menjadi letnan dua, cita-cita saya hanya di bidang penegakan hukum, tentu saja di bidang reserse. Saya merasa bangga bila bisa mengungkap setiap kejadian. Tapi dari sisi yang lain, saya sangat sedih bila ada warga yang lain berusaha untuk mengaburkan suatu kasus, berusaha untuk membela mati-matian pelaku kejahatan yang tidak berperikemanusiaan. Terus terang menangani pembunuhan juga, secara manusiawi saya sudah jenuh, menangani kasus-kasus berdarah ini saya sudah jenuh. Tapi kejenuhan itu menjadi tantangan saya untuk selalu eksis, karena di mana pun kejahatan harus diungkap.
Anda sibuk dengan tugas-tugas di bidang keamanan. Apa yang Anda lakukan saat santai atau di luar jam dinas?
Hanya saja saya kalau di rumah, ngobrol-ngobrol dengan pak Waka. Pak Waka ini salah satu polisi yang spiritualnya cukup kuat, baik dari agama maupun spiritual antara pribadi dengan Tuhan. Menghadapi orang-orang yang berbuat jenuh, saya memohon pada Tuhan agar orang-orang yang membela pelaku kejahatan yang tidak berperikemanusiaan maka suatu saat dia sendiri mengalami, sehingga dia menangis pada Tuhan datangkan polisi yang profesional yang bisa mengungkap pelaku- pelaku.
Hobi Anda apa?
Saya hobinya doa. Saya kalau doa hanya minta Slamet Dunia Akhirat (D.A). Slamet DA ini bukan nama, tapi perjalanan spiritual saya sehngga saya menemukan Selamet Dunia Akhirat jadinya. Saya kalau refreshing hanya ajak ngobrol sama anak yang kecil, jadi kesempatan di rumah paling nonron TV acara olahraga karena dari olahraga itu saya bisa melihat sportivitas, kemudian kalau olahraga tidak ada, saya hobinya lihat di chanel- chanel seperti Planet Animal dan semacamnya, kalau sudah tidak ada jauh di rumah kita bersama pak Waka ngobrol-ngobrol diskusi.
Anda juga tinjau Polsek?
Kalau untuk tugas, saya hobinya jalan, cuma beberapa bulan ini kita vakum, jadi mungkin habis puasa ini kita jalan ke polsek- polsek.Untuk di Polres Kupang ini Polsek terjauh saya sudah sampai, Sabu Barat, Sabu Timur, Hawu Mehara, kemudian di daratabn Timor yang dekat-dekat sudah sampai semua dan yang terjauh di Pos Oepoli saya sudah sampai bersama pak Waka, juga sekaligus olah TKP laka lantas bus yang empat orang meninggal dunia itu.
Dengan terakhir di Sabu, apakah Sabu sudah saatnya memiliki Polres sendiri?
Kalau melihat kondisi seperti itu, maka belum saatnya, karena kriminal yang terjadi di sana sebulan belum tentu ada lima kasus, jadi dengan Polsek yang ada saja seperti Polsek Sabu Timur, Sabu Barat dan Hawu Mehara sudah cukup. Cuma perlu kita tingkatkan saja, di Sabu Barat tipe polseknya sudah Polsek Urban, tinggal sarana Polsek dibesarkan, kemudian kekuatan personel sesuai Polsek Urban 115 sudah cukup, tidak perlu harus bentuk Polres karena dengan Polsek yang ada saja sudah cukup. Kriminalitas yang ada pun tidak terlalu menonjol, seperti kemarin di bidang penegakan hukum yang lain, seperti jaksa di sana kalau bisa dibentuk kejaksaan apabila dalam setahun minimal ada 115 kasus, ini sebulan saja belum tentu ada lima kasus. Jadi dengan progran Kapolri yang ada dengan Polsek Urban, penambahan personel, kolaborasi antara polisi dan masyarakat akan bisa dibentuk rumah Babinkamtibmas.
Bagaimana Anda memenej Polres Kupang dengan wilayah yang demikian luas. Bagaimana Anda mengatur anggota secara cepat menangani masalah?
Memang jarak cukup jauh, tapi itu tidak menjadi kendala kita memberikan komando. Kebetulan jaringan komunikasi sudah lancar dan beberapa bulan yang lalu kita sudah bekerja sama dengan Telkomsel. Jadi kita punya nomor HP yang disiapkan Telkomsel dan itu hanya khusus anggota Polri, itu memudahkan kita untuk berkomunikasi, tiap bulan kita lakukan rapat staf untuk meningkatkan profesionalisme kapolsek di bidang manajemen. Jadi yang jauh tidak menjadi kendala, yang penting kita bisa memberikan perintah atau komando kepada Kapolsek.
Anggota Polres Kupang banyak juga. Bagaimana Anda menjaga agar mereka tetap tertib dan disiplin?
Kebetulan saya ini termasuk orang yang cukup tertib, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun kehidupan organisasi. Dengan kebijaksanaan anggota harus disiplin, maka buat saya tidak asing lagi, karena semenjak saya jadi polisi dan diberikan kepercayaan menjabat, saya selalu mengajarkan kepada anggota untuk selalu disiplin. Pada bulan Januari dalam Rapat Teknis Kapolres di Labuan Bajo, Polres Kupang menduduki ranking pertama dalam hal banyaknya pelanggaran anggota.
Begitu saya pegang, triwulan pertama dan kedua, pelangaran anggota turun cukup banyak, yaitu lebih dari 40, maka pada triwilan kedua hanya tujuh kasus. Dalam hal disiplin saya cukup keras baik kepada perwira maupun bintara. Dan, untuk menegakkan disiplin saya punya terobosan walaupun itu tidak populer saya lakukan, seperti anggota mabuk itu pertama ditindak secara kepolisian, di depan apel saya lakukan tindakan agar dia jera. Kemudian dilakukan tindakan fisik yang lain, kemudian setiap apel pagi kita ucapkan Tribrata dan Catur Prasetya secara bergilir. Tri Brata dan Catur Prasetya itu kalimatnya pendek-pendek. Setiap Senin kita rapat staf, setiap hari Selasa kita bacakan Komitmen Moral Kepolisian Republik Indonesia dengan diikuti seluruh anggota. pelan-pelan anggota menyadari, walaupun ada anggota satu dua yang masih melanggar. (alfred dama)
Data Diri:
N a m a : Drs. Mochammad Slamet, MM, MBA
Tempat Tanggal Lahir: Yogyakarta, Januari 1965.
Jabatan Kini : Kapolres Kupang
Pangkat : Ajun Komisaris Besar Polisi
Pendidikan:
1. S D Th 1977.
2. SMP Th. 1981
3. SMA Th. 1984
4 Pasca Sarjana Tahun 2001
Pendidikan Kepolsian:
Akademi Kepolisian Tahun 1989
Pendidikan Tinggi Ilmu Kepolsian (PTIK) Th. 1999.
Sekolah Staf dan Pimpinan Polri Tahun 2007
Palan SERSE UM Th.1991.
Jabatan:
Kapolsekta Ps. Jambi SK 13 Januari 1995
Waka Den Provost Polda DI Yogyakarta SK 5 November 2001
Kapolres Ngada SK 16 Oktober 2009 Polda NTT
Kapolres Kupang SK 19 Oktober 2011 Polda NTT
Keluarga :
Istri : Reni Firnawati
Anak-anak : Chelsi Oksela (19 Tahun)
Metsi Septa Ilahi (16 Tahun)
Mikel Wisangani ( 3 Tahun)
Editor : alfred_dama
Sumber : Pos Kupang